Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 91 - Ditemukannya Ela dan Naya


__ADS_3

Aura merasa kesepian di rumah Sena sendirian karena Sena sedang keluar. Ia pun berinisiatif untuk berkunjung ke rumah mertuanya.


Di saat sudah sampai di depan rumah mertuanya, Aura dibuat terkejut dengan gerbang rumah yang sudah terbuka dan tak ada penjagaan sama sekali. Saat ingin keluar dari mobilnya, Aura dibuat ternganga lagi ketika melihat mama dan kembaran suaminya diikat dan diseret oleh orang-orang yang bertubuh besar. Aura pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil. Ia hanya bisa mengamati dari dalam mobil.


Ya Tuhan apa yang sedang terjadi! Aku tidak mungkin keluar dan membantu mereka. Bagaimana ini?


Alhasil Aura memilih untuk membuntuti saja mobil penculik itu dengan mobil yang ditumpanginya. Ia pun segera memberitahukan itu pada Rendra lewat sambungan telepon. Karena sangat tidak mungkin ia bisa menyelesaikan ini sendirian.


Semoga Ela dan mama baik-baik saja.


Batin Aura terus berdoa untuk keselamatan mama mertuanya dan adik iparnya.


Ketika sampai di lokasi gedung kosong yang terbengkalai, Naya dan Ela di dorong dengan begitu keras hingga keduanya terjatuh. Naya hanya bisa terus menangis. Sementara Ela, ia memang menangis, tapi bukan karena sakit akibat dorongan, melainkan karena melihat mamanya yang menderita.


Sebenarnya Ela menguasai ilmu beladiri karena selalu diajarkan oleh tantenya yaitu Ele. Ia sudah menjelma seperti Ele yang kuat dan bar-bar itu. Sayangnya, ia tidak akan mampu melawan semua orang sekaligus. Apalagi dengan keadaan mamanya yang terus menangis. Pasti akan mengganggu fokusnya. Alhasil, Ela hanya mampu diam dan menuruti saja perintah si penculik.


Padahal di dalam hatinya, Ela sudah mengumpat dan sudah tidak sabar ingin menghajar semua orang yang ada di depannya.


Awas saja kalian! Kalau nanti semua laki-laki di keluargaku datang! Habis kalian semua! Uh! Aku sudah tidak sabar ingin mematahkan kaki dan tangannya itu! Tega sekali membuat mamaku menangis!


Beda lagi dengan Aura yang tak bisa melihat apapun yang ada di dalam karena para penjahat membawa mama dan Ela ke ruangan tertutup.


"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak akan tahu keadaan mereka kalau tetap berada di dalam mobil. Tapi, bagaimana jika mama dan Ela kenapa-kenapa di dalam?"


Aura mencoba berpikir jernih. Karena situasinya sangat tidak memungkinkan sekarang. Apalagi dirinya yang sedang hamil.


Untungnya, sebuah mobil pun datang lebih cepat. Orang itu adalah Elnan. Elnan memang tidak diizinkan untuk ikut menyerbu rumah Rico karena diperintahkan untuk mengurus perusahaan. Karena sangat tidak mungkin jika perusahaan ditinggalkan oleh semua pemimpinnya sekaligus meski hanya dalam waktu satu hari. Tapi ketika mendapatkan kabar mama dan adiknya diculik, Elnan langsung bergegas pergi. Dan memang lokasi Elnan yang lebih dekat dengan lokasi penyekapan mama dan Ela. Makanya Elnan bisa datang lebih dulu.


Ketika melihat Elnan datang, Aura langsung keluar dari mobil dan membayar biaya mobil itu dan menghampiri Elnan.


"Kak El, mama dan Ela ada di dalam. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan disana."


Elnan mengangguk.


"Sebaiknya kau masuk ke dalam mobilku Au. Akan lebih baik jika kau tidak keluar untuk keselamatan mu dan janin yang ada di dalam kandunganmu."


Aura mengangguk. Ia pun masuk ke dalam mobil Elnan. Sementara Elnan mengendap-ngendap untuk masuk ke dalam gedung itu.


Sayup-sayup suara tangisan bisa Elnan dengar. Hatinya begitu sakit mendengar tangisan mamanya. Tangannya mulai terkepal dengan sempurna siap untuk menyerang. Namun, ia tidak ingin gegabah, apalagi ia masih sendirian. Bantuan dan keluarganya yang lain masih di perjalanan.


Elnan mulai menyusup lewat pintu belakang. Ia melihat bagaimana mama dan adiknya ditampar. Tangisan pilu sang mama membuatnya geram pada si penculik.


"Mau kita apakan dua wanita ini? Tuan Rico bilang, kita harus membunuh keduanya. Tapi, melihat kulit putih mulus dan kecantikan dari dua wanita ini. Sangat disayangkan jika kita tidak mencicipinya. Benar kan?" ucap salah satu dari mereka yang menghasut untuk menikmati dua wanita itu.


"Hahaha, kau benar juga. Sebelum mereka mati, mereka harus memuaskan kita terlebih dahulu."


"Cih! Tidak sudi aku!"

__ADS_1


Akhirnya Ela mulai mengeluarkan umpatannya. Karena sudah tidak tahan lagi berpura-pura ketakutan.


"Hei anak muda! Walaupun kau bilang tidak sudi! Pasti nanti kau akan merasakan kenikmatan sendiri! Kau pasti bahkan akan memintanya lagi dan lagi. Jadi jangan menolak dan ikuti saja kemauanku kalau kau ingin tetap hidup! Hahaha."


