Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 43 - Berhenti jadi wanita bayaran


__ADS_3

Malam harinya, Aura datang ke club Century dengan pakaian yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ia datang untuk menemui Mami Lena.


"Akhirnya kau muncul juga sayang. Besok kau ada klien yang harus kau temui. Untuk yang hari ini sudah mami cancel untukmu," ucap Mami Lena.


"Eum, mami apa jadinya jika aku ingin berhenti?" ucap Aura dengan perasaan gugup di hatinya.


Mata Mami Lena terbelalak sempurna. Untuk pertama kalinya Aura mengatakan hal seperti itu. Mami Lena sungguh tahu kesusahan yang dialami Aura. Jadi, sangat tidak mungkin jika Aura akan berhenti begitu saja. Mau dapat uang sebanyak itu dari mana coba?


"Sayang, kau bertanya bukan untuk benar-benar ingin berhenti, kan? Kau harus ingat kesusahan mu. Hanya dengan bekerja seperti ini sedikit demi sedikit hutang itu terbayarkan," ucap Mami Lena agar Aura berubah pikiran.


Aura menghela napas pasrah.


"Aku benar-benar ingin berhenti mami."


"Lalu bagaimana dengan klien-klien yang sudah menunggu jasa mu? Mereka bahkan rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk dirimu?"


"Aku akan menemani mereka untuk terakhir kalinya. Jadi, apa aku boleh berhenti?"


Mami Lena kesal, ingin marah. Ia tidak bisa kehilangan berlian seperti Aura begitu saja. Ia bahkan selama ini selalu mengutamakan Aura dibandingkan anak-anaknya yang lain. Ia membiarkan Aura dengan prinsipnya yang tidak ingin berciuman dan berhubungan badan dengan kliennya. Namun jika Aura ingin berhenti begini. Apa boleh buat? Ia harus mengikat Aura agar tidak bisa kemana-mana.


"Baiklah, mami mengizinkanmu untuk berhenti setelah kau melayani klien mu itu. Tapi sesuai perjanjian kita diawal, kau harus membayar ganti rugi karena kontrakmu belum selesai. Mami beri waktu sebulan untukmu membayar ganti rugi itu. Tapi jika kau berubah pikiran dalam sebulan. Datanglah kembali, mami akan dengan senang hati menerimamu."


"Baik mami. Terima kasih telah mengizinkanku mami. Terima kasih juga sudah membantuku selama ini. Aku pamit mami."


"Iya, hati-hati. Mami akan kirimkan lokasi dan waktu janjimu dengan klien. Jadi kau tidak perlu kesini kecuali kliennya yang memang ingin bertemu denganmu disini."


"Baik mami."


Aura keluar dari ruangan Mami Lena dengan perasaan lega. Meski ia belum memikirkan rencana hidupnya untuk ke depan setidaknya ia sudah berhenti dari pekerjaan yang selalu direndahkan orang-orang.

__ADS_1


"Kau mengobrol apa dengan Mami Lena? Kenapa lama sekali?" tanya Sena yang penasaran lalu meminta Aura untuk duduk bersamanya.


"Aku berhenti dari pekerjaan ini, Sen. Dan Mami mengizinkannya dengan beberapa syarat," jawab Aura.


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Kau memang tidak layak bekerja disini Au. Aku yakin kau akan berhasil nantinya."


Sena benar-benar senang mendengar berita tersebut. Sangat disayangkan wanita baik-baik seperti Aura harus dicap buruk di masyarakat. Berbeda dengan dirinya yang memang sudah terjun lama di dunia kelam itu. Bahkan ia sudah tidak perawan ketika menjadi wanita bayaran. Karena pergaulannya yang terlalu bebas, ia kehilangan keperawanan ketika masa SMA oleh pacar pertamanya.


"Aku juga ingin kau tidak bekerja disini lagi, Sen," pinta Aura.


"Haha, rasanya sungguh mustahil Au. Aku sudah terlalu lama terjerat masuk ke dalam dunia kelam ini. Sangat sulit untuk keluar. Jangan pikirkan aku. Pikirkan saja dirimu. Pokoknya kau harus sering-sering kasih kabar ya!"


Aura mengangguk lalu memeluk Sena. Ia benar-benar menyayangi wanita ini seperti saudaranya sendiri.


"Kalau begitu, aku pulang ya. Jaga diri baik-baik."


"Iya, kau juga."


Karin pun berjalan dan duduk di samping Sena.


"Aura, kenapa dia?" tanya Karin.


"Memang ada apa dengan Aura?"


"Seperti sedang bahagia."


"Iya memang. Dia berhenti jadi wanita bayaran," jawab Sena.


"Hah?"

__ADS_1


Karin terkejut dibuatnya. Tapi ada rasa senangnya juga. Setidaknya tidak ada lagi saingan dirinya. Ia akan mendapatkan banyak klien dan itu pastinya uangnya akan semakin banyak.


"Kau tidak bohong kan, Sen?"


"Buat apa aku berbohong? Lagian apa untungnya untukku?"


Karin tersenyum sangat lebar. Hingga membuat Sena ngeri sendiri melihatnya seperti melihat senyum psikopat gila.


"Senyuman mu mengerikan!"


"His! Kau mengganggu kesenanganku, Sen!"


"Bodo! Aku pergi! Takut ketularan aneh sepertimu!"


Sena pun pergi meninggalkan Karin sendirian disana.


"Hahaha, senangnya aku."


Karin tidak bisa menghentikan senyum dan tawanya.


Kenapa tidak dari dulu saja Aura berhenti? Tapi apa iya Mami Lena akan membiarkan Aura pergi begitu saja? Rasanya tidak mungkin?


Karin berperang dengan isi kepalanya.


Ah, bodo amat! Yang terpenting Aura sudah menyingkir!


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2