
Hari ketiga tanpa Rendra, Aura mengajak Sena untuk pergi ke restoran yang waktu itu pernah Aura kunjungi sendirian. Sena pun dengan senang hati menerima ajakan Aura itu, apalagi semuanya gratis. Aura lah yang akan membuatnya.
Sesampainya di restoran itu, pas sekali Meira lah yang berjaga menjadi kasir di shif waktu itu. Ia menerima pesanan dari pelanggan dengan ramah. Karena tahu wanita inilah yang waktu itu diikuti, Meira pun setelah melayani wanita itu melihat ke sekeliling, apakah wanita itu masih diikuti atau tidak. Dan benar saja, rupanya orang yang mengikutinya berpura-pura duduk di di bawah pohon besar, berpura-pura memainkan ponselnya.
Meira pun segera kembali ke meja kerjanya. Ia meminta digantikan pekerjaannya dulu menjadi kasir, dan biar dia saja yang membawakan pesanan dari dua wanita itu yang tertulis nama pesanan disana adalah Aura.
Pesanan pun selesai dibuat, Meira membawakan pesanan itu ke Aura.
"Selamat dinikmati pesanannya kak."
"Iya kak," jawab Sena.
Namun, Meira tidak kunjung pergi dari sana. Ia bingung harus mengatakannya mulai darimana. Ia takut wanita ini tidak percaya padanya. Apalagi ia hanyalah orang asing.
"Kenapa masih disini kak?" tanya Sena.
"Eum, eum." Meira nampak gugup.
Aura pun mempersilahkan Meira untuk duduk bersama mereka berdua dan mempersilahkan Meira untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Aura sedikit paham dengan gelagat Meira yang seperti ingin memberitahukan sesuatu.
"Bicaralah kak, aku akan mendengarkannya kok," ucap Aura.
Meira agak sedikit lega. Karena rupanya orang yang ada di hadapannya ini orang baik dan ramah.
"Eum, jadi begini. Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri dulu. Namaku Meira. Waktu itu ketika kakak ..."
"Aura, panggil saja Aura jangan pakai kak," potong Aura.
"Em, baiklah," Meira melanjutkan lagi ucapannya.
"Waktu itu ketika Aura pulang dari restoran ini, ada seseorang yang mengikuti Aura dari belakang. Orang itu adalah orang yang menghancurkan rumah tanggaku. Aku takut, orang tersebut juga akan menghancurkan rumah tangga Aura juga. Jadi, mulai sekarang tolong hati-hati dalam melakukan sesuatu. Usahakan jangan sendirian saat pergi kemana pun. Karena kemungkinan besar orang itu akan bertindak di saat kau sendirian. Semoga saja hal buruk tidak akan menimpa rumah tanggamu."
Aura yang mendengar hal itu pun langsung terkejut begitu pula dengan Sena. Ingin tidak percaya, tapi wanita itu terlihat jujur dan tidak ada kebohongan disana. Aura jadi percaya dan tidak percaya namun ia akan ikuti saran wanita itu untuk berhati-hati.
"Terima kasih ya kak Meira sudah mengatakan hal itu padaku. Itu artinya kakak adalah orang yang baik. Semoga hubungan kakak dan mantan suami kakak bisa membaik dan rujuk kembali jika semua itu karena ulah orang yang sengaja memisahkan kalian berdua."
Meira mengangguk dan berterimakasih juga karena doa baik Aura.
Setelah mengatakan hal tersebut, Meira pun pergi dari sana dan kembali bekerja. Sementara Aura dan Sena, mereka menikmati makanan itu dengan perasaan hati yang campur aduk.
Selesai makan, Aura dan Sena pun pergi dari restoran. Sena curi-curi lihat ke belakang takut apa yang dibilang wanita itu memang benar. Ia tidak ingin sahabatnya ini dalam bahaya. Ia akan menjaga Aura dengan baik.
__ADS_1
Sena merangkul kan tangannya di bahu Aura. Membuat Aura keheranan dibuatnya.
"Kau ini kenapa sih Sen?" tnaya Aura.
"Aku hanya ingin menjagamu. Dan ini supaya kau tidak jauh-jauh dariku. Kita harus berhati-hati dan waspada pada orang sekitar."
