Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 56 - Senang bertemu kau kembali


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, ketika Aura sedang asik dengan tanamannya, Sena bertugas untuk melayani pelanggan.


Seorang pria bertubuh tinggi dan mengenakan hoodie berwarna merah datang ke toko bunga.


"Apa ada bunga mawar putih?" tanya si pria itu.


"Ada, tentu saja ada," jawab Sena. Awalnya Sena tidak menatap ke arah si pelanggan melainkan sedang merapihkan beberapa bunga yang jatuh ke lantai. Namun, ketika ia melihat siapa yang datang. Sena sedikit terkejut.


"M-malvin?"


"Iya ini aku Malvin. Wah, aku tidak menyangka rupanya kau bekerja disini sekarang. Apa kau sudah tidak jadi wanita bayaran lagi? Bagaimana dengan Aura?"


"Aku tidak bekerja disini. Aku hanya membantu teman. Aku masih bekerja jadi wanita bayaran. Jadi, jika kau butuh wanita bayaran, hubungi aku ya. Nomor ponselku masih sama."


Malvin hanya tersenyum menanggapi ucapan tersebut. Nyatanya kabar Aura tidak Sena ceritakan. Jadi, Malvin ini adalah mantan kekasih Aura. Klien yang dulunya berubah jadi kekasih tapi kisah mereka harus berakhir karena keluarga Malvin yang tidak menyetujui hubungan keduanya.


"Bagaimana dengan Aura? Apa dia masih bekerja disana? Apa kabarnya baik-baik saja? Selama ini aku selalu mencoba menghubunginya. Namun, sepertinya Aura benar-benar ingin menjauh dariku."


Sena terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Sena tahu semuanya, semua masalah yang terjadi di antara Malvin dan Aura. Tentunya Sena pun bisa merasakan sakit hatinya Aura ketika dihina dan dicaci maki oleh keluarga kekasihnya sendiri. Untuk maju saja pasti Aura tidak berani. Ia menjalin hubungan dengan orang tentunya ingin berbagi kebahagiaan dan cerita bukan untuk jadi bahan hinaan.


"Ya, Aura juga baik." Hanya jawaban itu yang bisa Sena berikan.


Tolong kau tetap di dalam Au. Aku tidak ingin kau bertemu dengan Malvin. Aku yakin kau sudah melupakannya. Namun, aku tidak yakin bahwa Malvin sudah melupakan mu. Dilihat dari matanya saja, aku tahu bahwa masih ada cinta di hatinya padamu. Kumohon, jangan keluar.


"Begitu kah? Kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu tentang Aura," tebak Malvin.


"Tidak. Oh ya, kau mau bunga mawar putih saja? Atau mau dicampur dengan yang lain?"


Sena mencoba mengalihkan topik tadi dan balik ke topik utama tujuan Malvin datang kesana.


"Mawar putih saja, tolong dirangkai dengan baik. Jangan lupa tuliskan kartu ucapannya juga."


"Siap."


Sena pun melakukan tugasnya. Ia sambil takut-takut Aura muncul dari belakang.


"Sen, apa nomor ponsel Aura masih sama?" tanya Malvin tiba-tiba.


"Ya."


"Sepertinya Aura benar-benar ingin menjauh dariku ya. Padahal aku rela berjuang bersamanya meski aku harus keluar dari keluargaku," ucap Malvin lagi.

__ADS_1


Aduh! Jangan sampai, jangan sampai Aura ketemu Malvin lagi pokoknya.


Ceklek!


Pintu belakang terbuka oleh Aura yang membawa beberapa tangkai bunga mawar merah. Ia berjalan tanpa tahu bahwa ada laki-laki yang terus menatapnya dengan sebuah senyuman.


Laki-laki itu berjalan mendekat ke Aura dan berdiri di belakang Aura.


"Astaga!" Aura terkejut ketika ada orang yang berdiri di belakangnya ketika ia berbalik.


Deg!


Aura melihat ke orang itu yang tersenyum manis padanya.