"Cuih!"


Ela meludahi pria yang ada di depannya itu.


Si pria geram dan langsung memegang dagu Ela dengan tatapan bencinya.


"Sialan! Beraninya kau meludah padaku!"


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Ela.


"Dasar pengecut! Beraninya sama perempuan!"


Plak!


"Tidak, jangan, hentikan, tolong hentikan! Hiks hiks, jangan sakiti anakku!" sergah Naya sambil menangis. Ia tidak kuasa melihat anaknya disakiti.


"Salah sendiri, anakmu ini sudah membuat aku kesal! Dia pantas mendapatkan dua tamparan itu."


"Dasar pengecut!"


Si penculik langsung menjambak rambut Ela karena dibuat kesal lagi oleh Ela.


"Sialan! Mulutmu itu kenapa selalu membuat aku kesal!"


"Hahahaha! Itu artinya kau memang pengecut! Siksa saja aku terus. Tapi, jangan salahkan aku jika kau akan terima akibatnya nanti. Kau pikir kau akan bisa pergi dengan tenaga ketika nanti laki-laki di keluargaku datang menolongku? Cih! Bahkan untuk kau keluar dengan tanpa memar pun tidak akan mungkin!"


Plak!


Sebuah tamparan Ela dapatkan lagi diiringi dengan tangis Naya yang terus terdengar.


"Kau pikir laki-laki di keluargamu akan datang? Cih! Sangat tidak mungkin. Mereka kini sedang fokus untuk menangkap tuan kami. Hahaha."


"Oh, iya kah? Tapi sepertinya kau salah besar!" jawab Ela dengan seringai di bibirnya.


Ela telah melihat sang kakak yang bersembunyi di balik drum besar yang ada disana. Ela bahkan bisa melihat aura kemarahan di dalam wajah kakaknya itu.


"Hih! Wanita ini menyebalkan sekali!"


Si pria jadi kesal dan ingin segera memperk*sa Ela. Tapi tidak semudah itu, Ela menggunakan kakinya yang tidak diikat untuk menendang laki-laki yang ada di hadapannya. Kemudian ia bersusah payah untuk berdiri dan berlari menuju ke tempat dimana kakaknya bersembunyi. Ia meminta kakaknya untuk melepaskan ikatan yang mengikat tangannya.


Setelah ikatan itu terlepas. Ela mulai memperlihatkan siapa dirinya. Elnan sebenarnya agak khawatir pada adiknya ini. Apalagi wajahnya sudah sangat merah dan ada bekas tamparan disana.

__ADS_1


"Ela, lebih baik kau jangan ikut bertarung. Kau selamatkan mama saja," ucap Elnan.


Ela menggeleng tidak setuju.


"Tidak! aku tidak bisa diam saja! Setelah mereka membuat mama kesakitan dan terus menangis."


"Oh! Rupanya benar, ada satu laki-laki dari keluargamu ya? Hahaha. Mana yang lainnya? Kau mau melawan kami yang bersepuluh dengan jumlah kalian yang hanya dua orang? Hahaha. Konyol sekali!"


Ela sudah mengepalkan tangannya. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk menghajar laki-laki bermulut lemes di hadapannya.


"Sialan! Awas saja kalau kau nanti minta berhenti! Aku tidak akan mengabulkannya!"


Ela langsung berlari untuk menghajar laki-laki itu. Elnan hanya bisa mengumpat karena kecerobohan adik perempuannya itu. Dua lawan sepuluh sangat-sangat tidak mungkin untuk menang. Ia hanya bisa berdoa, semoga pertolongan segera datang.


Perkelahian terus berlangsung, hingga Ela sedikit kehabisan tenaga. Dua penjaga sudah tumbang tinggal enam orang lagi.


"Hahaha, bagaimana? Kau sudah ketar-ketir belum? Aku sudah menghabisi dua rekanmu," ucap Ela dengan seringai di bibirnya.


Sial! Aku tidak bisa menganggap remeh wanita ini!


Tak lama kemudian terdengar suara dobrakan pintu dari luar. Richard, Rendra, Nicolas, Ansel dan beberapa bawahan Richard sudah sampai.


Para penculik benar-benar dibuat ketar-ketir karena kedatangan orang-orang itu. Kini merekalah yang kalah jumlah.


"Hahaha, benar kan apa yang aku ucapkan tadi? Kau tidak akan bisa keluar dengan tanpa memar! Atau bisa saja kau keluar dengan keadaan sudah menjadi mayat!"


"Diam kau! Wanita sialan!"


Tiba-tiba sebuah tendangan mendarat mengenai perut laki-laki itu!


"Beraninya kau membuat kembaranku kesakitan hah! Kau bahkan membuat banyak memar di wajahnya!"


Orang itu adalah Rendra. Ia tidak terima kembarannya disakiti. Ia mendorong pelan tubuh Ela, agar ia saja yang menangani laki-laki itu. Dengan senang hati Ela menurut. Ia langsung beralih ke mamanya dan melepaskan ikatan mamanya. Kedua wanita itu pun keluar dari dalam gedung melalui pintu belakang. Mereka membiarkan perkelahian itu berlangsung.


Ketika sudah sampai di luar, Ela dibuat kaget dengan adanya kehadiran Sena dan juga Aura.


"Kenapa kalian ada disini?" tanya Ela.


"Ceritanya panjang," jawab Sena dan Aura bersamaan.


"Tolong jaga mama. Aku akan kembali masuk ke dalam."


Aura mengangguk. Ia langsung merangkul mama mertuanya yang masih menangis sesegukan.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2