Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 71 - Cium dulu yang banyak


__ADS_3

Hari demi hari.


Minggu demi Minggu.


Bulan demi bulan, Aura dan Rendra lewati bersama sebagai sepasang suami istri. Mereka berdua selalu membuat orang disekitarnya merasa iri. Bahkan Richard pun terkadang iri dengan kemesraan anaknya itu. Ingin sekali ia juga pamer kemesraan. Tapi istrinya selalu menolak dan mengatakan jika tidak pantas mereka pamer-pamer kemesraan karena sudah tua.


Beda hal nya dengan Elnan, meski iri, ia tidak bisa bermesraan dengan siapa pun karena masih sendirian.


Beda lagi bagi Ela, ia merasa mual dan ingin muntah ketika Rendra berubah jadi laki-laki sok romantis. Rasanya aneh sekali.


Di hari itu, Rendra yang awalnya senang berubah jadi sedih karena ini pertama kalinya ia akan berjarak dengan Aura. Ia harus pergi ke luar kota untuk bertemu kliennya. Rendra bahkan terus memohon pada Elnan agar dia diwakilkan saja oleh orang lain atau kakaknya saja yang berangkat kesana.


"Tidak bisa, Ren. Karena klien itu hanya ingin kau yang datang dan membuat kesepakatan dengannya."


"Hih! Menyebalkan sekali!"


"Lagian cuma tiga hari aja kok disana. Tidak lama, lagipula istrimu juga tidak akan pergi kemana-mana," ucap Elnan lagi.


Alhasil, dengan sangat terpaksa Rendra pun menyetujuinya dengan syarat hari ini ia akan pulang lebih cepat untuk menghabiskan waktu bersama Aura sebelum pergi ke luar kota dan berjarak dengan istrinya.


Elnan pun mengizinkan.


*


*


Rendra sudah ada di apartemennya sekarang. Ia mencari-cari keberadaan istrinya, akan tetapi tak terlihat. Kemudian Aura muncul dari kamar mandi dan terkejut ketika melihat suaminya sudah ada di apartemen.


"Kok sudah pulang? Bukannya jam pulang kerja masih lama? Ada apa?" tanya Aura.


Bukannya menjawab, Rendra malah langsung memeluk Aura dengan sangat erat.


Aura merasa aneh dengan sikap Rendra itu.


Pelukan pun terlepas.


"Coba ceritakan. Ada apa?"


"Aku harus ke luar kota besok. Aku akan ada disana selama tiga hari. Apa aku sanggup? Rasanya aku tidak ingin jauh darimu. Apa kau ikut aku saja kesana ya?" ucap Rendra saat menemukan ide di dalam pikirannya.


Ya, kalau Aura ikut, ia tidak akan bersedih.


Aura menggeleng.


"Aku tidak bisa ikut, karena sudah janji dengan mama ingin pergi berdua ke suatu tempat besok."


Rendra menggoyang-goyangkan tangan Aura kesal. Ia ingin Aura ikut dengannya.


"Lagian kalian mau pergi kemana sih berdua?" tanya Rendra penasaran.

__ADS_1


"Tidak tahu, mama belum memberitahu aku tepatnya pergi kemana."


"Aih, belum jelas pun. Nanti aku telepon mama saja dan akan membatalkan janjimu dengan mama."


Aura menggeleng dan melarang.


"Jangan, mama sudah mengajakku jauh-jauh hari. Sementara kau baru mengajaknya hari ini. Berdasarkan urutan ajakan, ajakan mama yang harus aku tepati."


Rendra mengerucutkan bibirnya. Sudah tak ada lagi harapan Aura bisa ikut dengannya.


"Jangan cemberut gitu dong, kan masih ada ponsel. Kita bisa melakukan panggilan video," rayu Aura.


"Tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Aku kan ingin main-main denganmu setiap malam."


"Ayo kita main-main di kamar sekarang. Aku akan membuatmu puas hari ini."


Mendengarkan hal itu dari mulut Aura. Wajah Rendra langsung bersinar sangat terang. Ia pun langsung mengajak Aura pergi ke kamar dan bersiap untuk beradegan panas di siang bolong.


*


*


Hari berganti, walaupun sudah diberikan pelayanan terbaik seharian kemarin. Rendra tetap tidak ingin jauh dengan Aura. Ia bahkan tidak mau melepaskan pelukannya pada Aura.