Aura akhirnya paham dan tak bicara lagi. Keduanya menaiki taksi dan pergi menuju ke rumah Aura. Aura ingin bertemu adiknya karena merasa rindu. Ia juga merasa tidak tega jika adiknya harus berada di rumah seorang diri.
"Kakak, bagaimana kabar kakak?"
"Baik, sangat baik," jawab Aura sambil tersenyum.
Alin pun jadi ikut tersenyum senang. Ia bahagia melihat kakaknya jadi ceria dan menikmati hidupnya.
"Tapi dimana kak Rendra? Kenapa tidak mengantar kakak kesini?" tanya Alin yang keheranan.
"Oh, kakak iparmu sedang ada di luar kota."
"Ah, begitu rupanya. Mumpung kakak ada disini sekarang. Ayo kita menonton film bersama sambil makan-makan."
"Ah, ayo! Aku setuju!" jawab Sena yang ikut-ikutan.
"Kakak pulang dulu ya, Lin. Di lain waktu kakak akan datang lagi. Jaga diri baik-baik. Kakak akan meminta Sena untuk sering-sering menginap supaya kau ada temannya. Atau kau ajak saja temanmu untuk menginap," ucap Aura.
"Iya kak. Hati-hati di jalan."
Aura pun pulang dengan menaiki taksi. Sesampainya di gedung apartemennya, Aura menaiki lift dengan seorang pria yang tak dikenalinya. Aura berpikir orang itu pun adalah salah satu penghuni apartemen disana.
Orang itu naik ke lantai 3 sementara dirinya di lantai 4. Ketika berjalan, tiba-tiba saja seseorang muncul di hadapannya dan membuatnya terjatuh. Orang itu langsung menangkap Aura dan memegang pinggang Aura.
"Ah, maaf-maaf," ucap Aura.
"Ah, tidak, seharusnya saya yang meminta maaf sudah jalan tidak berhati-hati," ucap pria bermasker itu.
"Ah iya."
Lalu setelahnya, Aura masuk ke dalam apartemennya dan merasakan ada sesuatu yang aneh. Laki-laki tadi sama persis dengan laki-laki yang turun di lain 3. Dan juga, Aura merasa seperti dicekal kakinya hingga ia akhirnya bisa terjatuh dan ditolong oleh pria itu.
"Aku tidak boleh berpikiran buruk pada orang yang sudah menolongku."
Aura menepis prasangka buruknya. Ia meletakkan tasnya di atas meja. Lalu membasuh kakinya di kamar mandi dan mengganti pakaiannya disana.
__ADS_1
Ia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Melihat pesan yang ada di ponselnya, tapi tak ada satu pun pesan dari suaminya.
"Rendra sedang apa ya?" ucap Aura yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rendra.
"Ah, daripada terus menunggu aku mengirimkan pesan saja."
Rupanya tak hanya pesan, aura juga mengirimkan satu foto untuk Rendra.
*
*
Rendra yang baru saja tiba di hotel setelah bertemu kliennya, segera melihat ponselnya. Ia langsung tersenyum senang ketika melihat dua pesan dari istrinya. Satu pesan chat dan satu foto.
Lagi apa? Masih bertemu dengan klien ya? Makanya kau tidak mengabari ku. Aku rindu tahu.
Foto yang Aura kirim adalah foto Aura yang sedang cemberut menahan rindu.
"Ah, gemasnya. Aku ingin sekali mencubit pipinya itu. Tunggu saja besok malam, aku pasti akan membuatmu kewalahan sayang. Malam ini aku lelah sekali. Sepertinya tidak bisa melakukan panggilan video denganmu."
Setelah bermonolog sendiri, akhirnya Rendra membalas pesan istirnya itu.
Aku baru pulang dari bertemu klien sayang. aku mau bersih-bersih badan dulu. Rasanya lelah sekali. Sepertinya aku akan langsung tidur setelahnya. Aku juga rindu sayang.
Lalu tak lama kemudian, masuk satu pesan dari Aura.
Benar lelah? Tidak ingin melihat mainanmu dulu sebelum tidur?
Pesan itu datang dengan sebuah foto Aura yang hanya mengenakan br* saja. Rendra langsung menelan ludahnya.
Dasar istri nakal!
Pesan itu yang dikirimkan oleh Rendra.
Sementara di apartemen, Aura cekikikan sambil membayangkan ekspresi wajah Rendra sekarang.
*
*
TBC
__ADS_1