Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 27 - Sandiwara dimulai


__ADS_3

Hari dimana Rendra akan mengajak kekasihnya ke rumah pun tiba. Naya dengan antusias menyiapkan makanan yang memenuhi seluruh meja makan. Ela yang melihatnya pun dibuat penasaran oleh tingkah sang mama. .


"Ma, memangnya akan ada tamu penting ya hari ini? Mama masak banyak sekali," tanya Ela.


"Iya sayang, nanti kakakmu Rendra akan membawa kekasihnya ke rumah," jawab Naya.


Ela langsung berpikir keras mendengar ucapan sang mama.


Kekasih? Kekasih yang mana? Bukannya Rendra menyangkal pemikiran ku waktu itu? His!


"Ma, kayanya Rendra bohong deh," ucap Ela agar mamanya tidak percaya begitu saja.


"Tidak, kakakmu tidak berbohong. Ini sebentar lagi dia akan datang," jawab Naya lagi.


Kenapa waktunya tidak tepat sekali sih? Padahal aku pun penasaran siapa yang akan dibawa Rendra ke rumah! Huh!


Ela sedikit kesal karena ia tidak bisa melihat wajah kekasih Rendra yang mamanya ceritakan karena ia harus bertemu dengan kliennya sebentar lagi.


"Ma, kalau begitu aku pamit dulu ya. Klienku sudah menunggu di butik," pamit Ela.


"Iya, hati-hati sayang."


Ela mengangguk lalu berucap, "Titip salam buat pacar barunya Rendra, Ma."


"Iya nanti mama sampaikan."


Ketika mobil Ela pergi, mobil Rendra pun sampai di rumah. Aura merasa gugup dan takut akan bertemu dengan mamanya Rendra.


"Tidak usah takut, mamaku tidak menggigit! Paling hanya memotong-motong daging dengan pisau."


Ucapan Rendra tersebut bukan menghilangkan rasa gugup dan takut Aura justru malah menambahnya. Ia bahkan seakan tak bisa menggerakkan kakinya untuk keluar dari mobil Rendra.


"Ayo keluar!" ajak Rendra yang sudah membukakan pintu mobil Aura.


Aura hanya terdiam dengan wajah pias nya.


"Mau aku gendong atau jalan sendiri?" tawar Rendra.


Aura pun langsung berdiri meski terasa berat dan melangkahkan kakinya dengan pelan. Rendra lagi-lagi menegur Aura karena jalannya seperti siput.


"Lama-lama aku benar-benar menggendong mu, Au."

__ADS_1


"Iya, iya," jawab Aura dengan perasaan campur aduk nya.


Langkah kakinya kini sudah memasuki rumah Rendra yang megah bak istana itu. Ia merasa sangat-sangat tidak pantas bahkan hanya untuk menginjakkan kakinya disana. Ia merasa bahwa keputusan untuk menjadi kekasih pura-pura dari Rendra adalah salah.


"Kau sudah sampai rupanya," ucap Naya ketika sudah melihat wajah putranya.


"Mana kekasihmu?" tanya Naya.


Rendra pun spontan langsung melihat ke belakang. Rupanya Aura masih berjarak sekitar lima meteran darinya. Rendra hanya bisa merutukki Aura di dalam pikirannya.


Wanita ini benar-benar ya! Huh!


Tak lama kemudian, Aura pun sudah ada di samping Rendra. Ia langsung mencium tangan mamanya Rendra tanpa melihat dengan jelas bagaimana wajah mamanya Rendra.


"Saya Aura, Tante," ucap Aura ketika mencium tangan mama Rendra.


Naya yang diperlakukan seperti itu oleh kekasih anaknya jadi merasa terharu. Pasalnya, anak-anaknya saja jarang sekali mencium tangannya kecuali ketika berangkat kerja dan itu pun tidak setiap hari.


Tatapan keduanya bertemu ketika Aura sudah selesai mencium tangan mamanya Rendra.


"Eh, kau wanita yang waktu itu di pasar kan?" tanya Naya memastikan.


"Iya Tante. Sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya waktu itu," ucap Aura sambil membungkukkan badannya.


Apa mereka sudah pernah bertemu sebelumnya?


