Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 57 - Aku ingin membahagiakan mu


__ADS_3

"Au, apa kau akan menceritakan mantanmu ke Rendra?" tanya Sena.


"Aku sudah pernah bercerita pada Rendra dulu sekali kalau aku hanya punya satu mantan."


"Lalu, apa sekarang kau akan cerita kalau kau bertemu mantanmu hari ini?" tanya Sena lagi.


"Ya sepertinya itu harus. Bagaimana pun juga aku tidak ingin Rendra salah paham."


Sena mengangguk-angguk saja kemudian fokus kembali karena ada beberapa pelanggan yang datang.


Waktu pun berlalu begitu cepat, tak terasa hari rupanya sudah mulai gelap. Aura pun merapihkan toko bunganya sebelum ia pulang. Sementara Sena, wanita itu sudah pergi dari dua jam yang lalu karena akan bertemu kliennya.


Sebuah mobil berhenti di depan tokonya. Aura sudah tahu siapa orangnya. Siapa lagi jika bukan Rendra.


"Sudah selesai beres-beresnya?" tanya Rendra yang sudah keluar dari mobilnya dan kini berdiri di dekat Aura.


"Sebentar lagi."


"Oke, aku tidak membantumu ya."


"Iya, lagipula ini mudah, aku juga bisa tanpa bantuan mu," jawab Aura.


Rendra tersenyum. Ia senang sekali melihat wanitanya yang seorang pekerja keras. Ia hanya berdiri sambil memperhatikan gerak-gerik dari Aura.


Rasanya memperhatikan Aura setiap hari tidak akan bisa baginya. Wanita itu selalu memberikan rasa yang berbeda tiap harinya.


Setelah selesai, keduanya pergi dari toko bunga dan pulang ke rumah Rendra karena Naya mengajak Aura untuk makan malam bersama. Tentu saja Aura tidak menolak ajakan itu.


*


*


Di rumah Rendra, Aura mengobrol di ruang tamu bersama Ela. Sementara Rendra, pria itu pergi ke kamarnya untuk mandi. Kalau Elnan, entahlah dia juga tidak tahu, karena tidak melihat laki-laki itu sejak ia menginjakan kaki di rumah itu. Lalu untuk Richard, katanya masih di jalan.


"Aura, terima kasih ya sudah membuat Rendra jadi lebih manusia. Aku bisa merasakan itu semua. Ya, walaupun sikap menyebalkannya tidak pernah hilang kalau padaku. Tapi, ah, pokonya terima kasih ya."


Ela mengucapkan itu dengan tulus. Ia tahu bagaimana sakitnya Rendra dulu, ia bisa merasakannya karena ia kembar. Ketika Rendra sedih, Ela pun akan ikut sedih.


"Tidak, akulah yang berterimakasih. Kalian menyambut ku dengan hangat. Bahkan tidak menghinaku yang hanya orang biasa. Tentang semua masa laluku yang seorang wanita bayaran. Aku benar-benar merasakan sebuah dukungan dan kasih sayang yang tulus di keluarga ini."

__ADS_1


Ela tersenyum. Kali ini Ela senang karena Rendra tidak memilih orang yang salah.


Tak lama Rendra pun datang dan langsung duduk di samping Aura lalu menyandarkan kepalanya di bahu Aura.


"Ck! Mentang-mentang sudah ada pasangan! Kau malah pamer kemesraan di hadapanku!"


"Kenapa? Iri? Sana cari pasangan! Jomblo mulu!" balas Rendra yang kemudian meraih tangan Aura dan memainkan jemari tangan Aura.


Huh! Kesal aku kesal! Rendra tidak tahu tempat!


Aura mencubit pinggang Rendra.


"Aww, sakit sayang," pekik Rendra yang kesakitan.


"Jangan begitu ke saudara sendiri! Jauhkan kepalamu dariku!" pinta Aura.


"Tidak mau."


Rendra malah lebih mendekatkan tubuhnya pada Aura dengan memeluk wanita itu dengan kedua tangannya.


Richard yang baru saja datang di rumah jadi flashback pada kisahnya dan Naya. Dirinya yang selalu ingin dekat dengan Naya dan bucin dengan Naya. Dan semua itu kini terulang pada anaknya yang persis seperti dirinya.


"Sana cepat nikah saja kalian berdua!"


