
Aura kembali ke tempat duduknya dan makanan yang ia pesan sudah tersaji di depan matanya. Matanya langsung berbinar, ia bingung mau menu mana dulu yang akan ia habiskan.
"Kapan lagi aku bisa makan enak dan sebanyak ini?"
Aura seolah tak menganggap Rendra yang duduk di hadapannya. Ia mengambil sendok dan mencicipi satu per satu makanan tersebut.
"Ah, enak sekali," ucap Aura ketika makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya.
"Ehemm!" Rendra berdehem.
"Eh,"
Aura mendongak dan melihat ada orang di hadapannya. Ia memperlihatkan senyum bodohnya.
"Hehe, aku kira hanya ada aku disini. Makasih ya Ren. Makanan disini enak-enak. Kalau tidak habis nanti, boleh aku bungkus?" tanya Aura.
"Tidak usah," jawab Rendra.
"Cih, pelit sekali!"
"Bawa yang baru saja," ucap Rendra.
"Wah, benarlah? Rendra baik sekali. Terima kasih ya."
Rendra pun mengangguk. Aura pun melanjutkan lagi makannya. Sementara Rendra ia hanya melihat saja. Rasanya melihat Aura makan dengan lahap sudah membuatnya menjadi kenyang.
Ternyata badan sekecil itu, perutnya mampu menampung makanan hampir 5 kg.
Rendra menggelengkan kepalanya. Antara aneh dan juga terkesan.
Tak lama kemudian, Aura sudah merasa kenyang. Makanan yang ia pesan pun tidak habis semuanya. Daripada sisa makanan terbuang sia-sia, Aura lebih memilih membungkus makanan yang belum ia makan daripada meminta dibuatkan yang baru.
"Tidak usah dibuatkan yang baru, ini saja sudah cukup," ucap Aura.
"Ya sudah," jawab Rendra.
Setelah makan, Aura pamit pulang ke rumahnya pada Rendra. Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih lagi karena Rendra baik padanya. Namun, Aura malah meledek Rendra sebelum pergi.
"Jika nanti kau mabuk lagi, telepon aku aja. Aku akan siap datang untuk membawamu pulang," ucap Aura dengan senyumnya. Maksud dari ucapan Aura itu, ia ingin mendapatkan sarapan enak lagi. Namun sepertinya Rendra berpikir lain tentang ucapan Aura tersebut.
Aura melambaikan tangannya. Punggung tubuhnya mulai tak terlihat lagi di pandangan Rendra.
Selepas Aura pergi, Rendra merasa ada sedikit ruang beku di tubuhnya yang mencair.
"Haish! Mikir apa sih!" ucap Rendra kemudian kembali ke kamarnya.
*
*
Di kediaman Kavindra, Naya sedang fokus membuat menu makanan baru untuk restorannya. Ia baru teringat jika tadi ada sebuah pesan yang masuk akal tetapi ia abaikan karena sedang fokus.
Naya mengambil ponselnya yang ia letakan di meja. Membuka pesan tersebut dan terkejut kemudian tersenyum bahagia.
__ADS_1
Ma, Rendra di resort bersama wanita. Sepertinya sebentar lagi Rendra akan membawa wanita itu ke rumah. Mama jangan khawatir, sebentar lagi akan punya mantu baru, hihi.
"Dasar anak itu! Kenapa selalu berbohong dan mengatakan tidak punya kekasih!?"
Naya pun menelpon anak perempuannya.
"Halo sayang," sapa Naya.
"Halo ma, ada apa?"
"Apa tadi kau sempat memfoto wanita yang bersama kakakmu?" tanya Naya.
Ela langsung terdiam. Jika ia menambahkan lagi rumor yang sebenarnya tidak ada. Ia benar-benar akan menghilang dari muka bumi ini.
"Tidak ma, tadi aku keburu pergi karena ada telepon dari klien," jawab Ela.
"Em, begitu. Ya sudah, lanjutkan lagi kerjamu sayang," ucap Naya.
"Siap mama."
Sambungan telepon pun berhenti. Naya sudah tidak sabar menunggu anak laki-lakinya pulang dan menanyakan langsung seperti apa wanita yang kini dicintai anak laki-lakinya itu.
*
*
Aura telah sampai di rumahnya. Ia menaruh makanan yang dibungkus nya tadi ke meja makan. Rupanya adiknya tidak ada jadwal kuliah hari ini. Ia sampai terkejut ketika melihat adiknya berdiri di dekat pintu dengan kedua tangannya yang bersilang di dada.
