Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 19 - Rendra dalam suasana hati yang buruk


__ADS_3

Siangnya, Aura pergi jalan-jalan untuk membeli pakaian. Tak sengaja matanya melihat papan nama butik 'Nae Fashion'. Ia juga melihat disana terdapat banyak pakaian yang bagus-bagus dan juga kekinian.


"Wah, baju dan dress nya bagus-bagus. Apa aku coba lihat kesana ya? Kalau nanti harganya mahal, setidaknya aku sudah melihat koleksinya dan aku bisa mengumpulkan uang agar cukup membeli baju disana," ucap Aura.


Kaki Aura melangkah masuk ke butik tersebut. Ia langsung disambut oleh pegawai disana.


"Selamat pagi, selamat datang di Nae Fashion. Mau cari pakaian seperti apa kak?" tanya pekerja disana.


"Selamat pagi juga. Saya mau melihat-lihat dahulu," ucap Naya.


"Baik, silahkan kak," jawab si karyawan.


Aura pun melihat pakaian yang ada disana. Tak lupa ia juga melihat harga yang tertera di bandrol pakaian tersebut.


"Astaga! Mahal sekali harganya. Satu dress panjang selutut saja harganya 2 juta. Tapi, modelnya memang bagus sih," ucap Aura yang kaget melihat harga dress yang ia sukai model dan warnanya.


Aura pun melihat ke beberapa pakaian lainnya. Ia hanya bisa mengelus dada melihat harga-harga pakaian disana yang berada di atas satu juta. Baginya satu juta itu bisa untuk makan selama dua minggu. Rasanya sayang sekali jika dipakai untuk membeli dress.


Aura pun hendak keluar dari butik tersebut sambil terus memandang dress yang ia sukai itu. Tiba-tiba sebuah tangan mencelanya.


"Eh," kaget Aura.


"Kau wanita yang waktu itu ada di kamar resort Rendra, kan?" tanya Ela.


"Eh, kok tahu?"


"Aku wanita yang waktu itu datang dan teriak-teriak," jawab Ela.


"Oh, jadi kau adiknya Rendra ya?" tanya Aura memastikan.


"Bukan," ucap Ela menyangkal.


"Lah? Kata Rendra kau adiknya."


"Lebih tepatnya kembaran," ucap Ela memberitahu.


Aura membulatkan mulutnya berkata, "O." Lalu bertanya lagi, "Kau mau beli baju disini?"


"Tidak, ini butik milikku," jawab Ela.


Aura langsung menganga dibuatnya. Seketika Aura sadar, kalau keluarga Rendra memang bukan dari keluarga biasa. Rendra nya saja menjadi pewaris dari perusahaan Kav Corp, sangat tidak mungkin jika kembarannya tidak memiliki apapun untuk dibanggakan.

__ADS_1


"Oh, iya. Kita belum berkenalan aku Naela, panggil saja Ela," ucap Ela memperkenalkan diri.


"Aura," jawab Aura.


"Namamu cantik seperti orangnya," puji Ela.


"Haha." Aura membalasnya dengan tertawa. Namanya memang bagus, tapi tidak sebagus kehidupannya. Yang sudah sejak dulu.


"Bagaimana kau bisa kenal dengan Rendra?" tanya Ela lagi.


"Di club Century," jawab Aura.


Ela pun mengangguk-angguk.


"Aku pergi ya, koleksi pakaian dan dress disini bagus-bagus. Kau pandai memilih modelnya," puji Aura.


"Terima kasih, semua pakaian yang ada disini akulah yang mendesainnya."


Lagi-lagi Aura dibuat tercengang. Sudah baik, cantik, kaya, rupanya berbakat juga. Benar-benar definisi wanita sempurna.


"Sama-sama."


*


*


"Ini jeng saya bayar untuk arisannya," ucap salah satu dari anggota arisan itu.


"Ini saya juga," ucap yang lain mengikuti.


Setelah semuanya sudah terkumpul, arisan pun mulai dikocok dan munculah satu nama pemenangnya yaitu Stella.


"Wah, selamat ya jeng, padahal aku berharap kali ini aku yang menang," ucap anggota arisan yang ada disana.


"Wah, sayang sekali. Hari ini keberuntungan menjadi milikku jeng," ucap Stella.


"Ngomong-ngomong kenapa jeng Naya tidak datang hari ini ya?" tanya salah satu dari mereka.


