Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 14 - Ikan Lendra Sialan!


__ADS_3

Aura dan Evan sedang dalam perjalanan pulang. Aura meminta Evan untuk mengantarkannya ke club, tapi Evan memaksa untuk mengantarkan Aura sampai di depan rumahnya.


"Tidak usah Evan, antarkan aku saja sampai club," ucap Aura yang tidak ingin ada kliennya yang tahu dimana ia tinggal.


"Tapi, ini sudah malam Au," ucap Evan.


"Aku sudah biasa. Jadi tolong antarkan aku ke club saja. Lagipula aku meninggalkan pakaianku dan alat make-up ku disana," ujar Aura.


Evan pun menurut. Sebenarnya ia ingin sekali tahu dimana tempat tinggal Aura. Supaya sesekali ia bisa main ke rumah Aura.


Setelah sampai di depan club, Aura mengucapkan terima kasih karena sudah diantarkan.


"Uangnya akan aku transfer ke Mami Lena dalam satu jam," ujar Evan.


"Iya. Hati-hati di jalan Evan."


Evan mengangguk, lalu melajukan mobilnya menelusuri jalanan.


Aura masuk ke dalam club. Suasana tampak sepi jika di lihat dari luar. Namun, ketika Aura sudah memasuki pintu, banyak sekali orang di dalamnya. Aura bernapas lega karena ada jas Rendra yang menutupi tubuh bagian atasnya. Jika tidak, mungkin Aura bisa saja digoda oleh pria hidung belang yang ada di club.


Kini Aura sudah berada di ruang ganti, ia mengganti gaun yang ia kenakan dengan dress yang ia bawa di dalam tas nya. Aura juga menghapus riasan di wajahnya. Semata-mata untuk melindungi dirinya dari pandangan laki-laki b*jat. Ia juga sengaja tidak menghapus dengan bersih eyeliner nya sehingga meninggalkan bekas hitam di bawah matanya. Setelah itu, Aura keluar dari ruang ganti dengan percaya diri.


Yang ketika masuk, aura menjadi pusat perhatian, kini ia menjadi orang tersisihkan yang tidak terlihat.


"Syukurlah, aku aman," ucap Aura dengan lega ketika berhasil keluar dari club.


Aura memberhentikan taksi yang lewat dan menaikinya. Jas Rendra ia lipat dan ia masukan ke dalam tas nya. Seketika Aura tersenyum mengingat perlakuan Rendra di acara tadi.


"Sebenarnya dia orang yang perhatian. Hanya saja dari luar terkesan dingin. Apalagi ucapannya yang terkadang bikin sakit hati. Uh! Membuatku ingin memotong lidahnya."


Entahlah maunya Aura bagaimana. Sudah dipuji hingga setinggi langit tiba-tiba dijatuhkan serendah-rendahnya. Kasihan sekali dirimu Rendra.


*


*


Setelah acara selesai, Rendra pun pulang ke rumahnya. Rumahnya sudah sepi. Sepertinya semua orang rumah sudah berada di alam mimpinya masing-masing. Sesuai dengan perkataannya tadi pagi. Ia tidak akan membiarkan Ela tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Rendra memasuki kamar Ela dengan langkah yang sengaja ia pelankan agar tidak tidak menimbulkan suara.


"Enak sekali dia tidur dengan nyenyak setelah menyebarkan rumor yang tidak benar tentangku pada mama! Jangan harap kau bisa tidur malam ini, Ela!"


Dengan tak punya hatinya, Rendra menarik bantal bergambar minion kesukaan kembarannya. Hingga membuat Ela kaget dan terbangun.


"Apa sih! Ganggu orang tidur saja!" kesal Ela dengan mata yang masih tertutup.


"Malam ini bantal kesayanganmu aku sandra, dadah Ela!" ucap Rendra kemudian keluar dari kamar Ela dan menjadikan bantal kesayangan kembarannya jadi tumpuan kepalanya.


Fakta unik tentang Ela adalah ia tidak bisa tidur nyenyak tanpa bantal bergambar minion kesayangannya itu.


"Ikan Lendra sialan!" teriak Ela.


Untung saja Rendra sudah mengantisipasi akan datangnya teriakan yang bisa merusak gendang telinganya dengan menggunakan earphone. Jadi aman-aman saja baginya.


"Sukurin!"


*


*


Aura merenggangkan otot-ototnya lurus ke atas agar tubuhnya tidak terasa pegal dan kaku. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya. Ia melihat adiknya sudah rapih dengan mengenakan baju pdh jurusannya.


"Mau kemana pagi-pagi udah cantik begini?" tanya Aura.


"Aku mau mencari perusahaan untuk aku magang kak. Semester depan kan aku mau ambil mata kuliah itu. Jadi biar tidak repot, aku mencarinya dari sekarang. Sekalian biar keliatan rapih jadi aku pakai pdh jurusan," jawab Alin.


Aura pun mengangguk.


"Sebelum pergi jangan lupa sarapan dulu," ucap Aura mengingatkan.


"Baru saja aku selesai sarapan kak. Kalau kakak lapar, makanannya sudah aku taruh di lemari makanan," ucap Alin.


"Oke, terima kasih ya. Maaf hari ini kakak bangun agak siang."


"Tidak apa-apa kak. Aku tahu, pasti semalam kakak pulang sangat larut. Makanya aku buat sarapan sendiri. Kalau begitu aku pamit ya kak."

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan. Semoga kau menemukan tempat magang yang sesuai keinginanmu," ucap Aura mendoakan adiknya.


Karena di pagi hari belum ada kerjaan di luar, Aura pun mencuri pakaiannya serta jas milik Rendra.


"Sudah lama sekali aku tidak menikmati hidup. Aku terlalu dikejar-kejar oleh waktu dan hutang. Sampai aku lupa bahwa mencuci pun bisa membuatku senang dengan bermain dengan busa-busa dari sabun cuci ini. Andaikan saja, aku bukan wanita bayaran, mungkin Alin tidak akan ikut dihina oleh teman-temannya juga."


"Haaaahh ..."


Aura menghela napas.


"Terkadang hidup selucu itu. Siapa yang berbuat dan siapa juga yang disalahkan. Seharusnya Alin bisa belajar dengan baik dan tenang tanpa ada gangguan dari bisik-bisik setan di sekelilingnya."


"Andai saja aku punya keahlian yang menonjol, pasti aku bisa mengembangkan itu," ucap Aura berandai-andai.


Selesai mencuci, Aura menjemur pakaiannya di halaman belakang rumahnya. Setelah itu, ia memetik buah tomat yang sudah memerah kemudian mencucinya dan langsung dimakan.


"Ternyata bosan juga kalau sendirian di rumah. Enaknya kemana ya?" pikir Aura.


"Aha!"


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Aura. Ia pun langsung bergegas mandi. Beberapa menit kemudian, Aura langsung mengenakan pakaian casual dan memoles wajahnya dengan sedikit riasan.


"Waktunya berangkat!" ucap Aura.


*


*


Aura kini berada di depan rumah kontrakan Sena. Aura sudah berulang kali mengetuk pintu, akan tetapi tak dibuka sekalipun.


"Kemana sih Sena? Kenapa seperti tidak ada orang di dalam," ucap Aura sambil mengintip dari jendela kamar Sena.


Ternyata sang pemilik rumah malah masih asik-asikan tiduran di ranjang.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2