Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 64 - Terima kasih untuk malam indah ini


__ADS_3

Melihat Aura yang keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut basah dan menetes ke wajahnya, membuat Rendra menelan ludahnya.


Kenapa jadi keliatan seksi sih!


"Baju-baju aku dimana?" tanya Aura membuyarkan isi kepala Rendra.


"Sini dulu!" pinta Rendra.


Aura pun berjalan mendekat ke Rendra.


"Duduk!"


Aura pun menurut.


Rendra mengeringkan rambut Aura dengan sebuah handuk kecil yang ada di laci samping ranjangnya.


"Harum sekali. Kau pakai sampo apa?" tanya Rendra sambil mencium bau rambut Aura.


"Aku pakai sampo yang ada di kamar mandi," jawab Aura.


"Ah, masa sih? Kenapa baunya beda?"


Aura hanya mengangkat bahunya tidak tahu.


"Dimana baju-bajuku? Mama kan tadi bilang sudah mengantarkan baju kesini."


"Ada di dalam lemari. Tapi sepertinya kau tidak butuh baju untuk malam ini," ucap Rendra lagi yang sekarang sudah tidak mengeringkan rambut Aura melainkan sudah mengecup leher Aura.


Aura merasakan gelayar aneh di aliran darahnya.


"Ren," panggil Aura.


"Hm?" jawab Rendra yang masih asik mengecup leher Aura.


"Hadap sini," pinta Rendra agar membalikan badannya dan mereka saling berhadapan.


"Cantik banget sih istriku ini, muach!"


Rendra mengecup bibir Aura.


Apa malam ini akan jadi malam pertamaku? Aaaa, apa aku siap? Kata Sena, pertama kali dimasuki akan terasa sakit. Duh! Gimana ini?!


Rendra menatap dalam-dalam wajah Aura. Tangannya mengelus lembut pipi Aura yang mulus.


Muach!!


Rendra mengecup bibir Aura lagi tanpa memainkannya.


"Kenapa bibirmu seakan memanggil-manggil minta dikecup terus sih! Aku kan jadi gemas."


Cup! Cup! Cup!


Rendra terus mengecup bibir Aura berulang kali.


Aura hanya bisa mengedipkan matanya saking terkejutnya.


Wajah Rendra semakin mendekat, kini hidung Rendra dan Aura saling bersentuhan. Napas mereka pun saling berhembus.


"Apa kau lelah?" tanya Rendra.


Aura menggeleng.

__ADS_1


"Kita lakukan malam ini ya sayang. Mau kan?" ajak Rendra.


Aura diam. Ia harus mempersiapkan mental dan hatinya. Namun, ia ingat betul ucapan mama mertuanya kalau suami menginginkan sebagai seorang istri wajib melayani jangan menolak.


"I-iya, lakukanlah," jawab Aura.


Karena sudah mendapatkan jawaban dari Aura. Rendra pun menjauhkan wajahnya dari Aura untuk melepaskan bajunya.


Melihat itu, Aura menutup matanya.


"Jangan ditutup sayang. Lihatlah, ini semua kan milikmu. Bahkan kau boleh memegangnya sesukamu," ucap Rendra sambil meraih tangan Aura untuk menyentuh kotak-kotak di perut Rendra.


Aura sudah membuatnya dan menikmati sensasi dari memegang kotak-kotak di perut Rendra. Aura meneguk ludahnya. Rasanya Rendra terlihat seksi di matanya.


"Buka!" pinta Rendra.


Aura bingung. Ia tidak tahu maksud perkataan Rendra itu.


"Buka handuk kimono ya sayang. Tidak mungkin kan kita melakukan malam pertama tapi kau masih mengenakan itu."


Aura meneguk ludahnya lagi merasa gugup. Tangannya bahkan gemetaran ketika akan membuka tali handuk kimono nya.


Ketika tali sudah terlepas, Aura mulai menurunkan handuknya. Sebelum itu terjadi, Rendra sudah mengecup bibir Aura lebih dulu.


Kali ini tak hanya sekedar kecupan, tapi l*matan dan sedikit gigitan. Ciuman berlangsung agak lama.


Tangan Rendra terulur untuk menurunkan. handuk kimono yang tadi sempat tertunda. Handuk kimono pun berhasil jatuh ke atas ranjang.


Kecupan pun terlepas. Terlihatlah dua buah gundukan sintal di hadapan Rendra. Ia tersenyum. Sementara Aura mencoba menutupnya dengan kedua tangannya karena merasa malu.


"Jangan malu, aku juga memperlihatkan dadaku padamu. Jadi kita impas."


