Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 69 - Masih sama saja


__ADS_3

Selesai bekerja, Rendra langsung merapihkan ruangannya. Ia menumpuk pekerjaannya di atas meja dan memisahkan antara laporan yang sudah ia periksa dan yang belum. Setelah itu, ia langsung menuju ke kamar pribadinya untuk membangunkan Aura.


"Sayang bangun," ucap Rendra sambil mengecup pipi Aura.


"Eung? Jam berapa?" tanya Aura yang matanya masih terpejam.


"Sudah jam 5 sore. Waktunya kita pulang."


Aura pun mulai membuka matanya. Ia sedikit terkejut ketika berada di sebuah kamar. Seingatnya tadi ia berada di sofa. Rendra yang mengetahui raut wajah keterkejutan itu langsung menjelaskan.


"Aku tadi menggendong mu kemari. Aku tidak tega membiarkan istriku tidur di sofa sempit tadi. Aku juga takut kau akan terjatuh."


Aura pun tahu. Ia kemudian bangun dari posisinya dan berjalan ke ruangan Rendra sambil menggenggam tangan laki-lakinya.


Ketika sudah berada di depan gedung perusahaan, Rental meminta Aura untuk menunggunya saja sementara dirinya akan mengambil mobilnya dari basemen.


Aura duduk di lobi sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke aplikasi chat nya.


Au, kita bisa bertemu tidak? Aku ingin curhat banyak hal padamu. Rasanya aku tidak bisa kalau kusimpan sendiri. Kalau curhat lewat ponsel, tidak enak.


Aura belum mengiyakan pesan Sena itu. Ia harus meminta izin suaminya terlebih dahulu. Alhasil Aura pun mengirimkan pesan balasan.


Nanti aku coba minta izin pada Rendra dulu. Kalau dia mengizinkan kita akan bertemu. Tapi kalau tidak, maaf ya Sen. Mungkin curhatnya lewat telepon saja.


Balasan pun Aura terima lagi dari Sena.


Baiklah, aku mengerti. Aku tunggu kabarnya.


Tak lama kemudian, Rendra pun sudah ada di depan gedung dengan mobilnya. Aura segera keluar dari dalam gedung menuju ke mobil suaminya.


Di perjalanan, Aura memulai obrolan-obrolan ringan. Lalu ia langsung menembak ke intinya.

__ADS_1


"Ren, apa aku boleh bertemu Sena hari ini? Katanya, dia sedang ada hal yang mau dibicarakan dengan ku."


Rendra langsung menoleh dan habis itu balik menatap jalanan lagi.


"Hari ini aku tidak mengizinkanmu untuk pergi kemana-mana karena hari sudah akan gelap. Tapi, kalau untuk besok pagi atau siang aku membolehkannya," jawab Rendra.


"Baiklah, terima kasih."


Aura pun segera mengirimkan pesan pada Sena kalau ia tidak diizinkan keluar hari ini dan kalau untuk besok ia bisa. Sena pun memaklumi itu dan tidak apa-apa jika besok baru bisa bertemunya.


*


*


Sepulang kerja, ketika Meira berjalan, wanita itu masih terus memikirkan tentang siapa yang akan jadi korban seperti dirinya.


"Ya Tuhan, aku jadi cemas dan khawatir tidak jelas begini. Bahkan sampai sekarang aku pun tidak tahu alasannya dan siapa yang ada di balik ini semua."


Meira pun jadi ikut berhenti dan ingin tahu siapa orang itu. Ketika orang tersebut menurunkan kaca mobilnya. Ia tahu.


"Ayo aku antar pulang," ajak Elnan.


"Tidak perlu. Lagian sudah dekat kok," tolak Meira.


Elnan menghela napas pasrah kemudian turun dari mobilnya.


"Dekat darimana nya? Jalan dari sini ke panti membutuhkan waktu 15 menit. Jika kau ikut aku, tentu saja akan lebih cepat."


"Tidak usah," tolak Meira lagi.


Elnan yang gregetan dengan sikap Meira dengan sangat terpaksa ia menarik tangan Meira dan memasukannya ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Nah, kan bagus kalau kau dari tadi tidak menolak," ucap Elnan yang sudah akan mengendarai mobilnya.


Meira mendengus sebal.


Elnan masih sama saja, suka memaksa dan tidak mau keinginannya ditolak. Salah satu yang Meira benci dari Elnan.


"Kalau aku lihat-lihat selama ini kau selalu sendirian kemana pun. Kemana perginya kekasihmu?" tanya Elnan.


Meira hanya terdiam. Hatinya rasanya sakit sekali, Elnan masih menganggap dirinya berselingkuh.


"Memang kalau pergi kemana pun tidak boleh sendirian? Lagian pacar itu bukan supir yang mengantarkan kita kemana-mana," jawab Meira.


Elnan jadi terdiam. Ia sudah tak tahu lagi akan berbicara apa.


Sampailah mereka di panti asuhan. Elnan langsung pergi dan hanya menitipkan salam untuk ibu panti dan anak-anak.


Ibu panti tahu, kalau Meira pulang diantar oleh Elnan. Ia penasaran dengan hubungan keduanya.


"Nak, apa kau dan Elnan sudah baikan?" tanya ibu.


"Aku dan Elnan dari dulu sudah baikan ibu. Kami tidak bermusuhan," jawab Meira kemudian pamit pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


"Maksud ibu tadi sebenarnya baikan dalam arti kalian akan rujuk kembali nak. Karena ibu tahu kalau di mata kalian berdua masih ada cinta."


Sayang sekali, ucapan ibu itu tidak bisa didengar oleh Meira.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2