Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 24 - Cosplay jadi orang bisu


__ADS_3

Selesai makan, Aura benar-benar pergi menemani Rendra ke suatu tempat. Rupanya Rendra pergi ke ruko yang menolak untuk dijual pada perusahaan Kav Corp.


"Selamat pagi, bisa bicara dengan pemilik ruko?" ujar Rendra ketika sudah berada di depan ruko.


Sang pemilik pun datang dan menatap sinis ke arah Rendra.


"Ada perlu apa dengan saya?" jawab si pemilik ruko dengan ketus.


"Beberapa hari lalu pegawai saya datang kesini untuk memberikan penawaran tentang harga untuk membeli ruko bapak. Kata pegawai saya, bapak menolak untuk menjual ruko ini. Kalau saya boleh tahu, apa alasannya pak? Karena hampir tiga per empat dari deret ruko yang ada disini sudah dibeli oleh perusahaan Kav Corp," jelas Rendra dengan sesopan mungkin.


"Oh, jadi kau atasan dari pegawai yang waktu itu ingin membeli ruko saya? Cih! Enak saja main beli-beli ruko ini! Saya sudah bekerja bertahun-tahun disini!" ucap bapak itu.


Rendra menghela napas, mencoba meningkatkan kesabarannya.


"Jika bapak menolak tawaran itu, kemungkinan terburuknya usaha bapak bisa bangkrut karena kini sudah tak ada lagi usaha-usaha lain yang berdampingan dengan bapak. Dengan kata lain, di tempat ini akan jarang orang yang datang berkunjung. Alangkah lebih baik jika bapak menerima tawaran itu. Bahkan saya juga sudah menyiapkan tempat untuk bapak berjualan lagi," tambah Rendra.


"Dasar orang kaya! Bisanya menindas orang yang berada di bawahnya. Meski kau membujuk saya hingga berlutut pun, saya tidak akan pernah menjual ruko ini!" kekeh bapak itu.


Ingin sekali rasanya Rendra memotong mulut bapak tua itu akan tetapi ia masih waras dan tidak ingin menyakiti orang tua. Alhasil Rendra pun memilih pergi. Namun, tiba-tiba Aura mengajak bapak tua itu mengobrol.


"Sebelumnya saya minta maaf karena tiba-tiba ikut bicara. Kalau boleh tahu apa bapak punya istri dan anak?" tanya Aura dengan sangat lembut.


Si bapak yang awalnya sinis dan ketus jadi melembut karena melihat wanita cantik, sopan dan bertutur kata lembut.


"Iya, saya punya istri dan dua anak," jawab bapak itu.


Aura pun mengangguk lalu bertanya lagi.


"Apa kedua anak bapak sudah bersekolah?"


"Sudah, anak pertama saya sedang kuliah semester akhir dan anak kedua saya masih SMA."


"Eum begitu, bukan maksudnya saya ikut campur. Tapi jika bapak tetap kekeh tidak menjual ruko ini, bapak akan kewalahan untuk membiayai sekolah anak bapak. Apalagi biaya untuk kuliah itu tidaklah banyak mengingat jika ruko-ruko yang berada disini sudah dibeli semua oleh perusahaan Kav Corp yang sebentar lagi akan sepi pengunjung. Jadi, menurut saya lebih baik bapak juga menjualnya saja. Lagipula nantinya bapak juga bisa tetap berjualan di tempat yang sudah perusahaan tersebut siapkan. Tentunya, disana pasti akan lebih banyak pengunjung yang datang. Saya tahu, bapak mungkin menyayangkan tempat ini dijual karena bapak sudah bertahun-tahun mencari nafkah di tempat ini. Namun, apa arti semua itu, jika nantinya keluarga bapak jadi sengsara," jelas Aura.

__ADS_1


Entah kenapa mendengar penjelasan Aura, si bapak jadi terdiam dan tampak berpikir-pikir lagi.


"Tapi semuanya memang tergantung dari bapak. Bapak mau memilih keputusan yang mana. Kalau begitu kami permisi pak," ucap Aura dengan tanpa sadar juga menarik tangan Rendra untuk pergi dari sana.


"Kau! Kenapa kau ikut campur masalahku?" kesal Rendra pada Aura dengan suara yang pelan.


"Shutt! Kau jangan marah-marah dulu! Lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini," ucap Aura dengan senyum manisnya.


Senyum manis itu membuat Rendra merinding seketika.


