Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 53 - Menikahlah denganku!


__ADS_3

Hari-hari sibuk Rendra telah berlalu. Pria itu kini menyiapkan sebuah makan malam mewah di salah satu restoran bintang 5. Karena tak ingin ada yang salah nantinya, Rendra memilih untuk ikut andil dalam mempersiapkan semuanya.


Rendra tersenyum senang ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kini ia hanya harus mengganti pakaiannya dan menjemput pujaan hatinya.


Mobil Rendra sudah berada di halaman rumah Aura. Rendra pun keluar dari mobilnya ketika melihat Aura yang keluar dari pintu rumahnya dengan mengenakan gaun cantik berwarna dusty serta rambutnya yang digelung menambahkan aura kecantikan di wajah pujaan hatinya.


Aura berjalan menghampiri Rendra.


"Ayo berangkat!" ajak Aura.


"Cantik sekali," puji Rendra.


Aura tersenyum mendengarnya. Ia memang ingin selalu terlihat cantik di hadapan Rendra.


Lalu Rendra pun membukakan pintu mobil untuk Aura. Setelah itu mereka berdua pergi menjauh dari sana.


Sesampainya di tempat tujuan, Rendra terus menggandeng tangan Aura. Ia bahkan menarik kursi yang akan diduduki oleh Aura. Aura merasa jadi wanita paling istimewa dan beruntung malam ini.


"Kenapa di lantai ini sepi sekali Ren? Padahal tadi ketika kita masuk di lantai bawah sangat ramai?" tanya Aura.


Rendra hanya mengangkat bahunya tidak tahu. Padahal dirinya sengaja menyewa satu lantai penuh untuk menikmati waktu bersama Aura.


Makanan yang dipesan Rendra pun datang. Keduanya makan sambil bercanda tawa. Sesekali Aura melihat pemandangan ke luar jendela.


Indah! Sangatlah indah! Ia seperti melihat gemerlap bintang. Padahal itu hanyalah lampu-lampu dari perkotaan.


"Kau suka tempat ini?" tanya Rendra. Aura pun mengangguk.


"Aku bisa membeli gedung ini jika kau menginginkannya."


Mendengar hal itu, Aura langsung menatap Rendra.


"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?"


"Ren,"


"Iya?"

__ADS_1


"Apa kau selalu memanjakan kekasihmu seperti ini? Memberikan mereka fasilitas dan segala yang mereka minta?"


Entah kenapa Aura jadi merasa cemburu dan kesal membayangkan Rendra yang selalu bersikap manis pada mantan laki-laki itu dulu.


"Ya, begitulah."


Aura hanya mampu menghela napas. Ia meraih tangan Rendra dan menggenggamnya.


"Jika padaku, aku hanya ingin kau tidak terlalu mengikuti apa yang aku minta. Aku juga tidak gila akan harta. Cukup berikan perhatian, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Hal sederhana akan terasa sangat berharga jika yang melakukannya adalah orang yang kita cintai. Jadi, mulai sekarang lihatlah dan lakukan sesuatu dengan sudut pandang lain dan gunakan hatimu."


Rendra tertegun mendengar perkataan Aura itu. Hanya wanita itu yang mampu membuat dirinya diam ketika sedang dinasehati. Kemudian Rendra tersenyum dan mengecup tangan Aura.


"Kenapa kita tidak dari dulu saja dipertemukan? Mungkin aku tidak akan jadi Rendra yang pertama kali bertemu denganmu. Rendra yang menatap sinis wanita dan mengganggap semua sama. Sama-sama gila akan harta."


"Terkadang kita harus merasakan rasa sakit lebih dulu sebelum bertemu dengan bahagia, agar kita tahu bagaimana rasanya sakit dan tidak akan memberikan rasa sakit itu pada orang lain," ucap Aura.


Rendra tersenyum mendengarnya. Benar apa yang dikatakan Aura. Karena rasa sakit itu, ia bertemu dengan Aura. Harusnya ia berterima kasih kan?


Rendra berdiri dari duduknya, dan mengulurkan tangannya pada Aura. Aura menerima uluran itu.


"Aku mencintaimu, Au. Sangat sangat mencintaimu."


Deg!


Jantung Aura berdebar-debar tak karuan. Ini pertama kalinya, Rendra mengungkapkan rasa cintanya. Selama ini mereka hanya saling memberi perhatian dengan tindakan dan jarang sekali mengungkapkannya lewat kata-kata.


Aura seakan ingin menangis. Ia bisa merasakan cinta yang begitu besar yang Rendra berikan padanya.


"Aku juga mencintaimu." Aura pun mengungkapkan rasa cintanya. Ia juga ingin memberikan cinta tulus yang besar untuk Rendra.


Keduanya tersenyum dan wajah keduanya terus menerus mendekat hingga bisa mendengar deru suara napas dari masing-masing.


"Aku ingin mencium mu."


"Lakukan saja."


Bibir keduanya sudah saling menempel. Mereka menikmati rasa kenyal itu dan sensasi ketika bibir mereka beradu. Ketika Aura sudah kehabisan napasnya, Rendra menghentikan kegiatan itu.

__ADS_1


Rendra langsung memeluk Aura dengan sangat erat seolah tak ingin wanita itu jauh darinya bahkan untuk 1 meter sekalipun. Ia mengecup puncak kepala Aura. Musik masih terus berputar. Mereka pun masih saling bergerak di dalam pelukan sesuai irama. Menikmati masa-masa indah yang mungkin akan segera selesai sebentar lagi.


Tangan Rendra masuk ke dalam saku yang ada di jasnya. Ia mengambil sebuah kalung dan langsung memakaikan kalung itu tanpa Aura sadari.


Selesai dengan semua keromantisan itu, Rendra menggandeng Aura untuk pergi dari restoran. Aura baru menyadari bahwa di lehernya ada sebuah kalung. Ia melihat ke Rendra dan Rendra membalasnya dengan senyuman.


"Terima kasih."


"Aku ingin hal lain selain ucapan terima kasih."


"Ingin apa?"


Bukannya menjawab, Rendra malah buru-buru membawa Aura masuk ke dalam mobilnya.


Keduanya duduk saling berhadapan di kursi di belakang kemudi. Suasana begitu hening karena Rendra masih terdiam dan menatap wajah Aura dengan intens.


"Au, aku ingin kau selamanya jadi milikku. Itu yang aku inginkan. Menikahlah denganku!"


Aura menganga tidak percaya. Bahkan hubungan mereka saja belum sampai satu tahun. Ya, walaupun lamanya berhubungan tidak menentukan mereka akan berakhir dengan bahagia. Tapi, tetap saja, Aura masih tidak percaya Rendra mengajaknya menikah.


"A-aku ... "


Tiba-tiba Rendra mengeluarkan sebuah cincin dari kantung jas nya.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Au. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu. Satu-satunya cara yang aku pikirkan hanya mengikatmu agar terus bersamaku. Jadi, bagaimana jawabanmu? Aku tidak akan memaksamu hari ini untuk menjawab. Tapi aku akan tetap mengajakmu menikah sampai kau menerimanya."


"A-aku mau," jawab Aura dengan wajah malu-malunya.


Dengan cepat, Rendra memakaikan cincin di jari manis sebelah kiri Aura. Setelah itu ia mengecup kening Aura dalam-dalam.


Rasa bahagia terus terpancarkan dari mata Rendra. Ia benar-benar merasa hidupnya yang dulu hitam putih mulai terisi warna baru.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2