Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 79 - Beri aku waktu


__ADS_3

Flashback on


Satu tahun silam, setelah mengetahui kehamilan Meira, Elnan yang ada di luar kota langsung terbang dari kota itu ke kota dimana Meira berada.


Sesampainya di rumah, Elnan terus mencium wajah Meira dan perut yang masih rata itu. Membuat Meira kegelian olehnya.


Tawa bahagia selalu menghiasi keduanya, hingga di usia kehamilan menginjak ke 8 minggu, Meira dinyatakan keguguran karena telah meminum pil penggugur kandungan. Mengetahui hal itu, Elnan jadi memarahi Meira.


"Kenapa? Kenapa kau malah menggugurkan anak kita Meira? Apa kau tidak ingin punya anak dariku? Coba jelaskan!"


"Hiks, hiks, aku tidak pernah minum pil apapun El. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku keguguran."


Meira menangis tersedu-sedu setelah kehilangan anaknya. Ia terus dimarahi oleh Elnan. Hingga hubungan keduanya renggang. Elnan pergi dari rumah dan Meira pun tinggal sendirian di apartemen. Tak ada satu pun dari mereka yang bercerita ke orang tua.


Lalu ketika Elnan sudah memenangkan diri dan introspeksi diri. Karena seharusnya ia menyemangati Meira yang keguguran bukannya meninggalkannya begitu saja. Sayangnya, ketika Elnan masuk ke dalam apartemen, Meira dengan berciuman dengan pria lain. Hal itu, membuat emosi Elnan meledak kembali. Ia langsung memukul laki-laki itu hingga babak belur dan kabur dari sana.


Beda halnya Meira yang terus menangis.


Inilah yang dilihat dari sudut pandang Elnan, berbeda dengan sudut pandang Meira.


Kala itu, Meira selalu menunggu kepulangan Elnan ke apartemennya. Ketika mendengar ada yang menekan angka di pintu apartemennya, Meira tersenyum bahagia.


Ia menyiapkan makanan dan merapihkan tempat tidurnya. Ia ingin mempersembahkan pelayanan khusu untuk suaminya. Ia bahkan mengganti warna seprai kamar tidurnya dan wangi kamarnya.


Ketika ada seseorang yang memeluknya dari belakang, Meira menerimanya begitu saja, karena ia yakin bahwa itu adalah Elnan. Namun ketika ia berbalik. Orang itu bukanlah Elnan melainkan pria asing yang tak dikenalnya.


Dengan tanpa aba-aba orang itu langsung menciumnya dengan kasar seolah-olah keduanya tengah menikmati ciuman itu. Hingga Elnan pun akhirnya datang dan memukul orang itu hingga babak belur dan kabur.


Sementara Meira ia menangis, merutukki kebodohannya.


"Apalagi yang kau lakukan di belakangku Meira? Apa kau selalu bermain dengan pria yang berbeda setiap harinya jika aku tidak ada di rumah?"


"Apa jangan-jangan anak yang kau kandung kemarin juga bukan anakku? Makanya kau menggugurkannya? Iya?!"

__ADS_1


Elnan terus marah berapi-api. Ia tidak bisa mengontrol emosinya ketika cemburu dan tersakiti. Laki-laki itu bahkan memukul dinding dengan tangannya hingga berdarah.


"Arghh!!!!"


Meira menangis, di tangisnya itu ia berusaha untuk menjelaskan semuanya.


"Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan El. Aku tidak melakukan hal seburuk itu, hiks! Biarkan aku menjelaskannya."


"Tidak seperti apa yang aku pikirkan bagaimana? Hah? Sudahlah, aku tidak mau peduli lagi denganmu. Kejar saja laki-laki tadi! Aku melepaskan mu. Dalam waktu satu minggu ke depan surat cerai akan ada di tanganmu!"


"El, kumohon dengarkan aku!"


Elnan menepis tangan itu. Ia pergi dari hadapan Meira dan tak bertemu lagi dengan Meira kecuali di persidangan.


Flashback off.


Setelah mendengarkan itu semua, Elnan jadi menunduk. Ia merutukki kebodohannya yang dikuasai oleh emosi semata.


Meira melanjutkan lagi ceritanya.


"Jadi kau tidak pernah berselingkuh dariku dan sengaja menggugurkan kandungannya?"


Meira menggeleng.


Elnan hanya bisa menghela napas kasar. Ia benar-benar merasa bodoh dan kesal pada dirinya sendiri.


"Tapi, semuanya hanyalah masa lalu. Sudah berlalu begitu lama juga. Jadi kau tidak usah merasa bersalah lagi. Lagipula kita juga telah hidup masing-masing selama setahun ini. Dan kita baik-baik saja, bukan?"


"Aku tidak pernah baik-baik saja tanpa kehadiranmu, Mei. Aku hanya berpura-pura saja. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan di matamu ketika kau bahagia bersama laki-laki lain," ucapnya sambil tersenyum kecut.


"Tapi, ternyata, kau tidak pernah bersama laki-laki lain? Bodoh sekali aku ini! Hahaha!"


Tiba-tiba Elnan tertawa. Menyesali apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, apa aku bisa dikatakan tidak tahu diri, atau serakah. Tapi, aku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak bisa untuk berhenti mencintaimu. Aku selalu memikirkan mu. Padahal aku sudah pergi sejauh mungkin selama setahun lalu. Bisakah kita kembali bersama seperti dulu?"


Ya, Elnan memang tidak tahu diri, sudah menyakiti wanita dengan kata-katanya. Lalu kembali dan mengajak wanita itu merajut kembali kisah cinta mereka yang telah kandas.


Meira tak bergeming. Ia bahkan tidak menolak sentuhan tangan Elnan di tangannya. Ia menelisik ke hatinya.


Masih adakah cinta pada laki-laki di hadapannya?


Masih adakah kesempatan untuk laki-laki yang sudah menyakitinya?


Apa jika mereka kembali bersama, hal itu tidak akan terjadi lagi?


Meira terus berpikir tentang semuanya. Iya tahu cintanya masih ada. Tapi ia belum yakin akan semuanya.


"El, beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Tidak mudah bagiku menjawabnya."


Elnan pun mengangguk. Ia akan memberi banyak waktu untuk Meira.


"Kabari aku jika kau sudah siap untuk menjawabnya. Aku akan menerima semua keputusanmu."


Meira mengangguk.


Elnan pun pergi dari sana sambil melambaikan tangannya.


Mobil yang dikendarai Elnan sudah tak terlihat lagi. Sementara Meira, ia masih duduk di tempat tadi. Menatap ke langit dan mencoba memejamkan matanya.


"Jawaban apa yang harus aku berikan?"


*


*


TBC

__ADS_1


Maaf ya baru bisa update, aku habis maraton nulis di cerita sebelah.


Jangan lupa mampir ke cerita Terjebak Cinta Jorell


__ADS_2