
Bukti-bukti sudah terkumpul dan telah dikirimkan ke kepolisian yang mengatakan bahwa Rico telah melakukan usaha ilegal yaitu sebagai penjual dan agen dari obat-obatan terlarang. Begitu juga dengan perusahaan RJ Group yang hanya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi bisnis aslinya. Semuanya dijalankan secara mulus, makanya tidak terdeteksi oleh pihak kepolisian.
Tapi karena adanya bantuan dari keluarga Kavindra, semuanya bisa terbongkar dan siap untuk diserbu ke rumahnya. Tentunya sebelum polisi datang untuk menyergap, kelompok Richard duluan lah yang akan datang.
Bahkan kini mereka sudah siap dengan penyamarannya. Memakai pakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam juga. Kecuali Sena yang akan jadi penjual minuman. Ia sudah difasilitasi sepeda ontel dengan keranjang minuman yang sudah tersedia berbagi macam minuman yang siap diseduh.
"Ayo kita berangkat!" ajak Richard.
Richard dan Nicolas berada di dalam satu mobil yang sama. Ansel, Rendra dan Sena juga berada di dalam satu mobil yang sama juga. Jadi, mereka datang kesana dengan membawa dua mobil.
Di perjalanan, Sena sedikit gugup dan gelisah. Ia tidak tahu medan apa yang akan ia lalui nantinya.
"Kalau kau tidak ingin ikut. Katakan saja, mumpung kita belum beraksi," ucap Ansel memberikan pertimbangan ke Sena.
"Tidak, aku akan ikut. Demi Aura."
"Baiklah," jawab Ansel lalu diakhiri helaan napas kasarnya.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di lokasi yang tak jauh dari rumah Rico. Sena dijelaskan tentang rencana mereka. Sena juga diperlihatkan penjaga disana yang memiliki tubuh kekar. Sena hanya bisa meneguk ludahnya. Bagaimana jika obat tidur tidak mempan untuk mereka?
Glek!
Lagi-lagi Sena menelan ludahnya.
"Sudah siap Sen? Ini om sudah mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu bersikap seperti penjual jangan lupa harus pandai merayu, supaya penjaga itu bisa membeli minumanmu."
"Ah, siap om."
Rencana pun di mulai.
Sena berjalan dari ujung timur dengan membawa sepedanya yang berisi barang dagangan. Kemudian ketika melihat dua orang penjaga. Ia menawarkan dagangannya.
"Hai om, mau beli minuman tidak? Sepertinya kalian berdua sangat kelelahan. Lihatlah keringat kalian keluar sebesar biji jagung. Ayo beli minumanku dijamin langsung segar bugar kembali. Mau kopi? Teh? Jamu? Atau vitamin kuat sekalipun ada. Tinggal pilih saja om. Untuk harganya, tidak mahal. Cukup 5-20 ribuan saja."
Sena sudah mulai beraksi sebagai pedagang.
Kedua penjaga itu saling menatap satu sama lain. Mereka memang kelelahan dan kurang tidur karena harus menjaga rumah hampir 22 jam. Bahkan jika ingin tidur pun hanya bergantian beberapa jam saja.
Tanpa banyak mikir, keduanya membeli jamu agar tubuh mereka bisa vit kembali. Dengan senang hati Sena melayani mereka berdua. Sebuah senyuman pun mengembang di bibir Sena.
"Gratis senyuman manis dariku untuk om om yang mau membeli daganganku."
Kedua penjaga itu langsung dibuat salah tingkah oleh Sena.
Cih! Digombalin sedikit saja sudah meleleh. Dasar pria hidung belang! Badan aja gede! Tapi kesetiaan tidak punya!
Sena ngedumel di dalam hatinya. Ia sudah tidak sabar melihat kedua pria itu terkapar lemah tak berdaya.
Setelah minuman habis, obat tidak langsung bereaksi. Harus menunggu beberapa menit dulu supaya bereaksi.
"Duh, kenapa tiba-tiba jadi ngantuk ya?"
"Iya, aku juga jadi ingin tidur, hoamm!"
Keduanya langsung ambruk seketika. Untung saja Ansel dan Rendra datang tepat waktu jadi suara jatuhnya kedua orang tersebut tidak sampai terdengar.
Kedua penjaga itu diseret ke tempat sepi dan langsung diikat oleh Rendra dan Ansel kemudian ikatan tali itu diikat kembali ke pohon besar supaya tidak kabur. Tak lupa mulut keduanya pun dilakban agar mereka tidak bisa bersuara.
__ADS_1
Setelahnya, Sena diminta untuk menunggu di mobil saja. Lalu Richard, Nicolas, Ansel dan Rendra mulai masuk ke dalam rumah dengan mengendap-ngendap.
Tiba-tiba Rendra ditarik oleh Richard untuk mendekat padanya.
"Hati-hati, hampir saja tadi kau ketahuan oleh penjaga pintu rumah Rico."
"Makasih pa."
Richard mengangguk.
Tanpa menimbulkan keributan, dari belakang, Richard dan Nicolas langsung memukul tengkuk penjaga pintu. Lalu meminta Ansel dan Rendra untuk mengikat orang itu.
Setelah satu per satu penjaga ditumbangkan, akhirnya ia berhasil masuk ke dalam rumah megah milik Rico. Berjalan santai seolah tak ada lagi penjaga di dalam rumah. Dan benar saja, memang tak ada satupun penjaga disana.
Richard melihat Rico yang sedang asik menonton televisi dengan beberapa cemilan di atas meja. Dengan tidak tahu malunya Richard dan Nicolas malah ikut duduk dan menonton disana. Tak lupa mereka juga ikut memakan cemilan milik Rico itu. Membuat Rico yang ada disana jadi terperangah tak percaya.
