
Aura membuka pintu kamar mereka. Bau alkohol menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Sesekali Aura menutup hidungnya. Terlihatlah Rendra yang masih dalam posisi yang sama ketika Naya dan Richard melihatnya tadi. Botol-botol alkohol pun masih berserakan disana. Bahkan ada beberapa bungkus rokok juga.
Keadaan Rendra sungguh sangat mengenaskan. Apalagi ketika Aura melihat wajah suaminya yang sudah tumbuh kumis dan jambangnya. Rambutnya pun sudah agak panjang tak terawat sedikit pun. Di tambah dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Benar-benar membuat hati Aura teriris.
Aura berjalan tanpa suara, akan tetapi Rendra mampu menyadari kehadiran Aura karena bau parfum yang dipakai Aura.
"Aura? Kau kah itu?" tanya Rendra kemudian membuka matanya yang tadi terpejam.
Aura terdiam dan enggan menjawab. Ia hanya melangkahkan kakinya untuk mendekat ke hadapan Rendra.
"Kau pulang sayang?" tanya Rendra lagi.
Aura masih terdiam. Posisi Aura kini sudah berjongkok di hadapan Rendra.
"Kau tidak akan pergi lagi setelah ini kan? Kau akan tetap disini bersamaku kan?" tanya Rendra dengan mata sayu nya.
"Maafkan aku, maafkan aku yang telah menyakitimu," tambah Rendra lagi.
Tangan Aura terulur untuk menyentuh rambut-rambut halus yang ada di wajah Rendra. Ia bahkan menyibak rambut Rendra yang sudah panjang itu, agar ia bisa melihat wajah Rendra dengan jelas.
"Sayang," lirih Rendra kemudian meraih tangan Aura meski tubuhnya sudah sangat lemas.
"Bodoh!"
Satu kata itu yang keluar dari mulut Aura. Meski hatinya sudah menangis, Aura mencoba untuk menahannya.
"Kenapa kau bodoh sekali? Kau mau aku jadi janda muda dan ibu muda? Iya?"
Rendra menggeleng pelan.
"Lalu jika tidak ingin, kenapa membiarkan tubuhmu kesakitan dengan banyak minum alkohol begini? Bahkan sepertinya kau tidak merawat dirimu sendiri. Sudah berapa lama di apartemen?"
"Empat atau lima hari mungkin. Apa seminggu ya?" ucap Rendra sambil mengingat-ingat kembali.
Aura membuang napasnya perlahan.
__ADS_1
"Harusnya aku yang didatangi olehmu. Harusnya aku yang dibujuk olehmu untuk pulang. Kenapa kau jadi seolah-olah korbannya sih?!" kesal Aura dengan kelakuan Rendra.
Memang benar apa yang dikatakan Aura. Ia bahkan tidak punya cukup keberanian untuk datang dan menemui Aura langsung di rumah Sena. Ia hanya mempu melihatnya dari kejauhan.
"Maaf, maafkan aku yang bodoh ini!" ucap Rendra sambil tertunduk.
"Aku salah, aku mengakui salah dan menyesal telah mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatimu. Aku bahkan tidak mempercayai istriku sendiri dan tidak memberikanmu waktu untuk menjelaskan. Maafkan suami bodoh mu ini." Rendra masih tertunduk mengatakannya.
"Kalau mau minta maaf ucapkan yang benar! Lihat wajahnya dan tatap matanya!" pinta Aura dengan ketusnya.
"Kenapa jadi galak gini?" tanya Rendra tiba-tiba. Karena merasa Aura seperti orang lain.
"Ya sudah, aku pergi lagi saja," ucap Aura kemudian akan bangun dari jongkoknya akan tetapi ditahan oleh Rendra.
"Maaf, maafkan aku. Suami bodoh mu ini sudah menyesali perbuatannya yang menyakiti istrinya," ucap Rendra sambil menatap wajah Aura.
Aura tak bereaksi sama sekali.
Tak lama kemudian, Aura mulai bersuara dan mengolok-olok Rendra.
"Kau suami bodoh! Suami kejam! Tega sekali menyakiti istrimu sendiri! Kau begitu mudahnya percaya pada orang lain. Seharusnya kau nikahi saja orang lain kan? Kenapa harus aku yang kau nikahi kalau kepercayaanmu padaku saja hanya seujung kuku. Bahkan aku masih ingat sekali kata-katamu di hari itu."
"Sudahlah, dasarnya dari dunia malam! Pasti sebenarnya kau berhubungan dengan banyak pria kan? Kau melakukan operasi selaput dara kan!?Dasar murahan! Pelacur!"