"Apa kabar?"


"Baik."


"Sudah lama ya kita tidak bertemu. Kau semakin cantik Au."


Aura tersenyum tipis membalasnya.


"Apa kau bekerja disini? Atau teman yang Sena maksud adalah dirimu? Jadi kau sudah tidak menjadi wanita bayaran lagi?" tanya Malvin bertubi-tubi.


"Aku yang punya toko bunga ini," jawab Aura.


Malvin tersenyum mendengarnya. Jawaban itu sudah membuktikan jika aura sudah tak jadi wanita bayaran.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Belum juga menjawab, Sena langsung ikut bicara.


"Bunganya sudah selesai dirangkai, kartu ucapan yang kau minta pun sudah aku masukan ke dalam. Apa ada lagi?"


"Tidak, tolong letakan dulu disitu. Nanti aku bayar."


"Baiklah."


"Au, bisa kita bicara sebentar?" tanya Malvin lagi.


"Bicara apa? Bukankah ini juga sedang bicara?"

__ADS_1


"Maksudku tentang kita."


"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan tentang kita. Semuanya kan sudah berakhir," jawab Aura.


"Tapi aku tidak menganggap semuanya berakhir. Aku ingin kita kembali bersama. Selama ini aku dikirim orang tuaku ke luar negeri untuk jauh darimu setelah kau memutuskan aku secara sepihak. Tapi, percayalah, tidak sehari pun aku tidak memikirkan mu, Au. Aku masih mencintaimu."


Duh! Kalau sampai Rendra tahu! Bisa-bisa babak belur tuh laki!


"Maaf, aku tidak bisa. Aku juga tidak peduli kau dulu dikirim ke luar negeri atau dikirim ke luar kota. Intinya kisah kita sudah berakhir. Artinya tidak ada pengulangan kisah lagi. Karena akhirnya akan sama dan juga aku tidak mau hidup dengan sebuah keluarga yang bahkan tidak menghargai diriku," jawab Aura dengan tatapan biasa.


"Kita bisa hidup saja berdua Au. Aku akan keluar dari keluargaku."


"Betapa berdosanya aku jika aku memisahkan mu dari keluargamu. Mereka sudah bersusah payah membesarkan mu. Aku hanya orang asing yang tiba-tiba masuk dalam hidupmu dan pernah singgah lalu pergi. Jadi, rasanya tidak layak jika kau memilih pergi. Lagipula aku sudah dilamar dan keluarga pria yang aku cintai menerimaku apa adanya."


Deg!


Sakit! Rasanya sakit sekali. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk tubuhnya.


"Mereka bahkan menerimaku ketika aku masih jadi wanita bayaran. Jadi, aku pun rela jika harus berhenti jadi wanita bayaran," tambah Aura lagi.


"Sepertinya kau sangat mencintai pria itu?" tebak Malvin. Ia bisa melihat itu semua dari Aura yang berani memilih berhenti jadi wanita bayaran. Padahal Malvin tahu kehidupan Aura bagaimana.


Secinta itu kah kau padanya? Kenapa dulu ketika aku memintamu untuk berhenti kau tidak mau?


Pertanyaan itu hanya ada di pikiran Malvin saja.


"Ya, aku sangat mencintainya. Sampai aku tidak ingin membuatnya kecewa."


Malvin tersenyum kecut. Rasanya dadanya sesak sekali. Nyatanya kepulangannya ke rumah ingin berjuang kembali. Tapi justru mendapatkan kenyataan lain. Wanita yang dicintainya sudah dimiliki orang lain.


"Pria itu beruntung bisa mendapatkan mu."


"Tidak, justru akulah yang beruntung mendapatkannya."


Lagi-lagi dadanya sesak. Malvin tak mampu lagi untuk berlama-lama disana. Ia segera menghampiri Sena dan membayar bunga mawar putih itu.


Sebelum pergi, Malvin berkata, "Senang bertemu kau kembali. Semoga bahagia."


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2