
Setelah keadaan tubuhnya mulai membaik dan rasa mualnya tidak separah beberapa hari lalu, Rendra memulai kembali pencariannya.
Sampai pada akhirnya, Rendra mengetahui keberadaan Aura di rumah Sena. Ia juga melihat beberapa bawahan papanya yang menjaga dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi.
Rendra hanya tersenyum miris melihatnya. Rupanya selama ini Aura sudah ditemukan oleh papanya. Hanya saja papanya sengaja menyembunyikan keberadaan Aura. Rendra tahu dia salah dan ia sudah menyadarinya. Tapi, kenapa harus disembunyikan? Kalaupun Rendra bertemu dengan Aura, jika Aura masih ingin menenangkan diri, Rendra akan pergi juga sampai Aura datang sendiri padanya.
Di saat itu, Rendra melihat Aura yang tersenyum bahagia. Seolah-olah tak menginginkan lagi kehadirannya di hidup wanita itu. Rendra jadi marah pada dirinya sendiri. Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke apartemennya.
Berhari-hari telah berlalu, Naya mulai khawatir dengan Rendra yang tak pernah pulang ke rumah.
"Ya Tuhan, kemana perginya anak itu?"
"Tidak usah khawatir, paling dia ada di apartemennya," jawab Richard.
"Ya sudah, aku akan mengeceknya di apartemen. Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak begini. Ya Tuhan."
Naya mengehentikan aktivitasnya dan berlari mengambil kunci mobil untuk pergi ke apartemen Rendra. Namun, Richard langsung merebut kunci mobil itu dari tangan istrinya.
"Ayo kita pergi bersama. Aku tidak ingin kau mengemudikan mobil dengan perasaan khawatir seperti itu. Yang ada nantinya kau akan dalam bahaya."
Alhasil keduanya pun pergi ke apartemen Rendra dengan Richard yang mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Naya terus menekan bel apartemen Rendra akan tetapi tak ada yang membuka pintu sama sekali.
"Mungkin Rendra tidak di apartemen sayang," ucap Richard.
"Coba aku telepon Ansel. Siapa tahu dia mengetahui keberadaan Rendra."
Panggilan langsung tersambung.
"Halo om Richard, ada apa?"
"Sel, kau sedang bersama Rendra?" tanya Richard.
"Tidak om, sejak kejadian Aura pergi, aku tidak pernah bertemu Rendra. Kami hanya saling berkabar saja lewat ponsel. Tapi beberapa hari terakhir ini, aku tidak mendapatkan kabar apapun darinya. Memangnya kenapa ya om?"
"Rendra tidak pulang ke rumah. Ini om ada di apartemennya pun tak ada yang membuka pintu. Sepertinya Rendra tidak ada di dalam. Kalau begitu terima kasih ya. Kalau Rendra menghubungimu, kasih tahu om ya."
__ADS_1
"Siap om."
Sambungan telepon pun berhenti.
"Ansel juga tidak tahu Rendra ada dimana."
Huh!
Naya membuang napasnya perlahan. Tapi entah kenapa ia sangat yakin Rendra ada di apartemen. Naya pun menghubungi Aura dan meminta pin pintu apartemennya. Setelah mengetahui pin nya, Naya langsung menekan tombol angka itu sesuai dengan pin nya.
Ketika pintu apartemen terbuka, Naya langsung masuk untuk mencari anaknya ke dalam. Semakin masuk lebih dalam, tercium bau alkohol yang begitu mencuat. Sudah bisa dipastikan kalau Rendra benar-benar ada di dalam apartemen.
Pintu kamar Rendra terbuka, terlihatlah Rendra yang terduduk di lantai dengan kepalanya yang bersandar di tepi ranjang. Botol-botol alkohol tergeletak di setiap sudut kamar itu. Naya menangis melihat keadaan anaknya yang begitu mengenaskan. Ia berjongkok untuk berbicara dengan anaknya.
"Ren, kita pulang ke rumah ya?" ajak sang ibu.
Rendra dengan tatapan kosong dan sayu nya mendongak melihat wajah mamanya.
"Aura mana ma? Aku menunggunya pulang," lirih Rendra sambil memegang perutnya.
"Kenapa perutmu Ren? Sakit? Ayo kita ke rumah sakit saja."
"Aura ma, aku ingin bertemu Aura," lirih Rendra lagi.