Bagaimana kedua orang ini bisa masuk ke dalam rumahnya?
"Enak sekali menonton televisi dan makan cemilan seperti ini. Bagaimana kau bisa kaya kalau tiap hari hidupmu enak begini?" tanya Richard yang masih berpura-pura fokus menonton.
"Kenapa kalian berdua bisa masuk? Untuk apa kalian datang? Aku bahkan sudah tak pernah lagi mengganggu kalian." tanya Rico berpura-pura sudah tobat.
"Memangnya datang ke rumah teman sendiri tidak boleh?"
"Iya, aku juga kan hanya mengunjungi sepupuku. Lagian kau, aku cari-cari selama ini tidak ketemu. Tahunya sekarang sudah jadi orang kaya."
Rico tidak benar-benar percaya dengan ucapan dari Richard dan Nicolas. Ia masih merasa ada yang janggal. Seharusnya mereka berdua tidak masuk, kalaupun bisa masuk pasti wajahnya sudah babak belur.
"Kenapa kau jadi menatap kami tajam begitu? Masih heran ya kenapa kami bisa masuk?" tanya Richard dengan senyuman seringai di bibirnya.
Rico jadi kesal dan terpancing emosinya. Richard sejak dulu memang paling jago dalam memporak-porandakan emosi Rico. Karena ternyata dendam Rico pada Richard tidak pernah menghilang.
"Jangan sembarang menuduh!" pekik Rico dengan nada tinggi.
"Waduh! Kenapa kau jadi kesal begini sih? Aku kan tadi hanya becanda dan menebak-nebak saja. Kalau kau sampai kesal begini kan, aku jadi berpikir kalau yang tadi aku katakan tadi benar."
Brak!
Rico memukul meja di hadapannya.
"Pergi kalian berdua! Kalian tidak punya alasan lagi untuk bertemu denganku! Jalani hidup kalian masing-masing!Jangan ikut campur urusan orang lain!" marah Rico.
"Bicara tentang alasan, tentunya aku ada alasan kenapa sampai bisa ada di depan matamu," ucap Richard yang kini tatapannya sudah berubah jadi tajam.
Ia menarik kerah baju Rico dan menjatuhkannya ke lantai.
"Kau pikir aku tidak tahu, apa yang kau rencanakan selama ini? Hah? Kau masih saja berkeliaran di sekitar keluargaku! Kau bahkan menghancurkan kebahagiaan anak-anakku! Heh! Manusia biadab! Kapan sih kau sadar? Hah!"
Rico ikut tersenyum menyeringai juga. Ia tak lagi ingin berpura-pura jika Richard sudah mengetahui semuanya.
"Hahaha, rupanya kau sudah tahu ya? Bagaimana? Apa kau tersiksa melihat anak-anakmu menderita? Oh harusnya aku bunuh saja istrimu supaya kau jadi mayat hidup, hahahah!"
Bug!
Satu pukulan mendarat di perut Rico.
Tiba-tiba Ansel dan Rendra muncul dari luar rumah.
__ADS_1
"Cih! Rupanya kau beraninya keroyokan!" ejek Rico.
"Memangnya kenapa? Kau juga beraninya main belakang! Dasar pengecut!"
Bug!
Satu pukulan kini mendarat di pipi Rico.
"Pukul saja aku terus, tapi jangan salahkan aku jika nyawa istri dan anak perempuanmu melayang!" ancam Rico dengan senyuman miringnya.
"Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kalau kau sengaja melumpuhkan para penjaga di rumahku. Untuk itu, aku juga mengirim orang untuk pergi ke rumahmu dan membawa mereka pergi!"
Karena tidak percaya dengan ucapan Rico. Richard jadi terus menerus memukul Rico.
"Kalau kau tidak percaya, coba saja telepon istri atau anakmu. Pasti yang mengangkat adalah anak buahku."
Dengan cepat Rendra langsung menelpon mamanya. Dan benar saja, yang mengangkat adalah orang suruhan Rico. Hanya terdengar tangisan dari Naya dan Ela disana.
"Gimana? Kau sudah percaya kan? Hahahaha!"
"B*ngs*t! Dasar bajingan! Kau bawa anak dan istriku kemana hah!?"
Richard terus memukul Rico bertubi-tubi.
"Pa sudah, pa sudah, mobil polisi sudah terdengar," ucap Rendra agar papanya berhenti memukul Rico.
Polisi pun datang dan langsung menangkap Rico atas beberapa bukti telah melakukan kejahatan. Ditambah dengan pengakuannya yang telah menculik anak dan istri Richard bisa memperberat masa penjaranya.
Rico diringkus dan diborgol polisi. Kemudian dibawa masuk ke mobil polisi.
"Arghhh!!!! Kenapa aku bisa ke kecolongan sih!"
"Sial!"
Richard begitu emosi dan terus melempar barang-barang yang ada di rumah Rico.
Rendra juga kesal dan marah. Tapi, saat ini bukan itu yang harus dilakukannya. Melainkan mencari keberadaan ibu dan kembarannya.
Tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk ke nomor Rendra.
"Ren, sepertinya mama dan Ela diculik. Sekarang aku sedang mengikuti mobil penculiknya. Kau ikuti saja dari GPS ponselku."
"Baik, terima kasih Au. Jangan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan mu. Kau cukup diam saja di dalam mobil dan terus beritahu aku kalau sesuatu terjadi."
"Iya."
Sambungan telepon pun berhenti.
"Ayo kita bergerak pa. Aku sudah menemukan lokasinya."
Mereka semua pun beranjak pergi dari rumah Rico dengan membiarkan para penjaga itu diikat dan ditutup mulutnya.
*
*
TBC
__ADS_1