
Lusa pun tiba. Aura dan Rendra berpamitan untuk pindah ke apartemen.
"Jangan bertengkar. Kalau ada masalah nantinya dibicarakan dengan baik. Kurangi ego dan mulailah saling menerima segala kekurangan dan kelebihan," ucap Naya.
"Iya ma. Rendra paham. Rendra sudah dengar kalimat itu terus-menerus dari mama."
"Ya, supaya kau tidak gampang emosi Rendra."
"Iya, iya, iya, mama."
"Au, kalau suamimu susah dibilangin. Jatahnya diliburkan aja. Kalau perlu dua Minggu sekalian, biar tahu rasa!"
Rendra langsung ketar-ketir mendengar ucapan sang mama. Ia khawatir Aura akan menurut dan melakukan itu jika ia nakal nantinya.
"Iya ma."
Kan, kan. Mama nih ngeselin banget.
"Kami pamit ya ma, pa," ucap Aura.
"Iya sayang, hati-hati di jalan. Kapan-kapan mama akan main kesana."
Aura mengangguk.
Keduanya pun masuk ke dalam mobil. Rendra melajukan mobilnya keluar dari halaman.
Di perjalanan, Rendra menggenggam tangan Aura lalu menciumnya.
"Kalau aku nanti susah dibilangin. Jatahnya jangan diliburkan ya sayang. Cukup kasih aku hukuman kecil saja. Seperti bersih-bersih apartemen misalnya."
"Takut ya?" ledek Aura.
"Iya lah sayang. Kalau tiap malam nggak melakukan itu tuh rasanya kaya ada yang kurang. Terus juga aku udah ketagihan. Jadi nggak mau kalau libur sehari pun."
"Ih, dasar mesum."
"Hahaha. Mesum dimana nya sayang?"
"Ah, pokoknya mesum."
"Ya, lagian, salah siapa bikin candu terus. Aku kan jadi tidak bisa tidur sekarang kalau sendirian. Enaknya itu sambil mainan yang kenyal-kenyal."
"Aaaa, jangan diteruskan! Fokus nyetir aja."
Aura rasanya malu saat Rendra bilang yang kenyal-kenyal. Ia langsung membayangkan buah dadanya yang selalu dimainkan oleh Rendra sebelum tidur. Bahkan terkadang Rendra tidak mau melepasnya. Sudah seperti bayi besar.
Perjalanan kurang lebih setengah jam akhirnya sampai. Aura dan Rendra ke apartemen hanya membawa diri saja. Karena hari sebelumnya sudah mengantarkan baju dan perabotan rumah tangganya. Dalamnya pun sudah dibereskan oleh beberapa pelayan dari rumah mama papanya.
Setelah hidup berdua, Aura bertekad untuk mengurusi sendiri rumah tangganya tanpa bantuan pembantu. Ia ingin berusaha jadi istri yang baik.
Rendra memasukan 6 digit angka di depan pintu.
Klik!
__ADS_1
Pintu terbuka.
Mereka berdua pun masuk ke dalam apartemen.
"Tara! Suka tidak?" tanya Rendra.
"Suka, suka sekali."
Tangan Rendra terulur menarik tangan Aura untuk melakukan room tour.
"Disini adalah dapurnya. Kau bisa masak apapun disini. Semua peralatan sudah lengkap. Tapi jika kau ingin beli peralatan tambahan lainnya, bilang saja padaku. Aku akan segera mengabulkannya."
Kemudian berpindah ke sebuah kamar dengan ranjang berukuran besar.
"Ini kamar kita berdua. Nanti malam kita coba beradegan panas ya disana ya. Itung-itung masa percobaan. Kalau kasurnya kurang empu, kan bisa segera diganti supaya mainnya makin enak. Ouh, aku benar-benar tidak sabar sayang."
"Mesum!"
"Hahahaha."
Rendra membawa Aura keluar dari kamar lalu memperlihatkan ruang tamu, kamar tamu dan beberapa ruang kosong lainnya.
Kini, Aura dan Rendra sedang duduk di sofa sambil menonton siaran televisi. Sesekali Rendra mencuri-curi kecupan di pipi Aura. Rasanya selalu ada yang kurang jika tidak menjahili dan mencium Aura.
"Ya ampun, lama-lama wajahku penuh dengan air liurmu tahu."
"Biarin. Lagian kita juga sudah saling bertukar air liur," jawab Rendra dengan entengnya.
"Kemanakah Rendra yang kaku dan ketus itu?"
