
Hari demi hari telah berlalu. Acara ulang tahun Naya pun tiba. Semua teman Naya dan beberapa kolega bisnisnya hadir disana. Sebenarnya ia tidak mau membuat acara besar-besaran seperti ini. Ia hanya ingin acaranya sederhana dan dihadiri orang-orang yang disayanginya. Namun, Richard menolak dan akhirnya Naya hanya bisa menuruti keinginan suaminya.
Rendra dan Aura pun menghampiri Naya dan Richard.
"Selamat ulang tahun ya tante. Semoga Tuhan memberikan tante umur yang panjang."
"Iya, makasih ya sayang," ucap Naya sambil memberikan pelukan pada Aura.
"Ini hadiah dariku tante. Maaf kalau terlihat kecil," ucap Aura yang tidak enak hati karena ia hanya memberikan hadiah sederhana dan tidak mahal. Beda sekali jika dibandingkan dengan hadiah-hadiah lain yang Naya peroleh.
"Tante tidak melihat dari besar kecilnya hadiah. Tante melihatnya dari ketulusan dan keikhlasan orang yang memberi hadiah itu. Jadi, jangan berkecil hati sayang."
Aura jadi tersenyum. Rendra pun ikutan tersenyum karena ia beruntung memiliki ibu seperti Naya.
Kini giliran Rendra yang mengucapkan selamat kepada mamanya.
"Selamat ulang tahun mama. Meskipun umur mama bertambah, mama terlihat semakin cantik," puji Rendra membuat mata Richard mendelik tajam.
"Kau ini. Mama udah tua, udah mulai keriput juga masa masih dibilang cantik."
"Karena kecantikan mama tidak dilihat dari fisik tapi dari hati. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena mama adalah mamaku. Mama yang luar biasa kasih sayangnya."
Mendengar ucapan manis dari anak laki-lakinya membuat Naya meneteskan air matanya.
"Gara-gara kau sih Ren, istri papa jadi nangis tuh!" kesal Richard.
"Jangan nangis ma," ucap Rendra sambil menghapus air mata mamanya.
"Ini hadiah dariku ma. Semoga mama suka."
__ADS_1
Rendra memberikan sebuah kunci pada mamanya.
"Ini kunci apa Ren?" tanya Naya.
"Kunci gedung restoran mama yang baru. Aku buatkan khusus untuk mama supaya mama bisa buka cabang lagi."
Lagi-lagi Naya menangis. Ia sangat terharu bukan karena mendapatkan hadiah gedung dari Rendra akan tetapi karena anaknya begitu manis padanya. Seingatnya Rendra lah yang paling cuek pada hal-hal seperti ini.
His! Anak ini! Padahal aku yang ingin buat Naya menangis terharu karena kejutan dariku!
Richard ngedumel dalam hatinya karena anak laki-lakinya berhasil membuat istrinya terharu.
"Terima kasih sayang. Mama janji akan membuka cabang lagi sesuai harapanmu itu," ucap Naya sambil memeluk anak laki-lakinya.
Tanpa Naya ketahui, keluarga besar Richard sudah berada di belakang Naya beserta Ela dan Elnan disana. Ketika Naya melepaskan pelukannya dan melihat ke belakang, air mata Naya keluar lagi karena saking bahagianya. Kehadiran Mama Helen, Alex, Ele dan orang tua Ele beserta Noah jadi kesan indah tersendiri baginya karena kini merekalah keluarga Naya.
"Itu kejutan dariku sayang," bisik Richard.
Naya memukul pelan dada Richard. Kesal karena ia tidak diberitahu. Ya, namanya juga kejutan kan masa dikasih tahu? Bukan kejutan dong! Haha.
Setelah tangisnya mereda, satu persatu dari mereka mengucapkan selamat. Dimulai dari Mama Helen, ruang tua Ele, Ele, Alex, Ela dan Elnan serta Noah.
Kebahagiaan inilah yang Naya inginkan di hari ulang tahunnya.
Di kesempatan itu, Rendra juga mengenalkan Aura pada keluarganya.
"Halo semuanya, Aku Aura."
"Hai cantik, sini dekat sama Oma," ajak Mama Helen yang senang ketika salah satu cucunya sudah menemukan tambatan hatinya.
__ADS_1
Aura pun mendekat ke Mama Helen. Keduanya mengobrol bersama. Tak disangka rupanya Aura dan Mama Helen begitu nyambung ketika bicara. Hingga membuat Rendra kesal sendiri karena Aura yang dikuasai omanya. Hal itu pastinya dilihat oleh keluarga Rendra yang lain. Mereka hanya geleng-geleng kepalanya seperti melihat Richard dalam versi mudanya.
"Kak Naya, lihat itu anakmu. Sama persis seperti bapaknya, haha."
Naya mengulum senyum.
"Iya kau benar, El."
"Aku sih berharap dia yang terakhir untuk Rendra. Kasian soalnya, putus terus. Apa nggak bosan pdkt lagi, mulai hubungan lagi dengan orang yang berbeda. Aku sih malas," ungkap Ele.
"Doakan saja yang terbaik untuk mereka. Aku juga kan tidak bisa memaksakan kemauan mereka. Kalau dipaksa takutnya akan ada banyak masalah nantinya."
"Benar juga. Itu jugalah yang aku lakukan ke Noah. Ya meskipun aku sudah menyuruhnya untuk nyatakan saja cintanya. Tapi dasar emang anak bodoh! Maunya diam-diam mencintai saja."
Ele dan Naya pun saling mengobrol banyak hal karena memang sudah lama tidak bertemu.
Begitu juga dengan Noah, ia mengobrol banyak hal bersama Ela dan Elnan yang sudah lama tidak bertemu. Padahal Noah di Paris baru beberapa bulan saja.
Di balik kebahagiaan itu, selalu ada orang yang iri di belakangnya. Orang itu melihat dari jauh semua canda tawa orang disana.
"Kalian boleh bahagia untuk saat ini. Tapi, tunggu saja semuanya akan berakhir dengan kesedihan."
Lalu mobil orang itu pergi menjauh dari sana.
*
*
TBC
__ADS_1