
Esok harinya, Ansel terbangun dengan Sena yang sudah ada di samping tempat tidurnya. Keduanya sama-sama polos tak mengenakan apapun. Ansel jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Meskipun bukan untuk pertama kalinya, tetap saja rasanya seperti pertama kalinya. Bahkan ia merasa sangat senang melihat wajah bersemu merah yang diperlihatkan oleh Sena.
Ansel mengecup kening Sena, lalu mengelus rambutnya pelan. Sena menggeliat dan langsung memeluk Ansel.
Deg!
Jantung Ansel jedag-jedug seperti ada kembang api yang dinyalakan. Rasanya gairahnya kembali naik, apalagi ia bisa merasakan dua buah dada itu menyentuh dada bidangnya.
Ya Tuhan! Aku tidak mau jadi orang yang menuntaskan hasrat ada wanita yang tengah tertidur. Astaga! Sena kau benar-benar ya! Awas saja kalau kau bangun! Aku akan menerkam mu hingga kau tak bisa pergi dari kamar.
Keringat dingin mulai menyelimuti dahi Ansel. Bahkan sesekali ia meneguk ludahnya sendiri karena Manahan gairah yang terlalu lama. Ansel bahkan mengacak-acak rambutnya karena Sena tak kunjung bangun.
Alhasil, karena tak kuat, Ansel mencium bibir Sena. Lalu mendapatkan balasan juga dari Sena
Kau mimpi apa hm? pikir Ansel di dalam hatinya.
Setelah puas menc*mbu bibir Sena. Ansel merubah posisinya menaiki tubuh Sena. Ia mulai mencium setiap inci wajah Sena hingga membuat Sena terbangun karena sentuhan Ansel itu.
"Akhirnya kau bangun juga wanita nakal," ucapnya sambil tersenyum miring.
Gluk!
Sena menelan ludahnya. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Ansel.
Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku kan tadi tertidur.
"Ayo kita lakukan yang semalam lagi sayang. Kita harus lebih dulu punya anak sebelum Rendra dan Aura," ajaknya.
"Kau ini! Anak itu bukan ajang untuk berkompetisi tahu."
"Iya aku tahu. Tapi memang salah kalau aku ingin segera punya anak?"
Sena menggeleng.
"Ya, tidak salah sih."
"Nah, makanya ayo kita buat. Aku sudah bergairah tahu. Lihat juniorku bahkan sudah berdiri dengan tegak!"
Gluk!
__ADS_1
Sena menelan ludahnya lagi. Namun, ia tak bisa menolak keinginan Ansel, karena ia pun menikmati sentuhan Ansel yang selalu memabukkan.
Alhasil keduanya melakukan hubungan suami istri lagi di pagi hari. Hingga membuat Denada dan Nicolas pun harus rela makan cuma berdua di meja makan. Bahkan pasangan suami istri itu tahu kalau mereka tidak boleh mengganggu pasangan pengantin baru.
*
*
Beda lagi dengan Elnan, yang sudah cemberut di pagi hari. Ia merasa sedih karena tak bisa bertemu dengan Meira karena jadwalnya hari ini sangat padat. Begitu pun Meira yang sedang ada di luar kota menemani anak panti yang akan mengikuti kompetisi.
Elnan bahkan terus menarik napasnya karena saking sedih dan kecewanya. Ia bahkan seperti tak ada hasrat untuk melakukan apapun di hari itu. Untungnya, Rendra datang dan langsung menarik kakaknya untuk berangkat kerja.
"Cepat kak! Kita harus bertemu klien hari ini. Kalau sampai terlambat, bisa-bisa mereka akan langsung membatalkan kerjasamanya. Aku tidak mau sampai gagal. Karena ini adalah proyek yang aku inginkan selama ini."
"Iya, iya, kakak akan mandi dan ganti baju dulu!" jawabnya dengan pasrah.
Alhasil, Rendra pun duduk di sofa sambil menunggu kakaknya selesai bersiap.
Naya pun datang dan langsung duduk di samping anaknya.
"Kakakmu itu lagi galau, karena Meira tak ada di rumah. Mau menyusul pun ia tidak bisa. Makanya jadi kaya gitu."
"Maklum lah."
"Iya ma."
"Gimana apa Aura sudah ada tanda-tanda isi lagi?" tanya Naya.
Rendra berubah menjadi murung.
"Sepertinya belum ma. Masalahnya, sampai sekarang tidak ada tanda apapun. Kalau dulu, kan aku yang mengalami gejalanya. Jadi aku tahu."
"Mungkin belum rezeki. Yang sabar ya Ren. Mama yakin sebentar lagi Aura akan hamil."
"Iya ma. Aku juga berharap begitu."
Tak lama, Elnan pun sudah selesai bersiap dan mereka berdua pun langsung menuju ke lokasi pertemuan dengan mengunakan satu mobil.
Selesai bertemu dengan klien, keduanya langsung pergi ke kantor dan melakukan tugasnya masing-masing.
__ADS_1
Siang harinya, Aura datang ke kantor mengunjungi Rendra dan membawakan makan siang untuk suaminya. Rendra yang tahu istrinya datang pun langsung tersenyum senang. Sementara Elnan, hanya tersenyum kecut. Karena Meira tak bisa berkunjung menemuinya.
Duda satu tahun itu, seperti sudah tidak sabar untuk menyandang gelar suami dari Meira lagi. Bahkan kini ia sedang melakukan panggilan video dengan Meira karena iri. dengan kemesraan Rendra dan Aura.
"Kapan pulang?" tanya Elnan dengan wajah melasnya.
"Kalau tidak besok berarti lusa. Atau mungkin bisa saja beberapa hari lagi," jawab Meira.
"Kenapa lama sekali?"
"Ya, kan ada anak panti yang masuk final, makanya aku disini agak lama. Apalagi kalau dia masuk ke grand final, kemungkinan aku bisa lebih lama disini."
Hal itu membuat Elnan menghela napas. Ia berusaha untuk menahan rindu yang sudah tak bisa terbendung lagi. Bahkan baru juga 2 hari Meira disana.
"Aku rindu Mei."
Meira tersenyum mendengar kejujuran Elnan itu.
"Benarkah? Aku juga rindu," jawab Meira.
"Aih, kalau saja kau ada di depanku. Sudah aku cium juga bibirmu Mei."
"Hih! Dasar!"
"Biarin! Habis aku rindu tahu! Cepat pulang ya! Nanti kau pulang ke apartemenku saja."
"Iya, iya, sudah dulu ya, ada pertemuan antar peserta lomba. Aku mau menemani anak panti dulu."
"Iya, cium dulu tapi."
"Muachh."
Panggilan video itu pun berhenti dengan rasa rindu yang belum terobati.
"Bahkan ciuman jarak jauh itu tak terasa sama sekali. Haish!"
*
*
__ADS_1
TBC