Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 65 - Sama-sama masih berharap


__ADS_3

Paginya Rendra bangun lebih dulu. Ia menatap wajah Aura lekat-lekat. Ia juga menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Aura.


"Bangun sayang," ucap Rendra sambil mengecup pipi Aura.


"Eung? Jam berapa?" tanya Aura.


"08.00, tidurmu sepertinya nyenyak sekali ya. Apa yang semalam terlalu memabukkan hingga membuat tidurmu jadi nyenyak, hm?" goda Rendra.


"Apa sih?" jawab Aura yang malu-malu.


Rendra meng*lum senyum.


"Ayo mandi bersama."


Aura menggeleng. Ia seakan terbayang kejadian semalam. Pergulatan panas antara dirinya dan Rendra.


Aaaa. Aku sudah tidak perawan sekarang.


"Kenapa? Kita kan sudah saling tahu bagian tubuh masing-masing. Kau bahkan semalam seperti tidak merasa malu. Ahh, ahh, ahh."


Rendra menirukan suara d*sahan Aura. Aura refleks menutup mulut Rendra yang bar-bar. Suka sekali bicara sembarangan.


Rendra malah asik menggigit pelan tangan Aura.


"Ayo mandi. Kita kan harus pulang ke rumah."


Saat Aura akan mulai bangun, ia merasakan perih dan sakit di bagian intinya.


"Aww."


"Kenapa sayang? Apa sakit? Bagian mananya yang sakit? Apa kita cek saja ke dokter?"


Rendra panik dan ketakutan.


"Perih, itunya perih," jawab Aura.


Rendra pun mengeceknya. Ia menggigit bibirnya pelan. Ada rasa bersalah di dalam dirinya karena membuat milik Aura sedikit lecet. Ia terlalu bersemangat semalam, sampai membuat Aura kelelahan dan tak sadar membuat Aura kesakitan.


"Maaf."


"Tidak apa-apa. Hanya perih saja."


"Kita mandi bersama ya, aku akan memandikan mu dengan baik."


Aura mengangguk.

__ADS_1


Rendra menggendong Aura ala bridal style ke kamar mandi dan menjatuhkan pelan tubuh Aura di bathtub. Keduanya mandi bersama disana tanpa melakukan adegan mesum sama sekali. Karena Rendra takut Aura kesakitan lagi.


*


*


"Kenapa Rendra dan Aura belum datang juga?" tanya Naya yang menunggu kedatangan anak dan menantunya.


"Seperti tidak tahu saja sayang. Namanya juga pengantin baru. Pastilah cape, apalagi tadi malam adalah malam pertama mereka."


"Ah, benar juga."


Naya akhirnya lega setelah mendengar ucapan Richard. Keduanya pun akhirnya menunggu sambil menikmati cemilan di ruang tamu.


Tak lama pasangan pengantin baru pun datang. Aura berjalan terseok-seok karena bagian intinya yang terasa sakit. Naya yang melihatnya jadi tersenyum.


Sepertinya, malam pertama mereka berhasil tanpa adanya halangan apapun.


"Sudah makan sayang?" tanya Naya pada Aura.


Aura spontan menggeleng.


"Kau ini bagaimana sih Ren? Masa kau belum memberi makan istrimu?" marah Naya pada anaknya.


"Apa sih mama. Tanya Aura tuh! Katanya dia ingin makan masakan mama disini. Aku sih nurut saja."


Aura mengangguk.


"Ya sudah, ayo ke meja makan. Mama masak banyak sekali tadi."


Selesai makan, mereka pun berkumpul lagi di ruang tamu. Rendra bermaksud untuk berpamitan pada mama dan papanya. Ia ingin hidup berdua dengan Aura di rumah mereka sendiri.


"Ma, pa, Rendra sudah membeli apartemen di dekat perusahaan. Rendra berniat untuk tinggal disana bersama Aura untuk sementara sambil menunggu rumah yang Rendra bangun jadi."


"Ah, begitu. Mama bisa apa. Apapun keputusan kalian berdua, mama dan papa akan mendukungnya. Kapan kalian akan pindahan?" tanya Naya.


"Rencana sih hari ini. Tapi, sepertinya tidak jadi. Kemungkinan hari ini aku hanya akan memindahkan beberapa pakaian dan mengisi perabotan di apartemen. Lusa mungkin baru akan pindah."


"Syukurlah, mama kira kalian akan langsung pindah."


"Tidak ma."


*


*

__ADS_1


Berbeda dengan Elnan, semalam ia tiba-tiba saja ingin pergi ke apartemen tempat ia dan Meira dulu tinggal bersama selama menikah. Elnan sengaja tidak menjual apartemen itu karena banyak sekali kenangannya bersama Meira.


"Huh!" Elnan membuang napasnya perlahan.


"Di ranjang ini, biasanya aku dan Meira tidur bersama. Bahkan semua desain ruangan tak aku ubah satu pun meski kita sudah berpisah. Kenapa sulit sekali melupakanmu, Mei?"


Elnan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan menutup matanya lalu tertidur.


Paginya, Elnan terbangun dengan ingatan dimana Meira membangunkan dirinya dengan kecupan kecupan hangat di wajahnya.


"Astaga!"


Elnan mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia bisa gila jika terus-menerus memikirkan Meira.


"Lagipula, Meira pasti sudah bahagia bersama laki-laki itu, huh! Hanya kau yang masih berharap Elnan!"


Elnan pun bangun dari rebahannya. Ia membuka tirai jendela dan memperlihatkan pemandangan perkotaan.


Sesekali ia melihat ke ponselnya. Foto dirinya dan Meira masih ada beberapa di galeri ponselnya.


Elnan berjalan ke dekat laci yang ada di samping ranjang. Ia membuka sebuah kotak, dimana disana tersimpan foto Meira bersama laki-laki lain yang sedang berpelukan dan berciuman.


Nyes!


Dada Elnan terasa sesak kembali. Ia pun menutup kotak itu lagi. Seharusnya ia sudah membuangnya tapi entah kenapa Elnan malah lebih memilih untuk menyimpannya.


"Kenapa kau jahat sekali Mei? Apa salahku? Kenapa kau tega berkhianat dariku? Kenapa kau juga tega membunuh anak kita?"


Elnan hanya mampu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Karena ketika bertanya pada Meira, wanita itu pasti tidak akan menjawabnya. Padahal, bukan tidak mau menjawab, tapi Elnan sendirilah yang dulu tidak mau mendengar penjelasan dari Meira dan memutuskan secara sepihak dalam keadaan emosi.


*


*


Sama halnya dengan Meira di panti asuhan, wanita itu terus merenung, termenung sendirian di bawah pohon. Ia mengingat semua kenangannya bersama Elnan. Semuanya terasa begitu indah, sampai akhirnya seseorang datang untuk menghancurkan semuanya.


Sebenarnya Meira tidak tahu siapa laki-laki yang tiba-tiba datang dan langsung menciumnya begitu saja sampai Elnan melihatnya. Kalau bisa memutar waktu, Meira ingin sekali mengatakan semuanya. Bahwa ia tidak selingkuh, ia tidak menggugurkan kandungannya.


"Huh! Sadarlah Meira! Semua sudah berlalu! Jangan terus terpaku pada masa lalu."


Kemudian, Meira bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk membantu ibunya.


Baik Elnan ataupun Meira. Sebenarnya keduanya masih sama-sama berharap kembali. Namun yang satu enggan bertanya dan yang satupun tidak mau menjelaskan.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2