"Kalau begini, sepertinya lebih baik kau jadi anak om saja Au. Kau lebih mirip Tante Naya dari daripada anak-anak om. Lihat saja, papanya pulang malah asik sendiri. Bahkan tidak berniat untuk menyambutnya," sindir Richard pada kedua anaknya yang cuek. Malah yang satunya menatap Richard dengan kesal. Siapa lagi kalau bukan Rendra. Laki-laki itu merasa kedatangan Richard mengganggu kemesraannya bersama Aura.


"Ya sudah, om bersih-bersih dulu."


"Iya om."


Setelah perginya Richard, Aura mencubit pinggang Rendra lagi dan memarahi kekasihnya.


"Kalau sama orang tua jangan kaya gitu. Harus sopan."


"Iya, iya sayang."


"Jangan iya iya tapi tidak dilakukan."


"Iya sayang. Bawel banget sih!"

__ADS_1


Rendra mencubit pipi Aura saking gemasnya wanitanya yang marah dan menasehatinya.


"Ck! Pergi saja kalian berdua dari hadapanku!" usir Ela yang tidak mau melihat kelakuan pasangan ini. Ketika mereka sudah bucin, dunia seakan milik berdua. Ela hanya merasa dirinya hanya seekor semut.


"Ayo kita pergi saja. Ada singa yang mengamuk!" ajak Rendra sambil menggenggam tangan Aura.


"RENDRA!" teriak Ela yang tidak terima dikatai singa.


Jam makan malam pun tiba, mereka semua makan dengan lahap sambil berbincang-bincang. Salah satunya membicarakan tentang hubungan Aura dan Rendra. Sebelumnya Rendra sudah menceritakan apa yang Aura inginkan pada sang mama tentang acara pertunangan mereka nantinya.


"Jadi, setelah mama pikirkan lagi, walaupun acaranya sederhana, tapi dari pihak kita tetap akan mengundang beberapa kolega bisnis dari perusahaan. Apa itu tidak masalah bagimu, Au?"


Walau begitu, Naya tetap meminta persetujuan Aura karena Aura dan Rendra lah sang pemilik acara.


"Tidak apa-apa tante."


"Baiklah, lalu untuk tempat, katering dan riasan semuanya sudah beres. Oh, iya untuk gaun sudah mama serahkan ke Ela. Jadi kalian tinggal datang dan memilih gaun dan jas yang sesuai. Karena acara tinggal seminggu lagi. Kita harus mempersilakannya dengan baik. Lalu kau akan mengajak siapa untuk datang Au?"


"Aku hanya mengajak adikku dan satu teman baikku Tante. Karena hanya mereka yang aku punya."


Naya mengangguk-angguk mengerti. Itu mengingatkannya pada dirinya dulu yang hanya memiliki ibu untuk menemani dirinya di hari bahagianya.


Setelah perbincangan mengenai pertunangan selesai di meja makan. Rendra mengajak Aura untuk pergi ke tepian kolam untuk melihat bintang-bintang.


"Aku ingin cepat-cepat menikah setelah pertunangan Au. Maksimal jangka waktu paling lama 3 bulan, dan paling singkat sehari setelah pertunangan kita. Pilih yang mana?" tanya Rendra sambil menyentuh pipi Aura dengan tangannya. Laki-laki itu juga menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Aura.


"Apa tiga bulan tidak terlalu cepat? Aku masih belum bisa mengumpulkan uang. Aku tidak enak jika semua biayanya kau yang menanggungnya. Apalagi acara pertunangan ini saja darimu."


Seketika Rendra hanya terkekeh mendengar ucapan Aura.


"Bahkan tiga bulan itu masih terlalu lama untukku. Jangan pikirkan soal biaya. Untuk kali ini, biarkan aku yang membiayai semuanya. Aku ingin membahagiakanmu dan mengabulkan impian pernikahan yang kau inginkan."


Aura terharu mendengarnya. Ia sampai memeluk Rendra saking terharunya. Tanpa sadar, dirinya menangis di pelukan Rendra.


"Jangan menangis sayang. Apa perkataanku membuatmu bersedih? Apa kau tetap ingin membantu biaya untuk pernikahan kita nantinya? Jangan ya, kali ini menurut saja, oke?"


Aura mengangguk di tubuh Rendra. Rendra mengelus puncak kepala Aura agar tangis itu mereda. Setelah kebersamaannya dengan Aura selama ini, Rendra akhirnya sadar kalau Aura sangatlah rapuh tidak seceria perilakunya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2