Emang dasar pengantin baru maunya cium-cium terus. Dimana pun, kapan pun, pokoknya cium-cium jangan sampai ketinggalan.
*
*
Malam hari, di club Century Sena mengantarkan minuman yang dipesan oleh pelanggan.
"Ini minumnya Tuan," ucap Sena.
"Wah, terima kasih cantik. Duduk dulu sebentar sini," ajak si pelanggan.
Sena pun menurut. Ia duduk di samping pelanggan itu.
"Jangan disitu dong. Duduk saja di pangkuanku," ucap si pelanggan lagi.
"Tenang saja, nanti aku bayar lebih kalau kau bisa memuaskan ku," tambahnya.
Sena pun duduk di pangkuan pelanggan itu. Paha Sena mulai disentuh-sentuh oleh si pelanggan. Begitu juga dengan bahunya.
"Mau main disini apa di kamar?" tawar si pelanggan.
"Di kamar saja Tuan," jawab Sena.
__ADS_1
"Baiklah, ayo!"
Sena pun bangkit dari pangkuan si pelanggan dan dirangkul mesra oleh pelanggan itu. Sena tidak bisa menolak. Ia memang sudah terbiasa, dan saking terbiasanya ia seperti tidak punya malu. Walaupun sebenarnya di hati kecilnya, ia selalu merasa menyesal telah melakukan perbuatan keji itu. Namun, apalah daya, dia sudah terjerat terlalu dalam di lingkaran dosa itu.
Dari kejauhan Ansel melihat Sena dirangkul oleh laki-laki lain. Hatinya merasa terbakar dan tidak terima.
Sena hanya miliknya, dan hanya dia yang boleh menyentuh Sena.
Alhasil, Ansel pun menghadang keduanya.
"Maaf, malam ini, wanita ini akan melayani saya. Anda silahkan pergi."
Laki-laki itu pun pergi karena tahu siapa orang yang ada di depannya itu.
Sena melihat tajam ke arah Ansel.
"Kenapa kau membuat pelangganku pergi? Padahal aku seharusnya dapat uang banyak malam ini!" kesal Sena.
"Ayo!" ajak Ansel.
"Ayo kemana?" tanya Sena.
"Memberimu uang dengan memuaskan aku," jawab Ansel.
Sena hanya bisa menahan rasa kecewanya. Ia tak bisa lagi berharap pada Ansel. Laki-laki itu membutuhkannya untuk memuaskan hasratnya. Walaupun sikapnya baik, tetap saja Sena tidak bisa bergantung padanya.
Ansel menarik tangan Sena dan membawanya ke dalam sebuah kamar. Ansel berjalan maju dan Sena berjalan mundur hingga terjerembab di atas ranjang. Laki-laki menatap lekat-lekat wajah Sena.
"Aku kan sudah bilang, kau hanya boleh melayaniku Sena. Kau tidak boleh melayani yang lain."
"Kenapa? Itu kan hak ku, lagipula kau pun tidak sering datang kemari. Kalau aku hanya menunggumu datang. Yang ada aku hanya dapat uang dari jadi pelayan bukan wanita bayaran. Dan uangnya tidaklah seberapa."
Ansel menaiki tubuh Sena. Entah kenapa ia jadi kesal mendengar jawaban Sena itu. Seakan-akan dirinya tidak dianggap oleh Sena. Saking kesalnya ia langsung melahap bibir Sena dengan bibirnya. Ia tidak ingin lagi mendengar ucapan Sena yang nantinya akan semakin membuatnya kesal.
Ciuman itu berubah jadi ciuman penuh gairah. Sampai Sena pun tersengal-sengal karena kehabisan napas.
"Kali ini tolong turuti saja kemauanku. Kau hanya boleh tidur denganku saja. Kalau dengan yang lain, aku hanya mengizinkanmu sebatas berciuman saja. Mengerti?"
Memang siapa aku bagimu? Kenapa seolah-olah aku ini adalah milikmu? Padahal kita hanya dua orang yang saling membutuhkan. Kau membutuhkan kepuasan, dan aku membutuhkan uang.
"Kalau aku tidak mau?"
"Sena sayang, aku bahkan datang kesini hanya untuk bertemu denganmu, menghabiskan malam denganmu. Kenapa kau tidak bisa seperti aku?"
"Hahaha. Sel, aku ini wanita bayaran yang tidak dimiliki satu orang. Jadi mana bisa begitu."
"Bisa kan? Aura saja bisa. Rendra bahkan bisa mengeluarkannya dari sini. Kenapa aku tidak?"
Glek!
"Maksudmu gimana?"
*
__ADS_1
*
TBC