
Hari demi hari.
Minggu demi Minggu.
Semua persiapan pernikahan Rendra dan Aura sudah siapkan satu per satu dimulai dari katering, gedung, dekorasi, gaun, souvenir, riasan dan juga surat undangan.
Tinggal menghitung hari lagi.
Masalah berita Aura sudah selesai. Kaila sudah dipenjara. Perusahaan media yang menyebarkan tentang Aura pun sudah gulung tikar. Tak ada lagi hal yang perlu dikhawatirkan menurut Rendra.
Padahal, masalah yang sesungguhnya baru saja akan muncul di permukaan. Rendra seakan lupa dengan hadiah ancaman waktu itu.
Hari pernikahan tiba.
Setelah pengucapan janji pernikahan. Rendra dan Aura melakukan adegan ciuman di hadapan tamu undangan. Semuanya bersorak gembira.
Lalu satu per satu tamu undangan naik ke atas altar untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ya akhirnya kalian berdua menikah juga. Mama doakan semoga langgeng sampai kakek nenek. Semoga cepet dapat momongan juga. Mama sudah tidak sabar ingin gendong cucu," ucap Naya sambil memegang kedua tangan anak dan menantunya.
"Tenang saja ma, masalah cucu, Rendra tidak akan menundanya. Kalau perlu nanti malam langsung gaspol," balas Rendra.
"Nah itu bagus, nanti papa kasih tau tips nya, supaya bisa dapat anak kembar juga," sahut Richard.
Naya hanya mampu geleng-geleng. Sementara Aura, ia hanya tersenyum meringis. Membicarakan malam pertama di hadapan orang tua rasanya malu dan aneh baginya. Eh, Rendra malah asal nyablak saja.
Naya meraih kedua tangan Aura. Kemudian cium pipi kanan dan cium pipi kiri Aura. Ia mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus karena Aura bisa membuat anaknya jatuh cinta lagi.
"Iya, ma. Tidak hanya Rendra yang harus berterimakasih. Tapi aku juga. Aku benar-benar beruntung memilikinya yang tidak peduli siapa aku, bagaimana latar belakang keluargaku."
Naya hanya membalasnya dengan pelukan lagi.
Lalu berganti dengan Elnan dan Ela yang mengucapkan selamat.
"Selamat Ren. Aku harap kau bisa menjaga pernikahan kalian. Jaga emosi, jangan egois dan harus saling berbagi. Karena kalian sekarang adalah satu."
"Siap, terima kasih kak," jawab Aura.
"Iya aku tahu," jawab Rendra.
"Au, selamat ya. Nanti kalau Rendra jahil dan menyakitimu bilang saja padaku. Aku akan menghajarnya habis-habisan," ucap Ela.
Dibalas dengan pelototan mata yang tajam oleh Rendra.
"Ahaha. Tenang saja, aku bisa menghadapinya," jawab Aura.
"Baguslah kalau begitu. Aku mau makan dulu, lapar," ucap Ela sambil menggandeng tangan kakaknya.
Setelah itu, berurutan dari Alin, Sena, Ansel, Ele, Oma Helen, Noah, dan semua tamu undangan yang hadir bersalaman dengan sang pengantin.
Rendra melihat wajah Aura yang sedikit kelelahan.
"Cape? Mau istirahat sebentar?" tanya Rendra.
__ADS_1
"Tidak. Lagian sebentar lagi juga selesai. Tidak enak rasanya kalau meninggalkan tamu undangan," jawab Aura.
"Tidak apa-apa."
Aura menggeleng.
"Ya sudah, nanti kalau cape bilang ya?"
Aura mengangguk.
Waktu pun berlalu. Acara sudah selesai. Bahkan gedung untuk acara pernikahan pun dekorasinya sudah dibongkar. Seluruh keluarga Rendra pulang ke rumahnya. Sementara Alin dan Sena pulang ke rumah Aura.
Beda dengan sang pengantin baru, mereka akan menghabiskan malamnya di resort milik Rendra yang sudah dihias oleh para karyawan sebagai kamar pengantin.
Keduanya sudah ada di dalam kamar. Rendra dengan mudahnya langsung melepaskan tuxedo nya dan tinggal kemeja nya saja. Sementara Aura, ia masih mengenakan gaun pengantin itu.
"Aku mandi duluan ya sayang."
"Iya."