"Entahlah, jeng Naya tidak mengatakan apa alasannya. Tapi tenang saja, dia itu sudah menitipkan uangnya padaku," jawab Stella.


"Tau nggak sih jeng, sekarang itu banyak sekali pelakor muda berkeliaran. Kemarin aku melihat suaminya temanku keluar dengan perempuan yang bukan istrinya. Mana mesra gitu perlakuannya," ucap salah satu anggota arisan bernama Gina.

__ADS_1


"Iya ih jeng, aku jadi takut kalau suamiku juga jajan di luar. Apalagi sekarang aku sudah tidak bisa lagi punya anak udah 4 kali melahirkan dengan cara caesar. Apalagi kata suami kalau main pakai pengaman itu nggak enak, terus aku juga tidak diperbolehkan untuk KB," ucap salah satu anggota disana.


"Wah, jangan sampai lah itu jeng," sahut yang lainnya.


Sementara Stella, ia hanya terdiam saja mendengarkan perdebatan tersebut. Bagaimana jika semua teman arisannya tahu, kalau suaminya jajan di luar? Bisa saja mereka akan menggunjing dirinya di belakang juga. Stella tidak ingin wibawanya turun karena diselingkuhi oleh suaminya. Jika hasil akhirnya berpisah, ia lebih memilih untuk berada di pihak dia yang menyelingkuhi daripada ia yang diselingkuhi.


"Tumben, diam saja jeng? Biasanya jeng Stella yang selalu banyak gosip dan berita-berita terbaru. Kenapa sekarang malah diam?" tanya salah satu anggota yang penasaran.


"Tidak apa-apa jeng. Saya hanya sedikit pusing saja," alibi Stella.


"Waduh, kalau begitu kita semua pamit saja jeng. Biar jeng Stella bisa istirahat dengan nyaman. Lagipula arisannya juga sudah selesai. Cepat sembuh ya jeng."


"Iya terima kasih. Hati-hati ya kalian semua.


Semuanya mengangguk.


Setelah kepergian semuanya, Stella memijat kepalanya yang sedikit pusing memikirkan rumah tangganya. Andrew yang selalu pergi ketika ada masalah, anaknya yang terus-menerus mencari papanya dan juga dirinya yang benci akan Aura, si pelakor di rumah tangganya bagi Stella.


"Haaah, wanita itu! Semua gara-gara dia!" kesal Stella.


*


*


Berbeda dengan Rendra, ia dipusingkan dengan kerjasamanya yang terancam batal karena salah satu pemilik ruko tidak mau menjual ruko itu padanya.


"Bagaimana sih kerja kalian!? Aku kan sudah bilang! Jelaskan semua isi proposalnya! Sudah sejelas itu isinya, harusnya kalian bisa membuat pemilik ruko itu setuju! Kalau begini caranya! Aku tidak akan bisa membangun pusat perbelanjaan disana! Haish! Pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus mendapatkan ruko itu!" Marah Rendra kepada karyawannya.


Si karyawan yang dimarahi terus menunduk, sementara karyawan yang mengintip dari luar hanya mampu mengelus dadanya. Jika sudah seperti ini, semuanya akan kena imbasnya. Yang salah akan tetap bersalah dan yang benar pun kadang dianggap salah. Itulah karakter Rendra ketika kesal dan marah.


"Nasib, nasib! Untung saja kerja disini gajinya besar! Kalau tidak, aku tidak akan mungkin sanggup menerima amarah Tuan Rendra. Kenapa anak sama bapak bisa berbeda sekali sikapnya?"


Seketika si karyawan yang mengintip dari luar pun bertanya-tanya tentang perbedaan karakter Rendra dengan sang ayah. Jika Richard dulunya ramah dan baik hati, berbeda dengan Rendra yang dingin dan kejam akan tetapi soal gaji, Rendra lebih memanusiakan manusia.


Yang dimarahi pun keluar dari ruangan dengan wajah piasnya, membuat karyawan lain jadi menelan salivanya.


"Hati-hati yang mau bertemu dengan Tuan Rendra, suasana hatinya sedang buruk sekarang. Lebih baik jika ingin menghadap, cek semua isi laporan atau dokumen dan perjelas semua yang akan kalian sampaikan. Jika tidak, kemungkinan nasibnya akan sama denganku!" ucap si karyawan mengingatkan.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2