
"Tante maafkan aku, karena kehadiranku telah merusak semuanya," ucap Aura sambil terisak.
"Tidak, ini bukan salahmu, Au. Tante memang tidak suka dengan orang-orang yang berpikiran sempit seperti mereka. Tante malah bersyukur sudah tidak lagi bergabung dengan mereka," jawab Naya.
"Tante padahal aku sudah menceritakan semua tentangku pada tante di pertemuan kedua kita. Kenapa tante masih bisa bersikap baik padaku? Padahal aku sudah berbohong pada tante. Aku juga hanya seorang wanita bayaran tante. Pekerjaan yang selalu dipandang buruk oleh orang lain."
Ya, aura sudah menceritakan tentang dirinya di pertemuan kedua itu. Karena ia merasa bersalah jika terus membohongi seorang ibu. Apalagi orangnya sebaik Naya. Aura tidak tega. Makanya ia memilih untuk jujur. Tapi siapa sangka, Naya justru tidak menghinanya dan selalu bersikap baik padanya.
"Tante tahu kau orang baik, Au. Tante bisa melihat itu dari sorotan matamu. Meski kau dan Rendra hanya berpura-pura pacaran. Tapi tante tetap berharap kalian benar-benar berpacaran. Tante tahu selama ini, kau selalu tulus dalam melakukan suatu hal. Apa yang kau berikan selama ini ke tante, ke Rendra. Tante tahu tidak ada kebohongan di dalamnya. Mengenai wanita bayaran, memang apa salahnya? Kau kan tidak merugikan orang lain. Kau hanya mencari uang untuk menghidupi keluargamu, Au. Tante juga yakin kau bukan seperti wanita di luaran sana. Mungkin orang bisa saja mengganggap mu sebagai pelakor. Tapi apa ada buktinya? Toh, suami mereka sendiri yang datang karena ketidaknyamanan dengan istrinya. Jadi, jangan merasa rendah diri mulai sekarang," ucap Naya diakhiri dengan genggaman tangannya di tangan Aura.
Lagi-lagi Aura menangis mendengar ucapan Naya. Ia benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan mamanya Rendra yang tidak menghakimi dirinya. Justru malah memahami posisinya. Naya pun memeluk Aura dengan sayang. Naya Memnag sudah terlanjur menyayangi Aura karena sikap Aura yang tulus dan baik.
"Aku cuma mau bilang makasih sama Tante. Aku tidak pernah dibela sampai seperti ini. Orang-orang selalu menganggap ku sebelah mata. Mungkin sebentar lagi aku dan Rendra sudah tidak akan berhubungan lagi, karena kontrak akan berakhir. Jadi, apa boleh kalau aku tiba-tiba datang ke restoran Tante?"
"Sama-sama sayang. Kau memang pantas untuk dibela. Tentu saja boleh, mau main ke rumah ini pun tante tidak akan melarang," jawab Naya.
"Makasih ya Tante. Oh, iya. Tolong jangan bilang kejadian hari ini ke Rendra ya Tante. Aku takut dia akan lepas kendali. Ya walaupun aku tahu, pasti itu Rendra lakukan karena kami masih terikat kontrak bukan benar-benar menganggap ku."
"Iya, tapi Tante tidak janji."
"Baiklah."
__ADS_1
Aura dan Naya pun akhirnya membagikan semua makanan yang mereka buat ke tetangga. Karena rasanya sayang sekali jika dibuang. Apalagi orang di rumahnya, buka tipe yang suka nyemil seperti dirinya.
Setelah itu, Aura pulang ke rumahnya. Ia ingin menjernihkan beban pikirannya hari ini. Rasanya harinya terasa amat sangat berat. Mungkin jika tanpa adanya Tante Naya di sisinya tadi. Aura akan pergi dan memendam semuanya sendirian dan menangis di tempat yang sepi. Tapi karena ada tante Naya, ia jadi bisa mencurahkan isi hatinya. Ia tak lagi merasa gelisah.
*
*
Malam harinya, Aura datang ke club malam hanya karena rindu dengan Sena. Padahal ia bisa saja datang ke rumah Sena pagi hari. Namun, ia teringat kembali bahwa Sena sangat susah bangun di pagi hari. Alhasil, Aura pun menginjakkan kakinya kembali setelah sudah seminggu lebih tidak pernah kesana.
"Gimana apa Rendra memperlakukanmu dengan baik?" tanya Sena yang penasaran.
"Baik, bahkan sangat baik. Terkadang aku sampai lupa jika itu hanya berpura-pura. Aku takut akan melewati batas lagi seperti dulu," jawab Aura.
"Tetap saja ini tidak benar Sen. Aku benar-benar takut. Cukup sekali saja aku melakukan kesalahan dengan menyukai klien ku sendiri dan menjalin hubungan dengannya."
Aura tidak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama. Ia tidak ingin jadi beban bagi keluarga yang akan menjadikan dirinya sebagai menantu.
"Huh!"
Sena menghela napas kasar. Terkadang berbicara dengan Aura itu membuatnya naik darah. Aura terlalu memandang rendah dirinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa dirinya akan istimewa di hadapan orang yang menghargai dan menyukainya.
__ADS_1
Sena meneguk wine yang ada di hadapannya.
"Jangan pikirkan pandangan orang lain tentangmu. Pikirkan saja kebahagiaanmu, Au. Lagipula jika keluarga Rendra suka denganmu, lalu apa salah jika kau berhubungan dengan Rendra? Apa kau akan menolak?"
Pertanyaan itu membuat Aura terdiam begitu lama.
"Aku tidak tahu. Intinya aku hanya ingin Alin lulus kuliah dan hutang keluargaku lunas serta aku bisa hidup tenang tanpa memikirkan apapun," jawab Aura.
"Masalah jodoh, tidak ada pun tidak masalah," tambah Aura lagi.
Plak!
Tangan Sena memukul tangan Aura.
"Jangan bicara sembarangan!"
"Iya, iya, maaf."
*
*
__ADS_1
TBC