Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 95 - Menerima


__ADS_3

Setelah semua masalah sudah teratasi, hubungan Rendra dan Aura juga membaik. Hubungan Elnan dan Meira pun jadi ikutan membaik. Keduanya jadi sering bertemu secara intens. Bahkan Elnan juga sering mengantar dan menjemput Meira untuk berangkat dan pulang kerja. Hal itu juga dirasakan oleh Naya.


"Kalau sudah yakin untuk rujuk, segerakan saja. Mama mendukung!" ucapnya lalu pergi ke dalam kamar.


Elnan yang mendapatkan dukungan dari sang mama jadi ikut tersenyum. Ia memang sudah tidak bisa lagi menunggu Meira untuk menjawabnya.


Apa jangan-jangan sebenarnya Meira malu untuk menjawab?


Pikir Elnan tiba-tiba. Ia ingat betul kalau Meira sangat sulit mengutarakan isi hatinya jika tidak dipancing duluan.


Alhasil, Elnan yang baru saja tiba di rumah pun, jadi pergi lagi dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di panti asuhan, ia menemui ibu panti untuk menanyakan keberadaan Meira.


Tak lama, Meira pun muncul dengan pakaian yang sudah diganti dan sudah mandi.


"Kenapa datang? Tadi kan kau sudah kesini mengantarku pulang?" tanya Meira yang keheranan melihat Elnan sedang duduk di ruang tamu.


"Hus! Jangan begitu sama tamu. Sana layani dulu tamunya. Ibu mau pergi ke warung sebentar."


"Aku izin membawa Meira keluar ya Bu."


"Oh, bawa saja dia keluar. Ibu juga kasian melihatnya hanya di rumah dan di tempat kerja terus. Kalau perlu tidak usah dibawa pulang sekalian."


"Ibu!" rengek Meira yang kesal pada ibunya.


Elnan hanya terkekeh membalas ucapan ibu panti.


"Siap ibu. Kami pamit ya."


"Hati-hati di jalan."


Elnan dan Meira berjalan keluar dari rumah. Tidak bergandengan tapi sudah mampu membuat ibu panti tersenyum.


Di perjalanan, Meira menanyakan ada Elnan ia akan dibawa kemana.


"Rahasia. Nanti kau juga akan tahu."


"Hih! Menyebalkan sekali!"


Meira jadi kesal sendiri karena tak mendapat jawaban dari Elnan. Ia pun sepanjang jalan hanya melihat ke sisi jalan yang ia lewati.


Sesampainya di sebuah tempat, Meira hanya bisa terkagum-kagum dan takjub melihatnya. Elnan membawa Meira ke tempat yang sangat indah.


Sebuah restoran outdoor yang dihiasi dengan gemerlap cahaya lampu juga hiasan yang begitu estetik. Bahkan senyuman Meira tak memudar sejak tadi.


"Kau menyukainya?" tanya Elnan.


Meira mengangguk.


"Ayo kita duduk disana. Sambil melihat pemandangan dari sini."


Entah sadar atau tidak, Meira menerima uluran tangan Elnan ketika laki-laki itu ingin menggenggam tangan Meira. Keduanya sudah duduk di tempat yang sudah disiapkan Elnan.


"Kenapa mengajakku ke tempat ini?" tanya Meira.


"Karena orang istimewa harus dibawa ke tempat yang istimewa juga," jawab Elnan.

__ADS_1


Meira jadi tersipu. Ia mencoba memalingkan wajahnya agar Elnan tak bisa melihat rona merah di wajahnya.


Namun, sayang sekali, Elnan bisa melihat itu. Elnan bahkan terkekeh pelan karenanya.


"Mei," ucap Elnan sambil menggenggam tangan Meira di atas meja.


"Aku masih setia menunggu jawabanmu atas ajakanku dulu. Tapi, lama kelamaan. Aku tidak sabar juga. Jadi, bisakah kau menjawabnya malam ini?"


Gluk!


Meira menelan ludahnya sendiri.


Ya Tuhan, apa aku boleh bersamanya lagi? Apa boleh aku melabuhkan hatiku lagi padanya?


"El,"


"Iya?"


"Bagaimana jika aku menolak?" ucap Meira hati-hati.


"Ya, aku sedih lah. Mau gimana lagi. Paling aku pergi lagi ke Paris untuk menenangkan diri," jawab Elnan.