"Kapan berangkatnya jika kau terus memelukku seperti ini?"


"Aku tidak mau berangkat."


"Ah, kau ikut aku saja yuk!" ajak Rendra lagi.


"Kan kemarin kau sudah berjanji."


Rendra kesal dan melepaskan pelukannya.


"Cium dulu yang banyak," pinta Rendra.


Aura melakukannya. Ia bahkan mencium dengan lembut bibir Rendra.


"Sudah."


"Belum, masih kurang banyak."


"Muach, muach."


Aura mengecup seluruh wajah Rendra berkali-kali. Semenjak menikah Rendra bermetamorfosis menjadi pria manja. Aura bahkan suka heran sendiri, kemana perginya sikap kejam Rendra itu.


"Aku pergi ya. Kau tidak ingin menahan ku gitu?"


Aura hanya terkekeh pelan. Ia geleng-geleng kepala dengan kelakuan Rendra.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai di hotel, kabari aku ya."


Rendra mengangguk lalu memasuki mobilnya dengan perasaan hati yang sedih. Ia melajukan mobilnya pelan-pelan agar masih bisa melihat Aura. Lalu setelahnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


Di saat Rendra pergi, Aura juga merasa seperti ada yang hilang di dalam rumahnya. Sebenarnya ia juga tak ingin jauh dari Rendra. Tapi, ia juga harus mendukung pekerjaan Rendra juga sudah berjanji dengan mama mertuanya.


"Huh!"


"Lebih baik aku keluar saja cari jajan."


Aura mengambil tasnya dan memakai switer nya untuk keluar dari rumah.


Kini Aura sudah tiba di sebuah restoran dimana di tempat itu, Meira lah yang bekerja sebagai pegawai kasirnya.


"Mba pesan kentang gorengnya satu ya, sama mango squash satu."


"Baik, tidak ada tambahan lagi kak?"


Aura menggeleng. Si kasir pun langsung menyebutkan total pesanan Aura dan Aura pun langsung membayarnya dengan cara tunai.


Aura pun mencari tempat duduk yang kosong. Ia memperhatikan setiap desain interior di restoran itu.


"Bagus juga. Sepertinya lain kali aku akan kesini lagi dengan mengajak Sena," pikir Aura.


Setelah menunggu lama, pesanan Aura pun datang. Aura menikmati pesanannya hingga habis tak tersisa. Ia pun memfoto beberapa spot yang ada disana dan mengirimkannya ke Sena. Beberapa saat kemudian Sena membalas pesannya.


Wah, kau tega sekali padaku Au. Kenapa pergi ke restoran sebagus itu tidak mengajakku? Jahaddd sekali!


Aura tersenyum membaca pesan Sena itu. Ia sudah tahu kalau tanggapan Sena akan seperti itu. Aura pun langsung membalasnya lagi.


Maaf, aku tadi hanya iseng-iseng saja kesini. Eh, ternyata tempatnya bagus. Lain kali deh kita datang bersama kesini.


Aura lalu mendapat pesan balasan lagi dari Sena.


Awas lho kalau kau bohong. Kalau sampai kau kesana lagi tidak ajak-ajak aku, aku marah lho!


Aura tertawa lagi membaca pesan Sena itu. Ia membayangkan raut wajah Sena kalau mengucapkan kalimat pesan itu.


Aura pun beranjak dari duduknya dan keluar dari restoran begitu saja.


Namun ada satu hal yang menarik perhatian Meira. Setelah wanita pelanggan tadi pergi, Meira melihat orang yang sama dengan orang yang menjahatinya dulu. Tampak seperti mengikuti wanita tadi diam-diam.


Ya Tuhan, astaga! Apa-apa tadi aku tidak salah melihat? Apa-apa wanita tadi yang kini jadi targetnya? pikir Meira.


Masalahnya adalah ia tidak tahu siapa wanita tadi. Bagaimana ia bisa meminta wanita itu untuk berhati-hati.


Wajar saja Meira tidak tahu tentang Aura, karena Meira adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan berita di internet. Bahkan untuk memegang ponsel saja, bisa dikatakan jarang sekali. Meira lebih suka, berinteraksi dengan orang secara langsung. Paling menggunakan ponsel hanya untuk melihat jadwal kerjanya saja untuk saat ini.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2