
Aura sudah bersiap di kamarnya. Ia mengenakan gaun berwarna pink dibawah lutut yang tidak terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ia sudah berjanji pada Rendra untuk tidak mengenakan pakaian seksi. Dengan begitu, saat pertemuan dengan kliennya nanti, Aura akan mengembalikan gaun seksi tersebut dan meminta maaf tidak bisa mengenakannya. Aura juga akan minta maaf atas kejadian beberapa hari lalu yang tidak bisa menemani kliennya itu.
Aura keluar dari rumahnya, dan di depan rumah, mobil Rendra sudah terparkir dengan sempurna. Rendra mengamati penampilan kekasihnya. Memandangi wanita itu lekat-lekat.
"Terlalu cantik. Harusnya kau tidak usah berdandan dan pakai saja gaun yang panjangnya sampai mata kaki," kesal Rendra sambil memuji Aura.
"Jangan cemberut gitu. Lagian nanti kau pun akan mengawasi ku."
"Huh! Kalau sampai pria itu berani menyentuh walau sehelai rambut mu akan aku patahkan tangannya!" geram Rendra.
"Aku tidak ingin punya kekasih seorang kriminal," ucap Aura untuk meredakan emosi Rendra.
"Ayo berangkat. Dia sudah menunggu di club."
Dengan rasa kesal di hatinya, Rendra pun melajukan mobilnya dengan pelan. Sangat pelan sekali sampai-sampai banyak mobil yang sudah menyalip mobil Rendra. Aura hanya bisa menghela napas saja melihat kelakuan Rendra itu. Percuma saja ia bicara, pasti Rendra tidak akan menanggapinya.
Aura sampai di club dengan mendapatkan tatapan tajam dari Mami Lena. Aura sudah terlambat hampir tiga puluh menit.
"Maaf aku terlambat mami, tadi di jalan sangat macet," alibi Aura memberi alasan. Padahal semuanya karena Rendra.
"Ya sudah, sana temui Tuan Albert dia sudah menunggumu di ruang VIP."
"Baik Mami."
Aura pun berjalan ke ruangan itu dan masuk ke sana. Tentu saja ia diikuti Rendra dari belakang. Mendengar Aura akan ke ruangan VIP tentunya Rendra juga menyewa tempat disana. Karena hanya orang-orang beruang lah yang bisa masuk kesana.
Albert melambaikan tangannya ketika melihat Aura. Laki-laki itu mempersilahkan Aura untuk duduk di sebelahnya. Disana tidak hanya ada Albert saja, rupanya laki-laki itu membawa dua orang temannya dan temannya juga menyewa wanita bayaran untuk menemani minum mereka.
Sebuah paper bag Aura kembalikan kepada Albert.
"Maaf, aku tidak bisa menerima dan memakai gaun ini," ujar Aura.
Albert sebenarnya kesal dan ingin marah. Namun, itu sangat tidak mungkin, citranya akan buruk di hadapan kedua teman bisnisnya. Jadi, Albert hanya mengangguk dan menerima lalu menaruhnya di samping sofa.
"Wah, Albert kau beruntung sekali bisa menyewa wanita bayaran seperti itu. Mana kulitnya putih, mulus lagi," ucap salah satu temannya.
"Haha, iya dong. Memangnya kalian yang asal-asalan pilih," canda Albert.
"Ya, mungkin setelah kau selesai menyewanya kau juga akan menyewa wanita yang bersamamu. Boleh kan cantik?" laki-laki itu sedikit mendekat ke aura dan berusaha mencolek dagu Aura. Namun dengan cepat Aura segera menjauh.
Hampir saja Rendra akan berlari ke arah Aura dan menghajar laki-laki itu.
Tenang Rendra! Tenanglah.
Rendra menenangkan hatinya sendiri sambil mengelus dadanya.
"Hahaha, dia ini wanita istimewa. Jadi mana boleh disentuh olehmu. Bagus Au. Kau memang harus begitu."
__ADS_1
Albert tertawa begitu senangnya. Ia yakin Aura benar-benar masih suci.
"Kau mau minum apa Au? Biar aku pesankan," tawar Albert.
"Wine," jawab Aura.
"Baiklah."
Setelah itu Albert memanggil pelayan untuk membawakan pesanan Aura. Tak lupa ia juga memberikan kode pada pelayan itu untuk memasukan obat perangsang.
Aura menemani Albert yang asik mengobrol dengan teman-temannya. Ia agak sedikit merasa bosan karena hanya duduk diam. Berbeda dengan dua wanita bayaran yang menemani teman Albert, keduanya melakukan tugasnya yaitu merayu-rayu laki-laki itu dengan sentuhan-sentuhan nakal.
Aura sampai bergidik rasanya. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana jadinya jika ia seperti kedua wanita itu. Mungkin ia akan merasa dirinya hina di tempat yang hina. Setidaknya sekarang ia masih suci walau di tempat yang hina.