Aaaa, tapi itu kan berbeda! Aku malu!


Suara indah pun keluar dari mulut Aura.


"Ah."


Rendra jadi semakin bersemangat karena itu. Rendra mulai memimpin dan membuat posisi Aura kini menjadi di bawah kungkungan Rendra dengan bagian bawah dari masing-masing yang masih tertutup handuk.


Lagi-lagi Rendra menatap Aura begitu lekat. Mengusap wajah Aura dengan begitu lembut. Mengecup satu persatu bagian wajah Aura tanpa sisa.


"Aku akan memulainya. Apa kau siap?" Aura mengangguk. Ia sudah memasrahkan segalanya pada Rendra.


Rendra memulainya. Ia mengecup penuh hasrat bibir Aura bahkan sesekali menggigitnya karena gemas. Setelah puas dengan bibir Aura, Rendra berpindah ke leher Aura. Ia menciumnya, menggigitnya hingga meninggalkan bekas. Tangannya tak tinggal diam. Rendra memainkan gundukan sintal milik Aura hingga wanita itu mend*sah.


Sesekali Rendra menggigit p*ting Aura karena gemas. Lalu kegiatan itu berpindah ke bagian bawah. Rendra membuka handuk yang masih menutupi milik Aura juga membuka handuk miliknya dan dilemparkannya ke sembarang tempat.


Rendra menyentuh bagian inti Aura hingga membuat Aura menggeliat.


"Ah,"


Rendra tersenyum. Ia terus memainkan bagian bawah Aura dengan jari dan bibirnya hingga membuat milik Aura basah.


Tangan Aura, Rendra arahkan ke miliknya.


Aura meneguk ludahnya.


Aaaa, besar sekali! Apa itu akan bisa masuk ke milikku? Bagaimana jika tidak?


"Pegang sayang."

__ADS_1


"I-iya."


Setelah pemanasan selesai, Rendra akan langsung pada intinya. Ia membuat kaki Aura mengangkang, mengarahkan miliknya ke dalam milik Aura lalu menggenggam tangan Aura.


"Siap ya sayang. Aku akan pelan-pelan. Kalau sakit bilang saja."


Aura mengangguk.


Rendra mulai memasukkan miliknya pelan, sangat pelan sekali agar Aura tidak merasakan kesakitan. Bibir dan tangannya pun tak tinggal diam. Mereka bekerja sama untuk membuat Aura melayang ke nirwana.


Keringat mulai membasahi keduanya. Suara-suara indah pun mulai lolos dari keduanya.


"Ahhh!"


Aura berteriak ketika milik Rendra sudah masuk dengan sempurna ke dalam miliknya. Ia meringis perih dan meneteskan air matanya.


"Sakit ya sayang? Apa aku terlalu cepat memasukannya?"


"Iya.


Rendra mengecup bibir Aura agar rasa sakitnya tidak terasa. Lalu mereka mengarungi indahnya surga dunia. Sampai akhirnya sebuah pelepasan pun terjadi.


"Sayang, ah, aku, aku ... "


"Keluar sama-sama sayang."


Aura mengangguk. Ia merasa seperti ada cairan hangat yang masuk ke dalam rahimnya. Keduanya pun lemas setelah pelepasan terjadi.


"Aku mencintaimu sayang."


"Aku juga mencintaimu."


"Terima kasih, sudah menjaga ini untukku."


Aura tersenyum lalu memeluk Rendra. Aura tidak sadar kalau pergerakannya itu memicu gaira Rendra kembali mencuat.


"Kita lakukan lagi ya?"


"Hah?"


Rendra melakukannya lagi hingga beberapa ronde. Aura terkapar lemah di atas ranjang setelahnya.


"Sepertinya aku akan memintanya setiap hari. Pantas saja Ansel selalu ketagihan. Rupanya rasanya seenak ini. Ah, sayang, aku ingin lagi dan lagi."


Aura lemas, sementara Rendra masih kuat. Tapi, melihat Aura yang kelelahan, Rendra pun jadi tak tega juga.


"Kita akhiri untuk malam ini. Tapi besok kita mulai lagi ya?"


Cup! Cup! Cup!


Rendra mengecup bibir Aura dan memainkan dada Aura karena gemas. Ia menaruh kepala Aura di lengannya.


"Tidurlah."


Aura memeluk Rendra dan mulai memejamkan matanya. Keduanya tidur sambil berpelukan dengan kondisi tubuh yang sama-sama polos tanpa kain. Lalu Rendra menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan Aura.


"Selamat tidur istriku! Terima kasih untuk malam indah ini."


Ucapan itu diakhiri dengan kecupan di kening Aura.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2