"Kakak semalam tidur dimana?" tanya Alin dengan tatapan selidiknya.
"Ketiduran di tempat teman," jawab Aura.
"Kakak tidak berbohong, kan?" tanya Alin lagi.
"Tidak dek. Ini kakak juga bawakan makanan dikasih temen kakak itu."
Mendengar kata makanan, Alin langsung melihat ke bungkusan plastik di meja makan. Ia langsung duduk dan membuka bungkusan tersebut. Alin lupa jika awalnya ia curiga pada kakaknya. Disogok dengan makanan saja membuatnya lupa segalanya.
"Eum, baunya enak sekali," ucap Alin.
"Makanlah, kakak sudah makan disana tadi. Habiskan juga. Kakak mau mandi dulu," ucap Aura kemudian pergi ke kamarnya.
"Teman kakak yang mana yang memberikan makanan sebanyak ini? Apa Kak Sena? Atau Kak Karin? Tapi kalau Kak Karin rasanya tidak mungkin. Tatapannya saja selalu tidak bersahabat kalau melihat ke Kak Aura. Ah, bodo lah, yang penting aku makan enak."
Meskipun uang hasil jadi wanita bayaran agak besar, tapi semuanya habis tak tersisa. Karena Aura memang harus membayar hutang mamanya dulu dan menyicil rumah yang mereka tempati juga membiayai sekolah Alin. Bahkan untuk dirinya sendiri, Aura hanya akan mengambil sedikit uang hanya untuk beli make-up dan beberapa pakaian saja untuk bekerja. Selain itu, semua uang ia gunakan untuk kebutuhan adiknya dan kebutuhan rumah. Untuk makan saja, mereka selalu seadanya. Ya walaupun sesekali mereka akan makan daging.
Selesai mandi, Aura keluar dari kamarnya. Alin masih berada di meja makan. Aura pun duduk di hadapan adiknya.
"Kenyang?" tanya Aura.
"Banget!" jawab Alin.
Aura tersenyum senang.
__ADS_1
"Lain kali kakak akan membelikan itu untukmu," ucap Aura.
"Sebulan sekali saja kak, atau dua Minggu sekali," jawab Alin.
"Iya."
"Kakak tidak pergi kemana-mana hari ini?" tanya Alin.
"Pergi. Bekas tamparan di wajah kakak kan sudah hilang. Kakak juga tidak enak sama teman-teman kakak yang menggantikan kakak kemarin," ucap Aura.
"Klien kakak itu tidak ada yang kurang ajar kan?" tanya Alin lagi.
Aura tersenyum menjawabnya. Ia tidak ingin adiknya khawatir padanya. Meskipun ia mengajukan syarat dengan tidak boleh mencium dan berhubungan badan. Sesekali ada saja kliennya yang tidak sopan dengan tiba-tiba mencium pipinya.
"Tenang saja, meskipun itu terjadi. Kakak akan memukulnya dan menendang s*l*ngkangannya," jawab Aura.
"Apa kakak benar-benar tidak ingin mencari pekerjaan lain saja? Aku benar-benar khawatir tentang kakak."
Aura mengelus rambut adiknya.
"Kau sudah bertanya itu beberapa kali dan kakak juga sudah menjawabnya. Kakak hanya lulusan SMA. Tidak mungkin akan mendapatkan gaji sebanyak kakak jadi wanita bayaran. Hanya dengan menjadi wanita bayaran lah kakak bisa membiayai hutang dan dirimu."
"Maaf," ucap Alin sambil menunduk.
"Maaf, aku menjadi beban kakak."
"Tidak, kamu bukan beban, tapi kamu adalah tanggung jawab kakak."
"Aku bersyukur punya kakak seperti kakak."
"Kakak juga bersyukur memiliki adik sepertimu. Sana kerjakan tugas!"
"Ih, kakak ini suka sekali menghancurkan suasana."
"Hahaha."
Tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Aura.
"Sebentar kakak mau lihat pesan dulu."
Au, kau sudah sembuh kan? Sudah bisa kembali bekerja lagi? Klien kemarin tidak mau diganti dengan orang lain. Dia hanya mau bersamamu.
"Kakak pergi ya," ucap Aura.
"Apa ada kerjaan?"
Aura mengangguk.
"Baiklah, hati-hati. Jaga diri baik-baik ya kak."
Aura mengangguk lagi. Ia pun pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian dan alat make up nya lalu menghilang dari pandangan Alin.
*
__ADS_1
*
TBC