Di saat Rendra mandi, Aura melihat ke ranjang yang sudah dihiasi oleh kelopak bunga mawar merah berbentuk hati. Ia tersenyum bahagia. Masih tidak percaya bahwa dirinya sudah jadi seorang istri.
Lalu setelahnya, Aura berjalan ke jendela dan membuka tirainya. Pemandangan malam yang indah dengan cahaya lampu dan bintang-bintang di langit.
Hingga tanpa sadar ada Rendra di belakang Aura yang sudah selesai mandi.
"Aaaaa," teriak Aura sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa tidak pakai baju? Kenapa cuma pakai handuk saja sih?" kesal Aura yang masih di posisi semula.
"Ngapain pakai baju, nanti juga akan dilepas."
"Ihh, tapi tetap saja. Pakai baju dulu."
"Buka mata sayang. Apa kau tidak ingin lihat kotak-kotak di perutku?" goda Rendra.
"Tidak!"
"Ah, masa sih? Padahal biasanya para wanita akan tergoda dengan itu?" goda Rendra lagi.
"Ah, cepat pakai baju!"
"Hahaha, iya iya."
"Sudah belum?"
"Sebentar."
"Sudah, bukalah."
Aura pun menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Aura berteriak lagi. Karena rupanya Rendra masih sama seperti tadi.
"Aaaa."
__ADS_1
Rendra terkekeh lagi. Ia benar-benar gemas dengan Aura. Padahal mereka sudah suami istri kenapa harus malu dan berteriak begitu.
"Iya iya, kali ini sudah."
Dan benar, Rendra sudah memakai bajunya meskipun bawahannya masih mengenakan handuk.
"Mandilah, pasti tubuhmu terasa lengket. Mau aku bantu lepaskan gaunnya?" tawar Rendra.
"Eum, tidak usah. Sepertinya aku bisa melepaskan sendiri," tolak Aura.
Aura pun berjalan ke kamar mandi dan akan melepas gaunnya disana. Ternyata tidak semudah itu melepaskan gaunnya. Alhasil Aura pun keluar lagi dan meminta bantuan Rendra untuk melepasnya.
Rendra tersenyum. Sudah ia duga Aura akan kesusahan melepaskan gaunnya. Dengan perlahan Rendra menurunkan resleting gaun itu ke bawah. Ia bisa melihat punggung putih mulus milik Aura yang membuatnya menahan ludahnya.
Aaa, sial! Aku jadi ingin segera melakukannya.
"Sudah."
"Terima kasih."
"Terima kasih nya nanti setelah mandi. Ucapkan yang benar ya sayang," ucap Rendra sambil tersenyum penuh arti.
Aura mengangguk karena tidak paham arti senyuman itu.
Rendra duduk di ranjang yang ada kelopak bunga mawarnya. Memang sih terlihat romantis, tapi akan sangat mengganggu untuk malam pertamanya. Rendra pun menyingkirkan kelopak bunga itu ke bawah ranjang.
Sambil menunggu Aura selesai mandi, Rendra memainkan ponselnya sembari duduk di atas ranjang. Ia melihat foto-foto pernikahannya tadi.
"Cantik sekali," puji Rendra ketika melihat foto Aura.
Sebuah pesan pun masuk. Rupanya itu dari papanya.
Supaya kau tidak gugup nantinya. Ini papa berikan link tata cara berhubungan dengan wanita. Tonton saja, papa yakin seratus persen Aura nantinya akan ketagihan. Jangan kasar-kasar malam pertamanya. Kasian dia masih perawan.
"Aih! Papa ini apa-apa sih! Pakai kasih link segala. Aku juga sudah tahu caranya kali. Naluri pria kan semuanya sama. Sama-sama mesum."
Namun, walaupun kesal, tetap saja Rendra mengklik link itu dan menontonnya. Ia menonton dengan fokusnya. Sampai-sampai keringan dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sial! Kenapa aku tonton sih?"
"Kenapa Aura lama sekali mandinya."
Rendra pun menyudahi saja menonton video itu. Ia sudah mendapatkan beberapa trik dan tipsnya. Ia bertekad akan mempraktekannya langsung dengan Aura.
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun terbuka. Aura keluar dengan mengenakan handuk kimono milik Rendra. Ia lupa tidak membawa barang-barang berharganya ke dalam kamar mandi.
Melihat Aura yang keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut basah dan menetes ke wajahnya, membuat Rendra menelan ludahnya.
*
*
__ADS_1
TBC