"Dengan mudahnya kau mengatakan itu padaku! Memang tidak seharusnya kita menikah. Kita bahkan belum saling mengenal begitu lama."
Rendra menggeleng. Ia tidak setuju dengan perkataan Aura yang mengatakan seharusnya mereka tidak menikah. Itu tidak benar. Seharusnya ia bisa menjaga ucapan dan menjaga istrinya. Bukan malah menyakitinya.
"Mungkin, ini adalah salah satu cara Tuhan untuk menyadarkan kita berdua. Kalau kita memang tidak pantas untuk bersama. Meski terlihat saling mencintai, tapi nyatanya cinta saja tidak cukup kan? Bahkan rasa cinta itu sekarang sudah mulai menyakiti hatiku."
Aura tersenyum kecut ketika mengatakannya.
"Orang yang seharusnya melindungi aku, menjagaku, dan menyayangiku sepenuh hati. Justru menjadi orang yang paling menyakiti hatiku, menusuk jantungku hingga sakit tapi tak berdarah. Mungkin jika orang lain yang mengatai ku sebagai pelacur, atau wanita murahan dan melakukan operasi selaput dara, aku biasa saja dan tak akan memperdulikannya. Tapi ini? Orang yang paling aku cintai dan aku percayai! Suamiku sendiri lah yang mengatakannya. Hahaha! Miris sekali!"
"Maaf, maafkan aku, huhu."
__ADS_1
Rendra meminta maaf lagi pada Aura. Ia menangis mendengar ucapan istrinya sendiri. Ia semakin sadar dia sudah melakukan kesalahan besar dengan tidak mempercayai istrinya sendiri.
"Mengucapkan kata maaf itu gampang."
"Maaf, aku minta maaf," ucap Richard lagi sambil tertunduk kembali. Ia rasanya tidak sanggup untuk terus menatap wajah Aura yang dingin dan bahkan tak ada senyum sama sekali di bibirnya. Aura nya sudah berbeda.
"Aku harus apa supaya kau bisa memaafkan aku?" lirih Rendra.
Ya Tuhan, tolong selamatkan rumah tanggaku. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dengannya, hiks. Aku tahu aku salah. Tapi, biarkan aku egois dan serakah, aku ingin terus bersamanya.
Aura diam lagi tidak menjawab. Sejujurnya ia pun tak tahu Rendra harus melakukan apa. Melihat suaminya yang begitu mengenaskan dan tak berdaya membuat dirinya iba dan tak tega. Tapi, hatinya masih ingin menumpahkan segala rasa sakit yang dialaminya. Ia masih belum puas mengatakan semuanya.
"Katakan Au! Aku akan melakukan apapun agar kau bisa memaafkan aku. Hatiku sakit sekali ketika melihatmu yang tersenyum bahagia di rumah Sena tanpa kehadiranku. Rasanya seperti aku sudah tak dibutuhkan lagi di sisimu. Aku bahkan tidak enak makan dan melakukan apapun setelah kau pergi dari rumah."
"Hanya melihatku seperti itu saja kau sudah sakit hati. Bagaimana dengan aku?"
Pertanyaan yang membuat Rendra terdiam. Ia benar-benar mati kutu. Tak tahu harus menjawab apa. Tentunya hati Aura lebih sakit daripada apa yang dirasakannya.
Kepala Rendra semakin tertunduk, ia bahkan menjatuhkan kepalanya di lutut Aura.
"Tolong maafkan aku, kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan berjanji apapun lagi. Aku akan berusaha yang terbaik supaya tidak menyakitimu lagi. Jika hal itu terjadi lagi, kau boleh pergi meninggalkanku."
"Jadi kau tidak bersungguh-sungguh padaku? Kenapa harus ada kemungkinan akan terjadi lagi? Kalau seperti itu, lebih baik kita jalani hidup masing-masing saja."
"Tidak! Jangan! Aku akan berusaha dengan segenap jiwa dan ragaku untuk membuatmu lebih bahagia dan tidak akan menyakiti hatimu lagi," ucap Rendra yang mengangkat kepalanya dari lutut Aura.
Aura bangkit dari jongkoknya dan berganti jadi berdiri.
"Mari kita introspeksi diri kita masing-masing. Aku akui, aku juga salah, seharusnya aku lebih sabar dan tidak ikut emosi juga. Jadi, lebih baik kita renungkan semuanya baik-baik. Setelah itu kita bisa bicara lagi untuk hubungan kita selanjutnya."
"Apa itu artinya kau tidak akan pergi meninggalkan aku? Itu artinya kita tidak akan berpisah kan?" tanya Rendra.
Aura hanya mengangkat bahunya tidak tahu, membuat Rendra lemas seketika.
*
__ADS_1
*
TBC