"Tidak apa-apa. Bicaranya yang santai aja. Tidak perlu formal begitu kaya lagi ketemu atasan saja," ucap Naya yang tidak ingin bicara dengan calon menantunya seperti dengan bawahannya.


"Iya Tante," jawab Aura.


"Ayo duduk, kita ngobrolnya sambil makan biar enak," ajak Naya.


Rendra dan Aura pun menurut saja. Sandiwara pun dimulai. Aura mengambilkan nasi, lauk pauk dan sayur ke dalam piring Rendra. Naya yang melihat itu pun tersenyum melihatnya.


"Biasanya Tante yang suka mengambilkan makanan untuk Rendra, sekarang udah berganti, hihi," ledek Naya.


"Apa sih mama!?" ucap Rendra yang tidak suka diledek.


Sementara Aura sedikit malu karena tingkah sandiwaranya. Ia tidak menyangka mamanya Rendra akan meledek dirinya. dan Rendra.


"Sudah, sudah tidak usah malu. Mama becanda tadi. Soalnya Rendra itu orangnya susah makan kalau tidak ditemani orang ataupun tidak diperhatikan kadang malah suka minta disuapi oleh mama. Kaya anak kecil tapi padahal badannya sudah besar dan usianya yang bisa dikatakan sudah dewasa," ledek Naya lagi.

__ADS_1


Astaga mama! Kenapa harus buka kartu di depan Aura? Padahal aku kemarin-kemarin menjelaskan bahwa aku orangnya tidak banyak mau. Huh!


Rendra jadi kesal sendiri karena mamanya membuka fakta yang merupakan aib bagi dirinya.


Aura terkekeh pelan mengetahui hal tersebut. Rupanya Rendra adalah anak mami yang masih harus disuapi oleh mamanya.


"Ma, sudah!" pinta Rendra yang tidak ingin mamanya membuka aib lainnya. Bisa bahaya dunia ini jika aibnya terkuak semua.


Naya hanya bisa meng*lum senyum saja.


Acara makan pun selesai. Naya membawa Aura ke ruang keluarga. Sementara Rendra, ia malah pergi ke kamarnya. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu dengan teganya meninggalkan dirinya berdua dengan mamanya Rendra.


Naya memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya pada Aura.


"Ini foto anggota keluarga ini. Yang ada di samping Tante itu papanya Rendra namanya Richard."


Pantas saja wajah Rendra kaya orang bule, ternyata turunan dari papanya. Udah tua tapi masih kelihatan muda.


"Yang ada di samping papanya Rendra itu adalah Elnan, kakaknya Rendra dan yang ada di sebelahnya Rendra adalah Ela kembarannya Rendra sedangkan yang duduk di kursi itu omanya mereka," jelas Naya.


Aura hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Kalau boleh tahu sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Naya.


"Belum lama ini Tante. Kita dikenalkan oleh Ansel," jawab Naya sesuai kenyataan yang ada. Ia tidak ingin berbohong terlalu banyak pada mamanya Rendra yang baik padanya.


"Ah, dari Ansel rupanya. Asal kau tahu ya, Rendra itu tidak punya sahabat selain Ansel. Tante sampai heran sendiri pada Rendra yang kadang kalau kemana-mana itu berdua terus dengan Ansel. Bahkan ada di suatu kejadian, Tante mengira Rendra itu guy."


Aura sedikit terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang CEO terkenal hanya memiliki satu sahabat saja? Padahal kenalannya ada dimana-mana.


"Masa sih Tante?" tanya Aura memastikan.


"Iya, tapi semuanya terpatahkan ketika Rendra membawa kekasihnya ke rumah. Jadi Tante tidak berpikir buruk lagi ke anak Tante."


"Eum begitu, apa sudah banyak mantan Rendra yang dikenalkan ke Tante?" tanya Aura lagi.


"Banyak, bahkan Tante masih hapal siapa saja nama-namanya," jawab Naya masih mengingat nama mantan anaknya itu.


"Tapi, tenang saja, meskipun Rendra banyak mantannya. Dia itu tipe laki-laki setia. Yang hanya menjalin hubungan dengan satu wanita tidak bercabang," tambah Naya agar Aura tidak berpikiran aneh-aneh tentang anaknya. Jika begitu, ia akan kehilangan lagi calon mantunya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2