"Jalannya jangan cepat-cepat!" cegah Aura.


"Kenapa? Kau ingin terus mengandeng tanganku begitu?" ucap Rendra yang sebenarnya sudah sadar jika sedari tadi tangannya digandeng oleh Aura. Ia memang sengaja tidak melepas gandengan tersebut.


"Eh," Aura terkejut kemudian melepaskan tangannya dari tangan Rendra.


Tanpa sadar, Aura justru malah berlari karena saking malunya.


"Dasar aneh! Bilangnya jangan cepat-cepat, eh dia malah berlari duluan," gerutu Rendra.


"Apa penawaran harga beli ruko saya yang tadi masih berlaku?" tanya si bapak pemilik ruko.


"Tentu saja pak, itu masih sangat berlaku," jawab Rendra dengan senyuman.


Kemudian Rendra kembali lagi ke ruko si bapak itu dan membicarakan tentang harga, tempat yang nantinya akan jadi tempat si bapak berjualan lagi. Setelah semuanya sepakat, Rendra pun mengulurkan tangannya berterimakasih karena si bapak mau menjual ruko miliknya.


"Terima kasih karena bapak mau menjual ruko tersebut. Saya jamin, di tempat bapak yang baru nantinya, usaha bapak akan lebih laris daripada di tempat ini," ucap Rendra.


"Berterimakasih lah pada wanita yang datang bersamamu, karena ucapannya tadi sudah menyadarkan saya tentang keputusan yang harus saya ambil. Kenangan bertahun-tahun itu memang tidak akan berarti apapun jika dibandingkan dengan keluarga saya yang nantinya akan sengsara jika saya tetap kekeh tidak mau menjual ruko ini. Sampaikan juga rasa terima kasih saya pada wanita yang datang bersamamu," jelas si bapak pemilik ruko.


"Baik, akan saya sampaikan. Untuk hari ini bapak boleh menutup ruko seperti biasanya. Kemungkinan besok pagi, pegawai saya akan datang ke rumah bapak untuk mengambil kunci sekaligus mengantar bapak ke tempat bapak yang baru," ucap Rendra lagi.


Si bapak mengangguk.

__ADS_1


"Saya permisi pak," pamit Rendra.


Setelah itu, Rendra berjalan menuju ke mobilnya dengan suasana hati yang senang. Dengan dijualnya ruko tersebut padanya, rencana untuk menjadikan daerah itu pusat perbelanjaan akan segera terwujud seperti apa yang sudah Rendra inginkan.


Mengingat ucapan bapak tadi, Aura juga berperan untuk membantunya membujuk si pemilik ruko. Rendra pun ingin berterimakasih pada Aura dengan memasuki mobilnya. Rupanya Aura tak berada di dalam mobilnya.


"Kemana Aura?" ucap Rendra bertanya-tanya.


Rendra pun keluar dari mobilnya dan mencari keberadaan Aura.


"Wanita itu memang menyusahkan saja kerjaannya. Senang sekali dicari!" kesal Rendra.


Tanpa sengaja, Rendra melihat Aura yang duduk di pinggiran jalan yang sepi.


"Hobimu itu memang suka sendirian di pinggiran jalan ya, Au? Ini adalah ketiga kalinya aku melihatmu seperti itu!" ucap Rendra.


Aura menengok ke arah Rendra, lalu mendengus sebal mendengar ucapan Rendra. Secara tidak langsung Rendra mengingatkannya kembali pada pertemuannya dengan Rendra yang selalu terlihat menyedihkan.


"Ayo pulang! Kita harus pergi ke tempat lain lagi," ajak Rendra.


"Huh!" Aura sedikit mengeluh lalu berdiri dan mendekat ke Rendra.


"Ternyata begini karakter aslimu. Aku kira kau adalah orang yang selalu tersenyum tanpa tahu rasanya mengeluh," sindir Rendra.


Bukannya membalas ucapan Rendra, Aura justru diam saja tanpa kata.


"Kau mendadak cosplay jadi orang bisu ya?" sindir Rendra lagi karena tidak mendapat tanggapan apapun dari Aura.


"Ayo, katanya kau harus pergi ke tempat lain lagi. Daripada terus bicara tidak penting, lebih baik kita langsung menuju ke tempat selanjutnya," ucap Aura lalu berjalan lebih dulu ke mobil.


Rendra hanya menggelengkan kepalanya akan tingkah Aura itu.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2