Minuman yang Aura inginkan pun sudah datang. Albert mempersilahkan Aura untuk meminumnya. Dengan senang hati Aura minum.
Bagus! Minumlah sampai habis! Dengan begitu efek obatnya akan cepat bekerja.
Albert tersenyum menunggu reaksi Aura selanjutnya.
Aura masih belum merasakan apapun di tubuhnya. Ia bahkan tidak meminum sampai habis wine itu.
"Habiskan saja Au. Nanti kalau kurang, aku pesankan lagi."
Aura menggeleng, seolah menjawab tidak, tidak perlu.
"Kau kenapa Au?" tanya Albert yang pura-pura tidak tahu.
"Sepertinya kepalaku pusing."
"Mau istirahat sebentar di kamar? Aku akan mengantarmu ke kamar yang aku sewa disini," tawar Albert.
Aura menggeleng.
"Tidak usah, paling sebentar lagi juga pusingnya akan hilang. Aku disini saja," tolak Aura.
"Baiklah."
Sepertinya obatnya belum bekerja. Tunggu saja, setelah obatnya bekerja aku jamin kau akan kepanasan Aura dan kau pasti membutuhkan aku, haha.
Menit demi menit telah berlalu, dua teman Albert pun sudah masuk ke dalam kamar untuk menuntaskan hasratnya pada wanita bayaran mereka. Berbeda dengan Albert yang masih duduk menunggu efek obat bereaksi di dalam tubuh Aura.
"Panas, panas."
"Kau kenapa Au?" tanya Albert sambil menyentuh bahu Aura.
Rendra yang berada tidak jauh dari Albert dan Aura tangannya sudah mengepal. Ia sudah siap melayangkan tinjunya.
__ADS_1
"Ayo aku bantu untuk menghilangkan rasa panas itu," ucap Albert lagi lalu memeluk bahu Aura dan mengajak Aura untuk berdiri dan berjalan.
Tiba-tiba Rendra dari belakang menarik pakaian yang dikenakan oleh Albert. Lalu memukul laki-laki itu dengan membabi buta.
"Dasar keparat! Beraninya kau menyentuh wanitaku!"
Bug! Bug!
Aura yang melihat perkelahian itu, jadi tidak tenang takut terjadi hal buruk ada Rendra. Alhasil ia menarik Rendra untuk pergi saja dari sana.
"Sudah, sudah Ren. Tubuhku rasanya panas. Ayo pergi saja!"
Rendra pergi dengan tatapan tajam kepada Albert. Sementara laki-laki itu sudah babak belur di wajahnya, serta tangannya yang seperti patah ulah Rendra.
"Panas Ren panas!" ucap Aura.
"Panas? Perasaan udaranya dingin Au," ucap Rendra yang belum mengerti situasi.
"Ren, tolong bantu aku!" ucap Aura yang makin membuat Rendra bingung.
"Bantu apa?"
Tanpa aba-aba Aura justru langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Rendra. Rendra terbelalak tidak percaya. Dan sedetik itu juga ia mengerti panas apa yang dimaksud oleh Aura. Tangan Rendra mengepal sangat keras. Ia benar-benar tidak akan membiarkan Albert hidup dengan tenang.
Takut akan apa yang terjadi selanjutnya, Rendra pun menghentikan ciuman itu. Dan langsung menggendong Aura ala karung beras dan memasukan aura ke dalam mobilnya serta memakaikan sabuk pengaman pada Aura.
Di perjalanan, Aura tidak bisa diam, ia terus meracau panas panas dan panas dan ingin dibantu oleh Rendra. Bahkan Aura sampai menyentuh tubuh Rendra dengan sentuhan halusnya.
"Arg! Sial! Aura tolong kondisikan tanganmu!" ujar Rendra ketika tangan Aura mulai akan menyentuh tubuh Rendra bagian bawah.
Gawat! Ini benar-benar gawat!
Mendapatkan teriakan dari Rendra itu bukannya semakin berhenti, Aura justru malah semakin menjadi dengan membuka resleting gaunnya di belakang dan hendak menurunkannya.
Rendra langsung mencegah hal itu dengan memegang gaun Aura dengan salah satu tangannya. Rasanya situasi saat ini benar-benar sungguh menakutkan bagi Rendra.
Untung saja, ia sudah sampai di resort miliknya dan buru-buru keluar dan mengangkat Aura di gendongannya. Tentunya dengan ditutupi oleh kemeja yang ia kenakan.
Lagi-lagi Aura memberikan sentuhan pada dada Rendra.
Sial! Bisa gila aku! Argh! Aura tolong jangan begini!
Jerit Rendra dalam hatinya. Meski ia mencintai Aura, ia sungguh sangat menghargai wanita dan kehormatannya.
*
*
__ADS_1
TBC