"Benar tidak apa-apa jika aku menolak? Kita masih bisa jadi teman lagi kok!"


"Mana ada teman yang mencintai temannya sendiri. Aku tidak bisa. Lagian selama ini aku mendekatimu, karena aku ingin kita kembali dan meminta maaf atas kesalahanku dulu. Jika memang kau tidak bisa lagi bersamaku. Ya mau gimana? Aku juga tidak bisa memaksakan kan?" jawabnya dengan senyum yang teriris.


"Tapi aku menerima kok," ucap Meira.


Hah?


Untuk beberapa saat Elnan masih loading.


"Hah? Kau menerimaku? Benar kan? Kau tidak salah mendengar kan? Kita akan rujuk kembali?"


Meira mengangguk.


"Yes! Yes! Yes!"


Elnan melompat kegirangan seperti bocah yang memenangkan hadiah. Ia tak mampu menyembunyikan kebahagiannya. Ia bahkan sampai mengecup bibir Meira tanpa aba-aba. Membuat Meira jadi mematung seketika.


"Ayo kita pulang!" ajak Elnan tiba-tiba.


"Hah? Pulang? Kita bahkan belum pesan apapun disini?"


"Tidak apa-apa, aku sudah minta makanannya dibungkus tadi. Kita akan memakannya di apartemen."


"Apartemen?"


Elnan mengangguk.


"Ia, rumah tempat kita tinggal dulu."


Meira hanya mengiyakannya saja.


Benar saja, ada dua kantong makanan yang ditenteng oleh Elnan dari dalam restoran itu.


Mau bingung, tapi Elnan memang begitu orangnya. Ya sudahlah, itu pikir Meira.

__ADS_1


Di sepanjang jalan, tangan Elnan tak mau melepaskan genggamannya di tangan Meira. Bahkan Elnan sering melihat-lihat ke arahnya dengan tersenyum.


"Fokus menyetir! Kau mau buat aku mati muda ya?"


"Mana mungkin!"


Lalu mengecup tangan Meira.


"Kita akan menikah lagi secepatnya. Aku tidak bisa menunggu lama lagi Mei. Mau ya?"


"Aku pikir-pikir dulu," jawab Meira.


"Yah ... "


Elnan agak sedikit kecewa. Namun, ia tidak ingin membuat Meira jadi tertekan di dekatnya.


*


*


Mereka pun sudah sampai di apartemen, tempat dulu mereka tinggali ketika masih menjadi suami istri. Meira masih mengingat dengan jelas kejadian di waktu itu. Namun, sejenak kemudian Meira menggelengkan kepalanya.


Lupakan Meira! Lupakan! Semuanya sudah berlalu sangat lama.


Kemudian ia menyusuri apartemen dan kini duduk ruang makan. Elnan dengan hati yang riang gembira langsung memindahkan makanan tadi ke dalam wadah yang ada disana.


"Bukannya selama setahun lalu kau berada di Paris? Kenapa tidak jual saja apartemen ini?" tanya Meira tiba-tiba.


"Mana boleh. Di tempat ini kan banyak kenangannya denganmu," jawab Elnan.


"Tapi kan dulu itu ...."


Ucapan Meira terpotong.


"Jangan diungkit lagi masa yang telah lalu. Kita buat lagi kenangan yang baru. Selamat makan."


Keduanya pun makan dengan lahap. Setelahnya, mereka berdua menonton film bersama di ruang tamu. Bak pasangan baru yang dimabuk cinta. Sayang satu mengelus kepala dan yang satunya menyandarkan kepala ke bahu sebagai sandaran.


Mereka menikmati waktu hingga malam semakin berlarut. Apa yang ibu panti ucapkan tadi benar dilakukan oleh Elnan. Ia tidak akan membawa pulang Meira malam ini.


"Hoam ... "


Meira mulai menguap. Rasa kantuk sudah menjalar ke dalam tubuhnya. Bahkan matanya pun sudah sulit untuk tetap terus terbuka.


"El, aku ngantuk," rengeknya.


"Ayo tidur. Aku akan menggendong mu."


Meira mengangguk. Elnan menggendong Meira ke dalam kamar ala pengantin baru. Elnan menyelimuti tubuh Meira dan mengelus puncak kepala Meira.


"Tidurlah dengan nyenyak."


Cup


Satu kecupan mendarat di kening Meira. Meira tersenyum dengan matanya yang terpejam.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2