"Aku sudah menemukannya, aku tahu dia ada di rumah Sena. Tapi, aku langsung pergi karena Aura terlihat bahagia tanpa aku, hiks, hiks. Aku bahkan tahu kalau mama dan apa sengaja tidak memberitahu aku. Hiks, hiks... Aku harus apa jika Aura benar-benar pergi meninggalkan aku? Hiks ... "
Rendra menangis seperti anak kecil. Naya yang melihatnya, dadanya jadi terasa sesak. Ia meraih tangan suaminya untuk meminta bantuan agar bisa berdiri. Tubuhnya terasa lemas juga melihat keadaan anaknya yang tidak berdaya.
"Hubungi Aura, minta dia datang ke apartemen. Mama sudah tidak sanggup lagi melihat Rendra yang seperti ini. Dia seperti tidak memiliki hasrat untuk hidup, hiks.."
Richard menuruti keinginan istrinya. Sejujurnya ia juga merasa sakit di dadanya, akan tetapi ia tidak boleh ikut lemah juga. Istrinya kan membutuhkan dirinya.
Setelah menghubungi Aura, baik Richard maupun Naya masih berada di apartemen untuk menunggu kedatangan Aura. Sesekali Naya melihat isi kulkas di apartemen anaknya. Isinya hanya ada sayuran yang sudah layu dan minuman keras. Sampah kemasan mie instan pun berserakan di dapur.
Naya membersihkan dapur dan menelpon karyawannya untuk membawa beberapa sayuran segar dari restoran ke apartemen anaknya.
Setelah membersihkan dapur, Naya pun membersihkan ruang tamu yang bantalnya sudah berpindah ke lantai, serta beberapa bungkus makanan yang tergeletak disana.
__ADS_1
"Apa saja sih yang kau lakukan di apartemen Ren? Sudah seperti kapal pecah saja."
Yang awalnya tadi menangis melihat keadaan Rendra, kini Naya kesal dan terus mengumpat karena kelakuan anaknya.
Sementara, Richard yang ada di dalam kamar Rendra, ia hanya melihat ke sekeliling sambil geleng-geleng kepala. Tak berniat untuk membersihkan kamar anaknya itu.
Ia malah berpikir, mungkin apa yang dilakukan Rendra saat ini bisa saja ia lakukan jika Naya pergi dari hidupnya juga. Urusan cinta dan emosi, pria di keluarga Kavindra memiliki sisi yang sama.
Terdengar suara orang yang memasukan pin di pintu masuk. Richard menebak jika itu adalah Aura. Ia pun keluar dari kamar Rendra dan ingin menyambut kedatangan menantunya.
"Akhirnya kau datang juga Au. Sana masuk ke kamar. Jangan kaget dan heran ketika masuk ke dalam, papa kan tadi sudah menjelaskannya lewat telepon," ucap Richard.
"Iya pa," jawab Aura.
Setelah Aura masuk ke dalam kamar Rendra, Richard malah asik menonton televisi. Ia yakin permasalahan anaknya akan selesai hari ini juga. Daripada ia ikut pusing, lebih baik menikmati harinya disana. Karena bau alkoholnya sangat kuat, Richard pun menyemprot ruangan dengan pengharum.
Semenjak usianya yang tak lagi muda. Ia sudah tidak lagi meminum alkohol karena bisa mengikis usianya lebih cepat.
Bel apartemen berbunyi, Richard harus merelakan tontonan nya terganggu sejenak. Rupanya yang datang adalah karyawan istrinya yang membawakan berbagai macam sayuran. Setelah menerimanya, ia langsung menaruhnya di dapur.
Disana, Naya sedang membersihkan isi kulkas yang belum sempat ia bersihkan ketika tadi membersihkan dapurnya.
"Sayuran mu sudah datang sayang."
"Apa Aura sudah datang?"
Richard mengangguk.
"Biarlah mereka bicara berdua, kita cukup mengawasi saja dari luar. Aku yakin mereka sudah dewasa dan saling introspeksi diri," ucap Richard.
Naya mengangguk.
"Aku mau menonton lagi sayang. Tolong buatkan aku makanan yang enak juga ya."
Naya langsung geleng-geleng kepalanya. Suaminya terlihat tidak mencemaskan apapun dan malah menikmati hatinya di apartemen sang anak.
*
__ADS_1
*
TBC