
Waktu berlalu begitu cepat.
Sebuah taman disulap menjadi tempat pernikahan dari Ansel dan Sena. Keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami dan istri.
Acara pernikahan yang hanya dihadiri oleh kerabat serta sahabat itu berjalan dengan lancar dan hikmat.
Senyum bahagia terpancarkan dari keduanya. Ucapan-ucapan selamat pun diberikan oleh para keluarga dan para sahabat.
"Selamat ya untuk kalian berdua. Aku masih tidak menyangka lho cintamu tidak bertepuk sebelah tangan, Sen. Semoga pernikahan kalian selalu adem, ayem. Kalau pun ada pertengkaran itu adalah hal biasa dan termasuk bumbunya dunia pernikahan. Yang terpenting kalian bisa saling percaya satu sama lain."
"Iya, terima kasih Au. Aku juga harus banyak belajar darimu Au."
"Tidak, kita sama-sama harus saling belajar."
Sena pun mengangguk.
Rendra pun memberikan selamat juga pada sahabatnya baiknya itu.
"Kukira kau tidak akan menikah dan akan tetap jadi casanova. Rupanya kau sudah bertobat ya. Selamat," ucap Rendra dengan raut wajah yang datar.
Ingin sekali Ansel berkata kasar pada sahabatnya ini. Tapi karena sudah memberikan selamat padanya. Ansel pun tersenyum sambil menjawab," terima kasih."
Aura dan Rendra pun turun dari pelaminan dan pergi menuju ke stand makanan yang sudah disediakan. Setelah mengambil makanan, keduanya pun duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Suapin," pinta Rendra.
Aura mendelik sangat tajam.
"Apa kau tahu disini adalah tempat umum? Mana bisa begitu? Aku tidak mau."
"Memang apa salahnya? Aku kan hanya minta disuapi sayang, bukan minta dicium!" jawab Rendra.
"Iya tetap saja. Makan sendiri saja," tolak Aura.
__ADS_1
Rendra mendengus sebal. Karena permintaannya tidak dituruti oleh istrinya. Ketika Aura akan memasukan makanan ke mulutnya, Rendra dengan cepat meraih tangan istrinya dan menyuapkannya ke mulutnya. Kemudian mengunyahnya sambil tersenyum.
"Hm, enak sekali," pujinya.
"Dasar!"
Rendra hanya terkekeh pelan. Ia suka melihat wajah kesal istrinya. Entah sejak kapan, rasanya begitu menggemaskan. Bahkan jika saat ini mereka tidak sedang berada di luar rumah, mungkin Rendra akan langsung menerkam Aura begitu saja.
Acara pernikahan pun selesai, semua orang sudah kembali ke rumahnya masing-masing kecuali pasangan pengantin dan pasangan Rendra dan Aura.
Rendra meminta Ansel untuk mengecek ponselnya dan membaca isi pesannya.
"Apaan sih! Lagian jarak deket begini, pakai chat-chat segala. Tinggal bilang aja susah."
Walaupun begitu, Ansel tetap saja menuruti apa yang Rendra bilang. Matanya langsung melotot seperti akan keluar. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau lagi kesurupan ya?" tanya Ansel dengan penuh selidik sambil menaruh tangannya di kepala Rendra.
"Tidak panas."
"Sialan! Aku tidak sedang kesurupan! Kalau tidak mau ya aku ambil kembali!"
"Eh, janganlah! Lagian kapan lagi aku bisa liburan keliling Eropa gratis begini, mana sebulan lagi. Ini tidak bisa aku sia-siakan. Apalagi liburannya berdua sama pasangan alias honeymoon. Wah, kau baik sekali padaku Rendra," ucap Ansel sambil meraih tangan Rendra.
"Cih! Jangan sentuh-sentuh! Cuma istriku yang boleh sentuh-sentuh aku!" tegas Rendra sambil menghempaskan tangan Ansel.
Ansel mendengus sebal dan langsung meraih tangan istrinya.
"Lihat suami temanmu itu menyebalkan sekali!" adu Ansel.
Sena hanya geleng-geleng kepala.
"Dia kan juga sahabatmu," ucap Sena.
__ADS_1
"Cih, sejak kapan aku bersahabat dengan orang sepertinya? Sepertinya ucapanku salah sayang."
"Oh, jadi kau mau aku meng-cancel semuanya?"
"Eh, jangan lah," tolak Ansel lagi.
"Sudah Ren. Kau ini, kalau niat memberikan hadiah itu yang tulus. Masa mau tiba-tiba di cancel."
"Tuh, dengar ucapan istrimu sendiri. Sudah sana pulang saja kalian berdua," usir Ansel.
"Memang siapa yang mau lama-lama disini? Cih!"
Rendra kemudian menggandeng tangan istrinya, berjalan menjauhi pasangan pengantin baru itu. Keduanya sudah masuk ke dalam mobil dan menghilang dari pandangan Sena dan Ansel.
"Memang cuma Aura yang bisa menjinakkan pria tak punya perasaan itu! Aku jadi kasihan pada Aura. Setiap hari harus menghadapi sikap Rendra."
"Kalau kasihan, kenapa dulu kau merencanakan pendekatan mereka berdua? Padahal dulu, aku sudah menolaknya."
"Ya, karena aku yakin, Aura mampu membuat Rendra, pria tak tersentuh itu jadi berubah hangat karena sentuhan cinta dari Aura. Dan nyatanya, sekarang terbukti dan terlihat sangat jelas. Rendra tak bisa apa-apa tanpa kehadiran Aura. Dia bahkan seperti mayat hidup ketika ditinggalkan oleh Aura. Hanya saja dia hanya bersikap hangat pada Aura, sama aku masih suka seenaknya. Huh! Kesal!"
Sena menepuk-nepuk punggung Ansel untuk meredakannya kesal dari Ansel.
"Tapi, walau begitu, dia adalah sahabat baikmu. Bahkan dia memberikan hadiah tidak pikir panjang dulu. Jalan-jalan keliling Eropa selama sebulan itu membutuhkan biaya yang sangat banyak. Apalagi dia sudah menyiapkan semuanya dari hotel hingga tour guide untuk kita."
"Hm, kau benar juga sih sayang. Sudahlah, aku tidak mau bahas dia lagi. Lebih baik kita pulang ke rumah dan menggunakan kamar pengantin kita untuk membuat baby," ucap Ansel sambil mengedipkan salah satu matanya.
Sena malu-malu hingga memalingkan wajahnya.
Keduanya pun pergi dari sana juga dan menuju ke rumah yaitu rumah kedua orang tua Ansel.
*
*
__ADS_1
TBC
Maaf ya semuanya, aku jadi jarang update cerita. Suasana hatiku sedang buruk akhir-akhir ini. Bahkan di hari ini lebih buruk, karena tahu ceritaku dibuat konten youtube lagi oleh orang lain.