
Di tempat lain, Elnan fokus pada pekerjaannya. Ia bahkan kewalahan harus mengerjakan pekerjaan Rendra juga.
Huh!
Sesekali Elnan membuang napasnya. Ternyata begini rasanya. Dulu ia bahkan membiarkan Rendra mengurus sendiri perusahaan keluarga karena ia lebih memilih mengurus perusahaannya sendiri.
"Cape juga. Enaknya kalau begini ketemu Meira. Pasti rasa capek ku akan hilang."
Seketika ia teringat kalau Meira belum memberikan jawaban apapun untuknya. Mereka memang sering bertemu tapi tidak membahas tentang jawaban Meira. Elnan ingin Meira sendiri lah yang membuka topik obrolan itu. Namun lama-lama Elnan jadi bimbang dan gelisah tentang jawaban apa yang akan diberikan Meira. Ia sangat takut jika Meira benar-benar tak ingin kembali bersamanya.
Huh!
Lagi dan lagi Elnan membuang napasnya kasar. Ia putuskan untuk pergi keluar sebentar untuk mengembalikan suasana hatinya kembali.
Sampailah Elnan di restoran tempat Meira bekerja. Disana ia memesan minuman dan cemilan ringan saja. Elnan juga meminta untuk ditemani oleh Meira dengan imbalan akan membayar lebih pada pesanannya pada si manager restoran.
Keduanya duduk saling berhadapan.
"Makanlah, aku pesan banyak supaya kau makan juga," ucap Elnan.
Meira mengangguk.
"Bagaimana dengan Rendra dan Aura? Apa Meraka sudah baikan?" tanya Meira tiba-tiba.
"Entah, mama hanya cerita kalau Aura sekarang ada di apartemen mereka. Tapi belum cerita bagaimana hubungan keduanya. Bisa saja sudah baikan, atau bisa juga belum."
Meira mengangguk-angguk mengerti. Ia lalu mengambil cemilan yang dicocol dengan saus untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Kalau makan jangan seperti anak kecil. Belepotan kemana-mana," ucap Elnan sambil menghapus saos yang ada di ujung bibir Meira.
Deg!
Sebuah debaran terasa oleh Meira. Perhatian kecil ini mengingatkannya akan hubungan mereka di masa lalu yang sangat manis sebelum masalah terjadi.
"Aku bisa sendiri," ucap Meira lalu membersihkan ujung bibirnya dengan tisu.
Elnan sedikit kecewa. Tapi tidak apa-apa. Mungkin, ia harus lebih berjuang lagi, supaya Meira bisa segera menjawab ajakannya untuk kembali.
Setelah selesai makan disana, Elnan pun pergi. Ketika sudah beberapa langkah keluar, Elnan menoleh dan mengatakan, "Aku harap kau tidak lupa dengan ajakanku di malam itu. Aku serius untuk kembali padamu. Aku akan tetap menunggu kau menjawabnya. Mau sebulan, dua bulan atau bahkan bertahun-tahun."
Lalu Elnan benar-benar pergi dari penglihatan Meira.
Meira menaruh tangannya di dadanya. Hatinya berdebar-debar hanya mendengar ucapan itu dari Elnan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera memutuskan. Semoga apa yang kau ucapkan itu benar. Aku mau melihat seperti apa perjuanganmu El."
*
*
Di apartemen, kini tinggal Rendra dan Aura saja. Naya dan Richard sudah pergi setelah mereka makan bersama. Keduanya saling terdiam, kecanggungan tercipta di malam itu.
Rendra dengan rasa bersalahnya dan Aura dengan kegundahan hatinya.
Percakapannya dengan Aura tadi, membuat Rendra tersadar, ucapan maafnya seakan tidak tulus karena terus diucapkan berkali-kali.
"Au, hari sudah malam. Tidurlah disini. Jangan pulang ke rumah Sena."
Rendra sendiri sadar, meski ia masih berstatus suami Aura, tapi hubungan keduanya masih belum cukup baik untuk tinggal bersama lagi. Akan tetapi demi keselamatan Aura, lebih baik malam ini menginap disana bersamanya.
Aura pun tidak menolak, karena jika hari sudah malam, jalan di dekat rumah Sena gelap dan ada beberapa preman yang selalu mencegat orang-orang disana.
"Sudah berapa bulan usia kandungannya?" tanya Rendra.
"Kata dokter sudah 8 minggu," jawab Aura.
"Apa kau ada mengalami gejala kehamilan?" tanya Rendra lagi.
Aura menggeleng.
"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi senang bisa merasakan apa yang ibu hamil rasakan ketika hamil. Aku tidak bisa membayangkan jika kau sendiri yang mengalami gejalanya. Aku bahkan hampir tidak bisa melakukan apa-apa ketika di pagi hari."
Aura menatap Rendra beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sekarang sudah jam 9. Katanya ibu hamil tidak boleh tidur malam-malam. Sebaiknya kau tidur saja Au. Kau mau tidur bersamaku atau mau tidur di kamar tamu itu terserah mu saja. Aku tidak akan memaksa."
Aura mengangguk. Ia lalu pergi dari hadapan Rendra menuju ke kamar tamu.
Rendra hanya bisa menghela napas saja. Ia harus bersabar untuk bisa meluluhkan hati Aura kembali. Tidak apa-apa belum bisa tidur bersama. Tapi setidaknya malam ini mereka sudah tinggal di tempat yang sama.
Karena belum mengantuk, Rendra menonton serial drama di televisi dengan suara yang sedikit pelan. Ia menonton hingga tengah malam.
Di sisi Aura, ia tiba-tiba terbangun di tengah malam. Perutnya terasa lapar dan ingin makan nasi goreng dicampur mie.
"Lapar ya nak? Baiklah, ayo kita ke dapur dan masak," ucap Aura sambil mengelus perutnya.
Sebenarnya ia ingin Rendra lah yang memasakkan nasi goreng untuknya. Namun, rasanya tidak mungkin. Terlebih hubungan keduanya yang belum dikatakan baik. Ia juga tidak ingin mengganggu waktu tidur Rendra. Namun, ternyata laki-laki itu masih belum tidur dan masih asik menonton televisi.
__ADS_1
Aura membuang jauh-jauh keinginan untuk dimasakkan oleh Rendra. Ia mulai melakukan aktivitasnya di dapur. Rendra yang mendengar suara berisik dari dapur pun langsung pergi kesana.
"Sedang apa malam-malam di dapur? Kau lapar? Apa kau sedang mengidam? Kau mau masak apa?" tanya Rendra tiba-tiba.
Aura terkejut tapi tetap terlihat tenang.
"Iya, aku ingin memasak nasi goreng campur mie," jawab Aura yang tak melihat ke arah Rendra.
"Benar ingin makan itu? Tidak ingin yang lain aja? Apa ada sesuatu yang lain yang kau inginkan?"
Aura menggeleng.
Tapi Rendra tidak yakin itu.
"Aku pernah baca-baca di internet. Terkadang istri yang hamil ingin makan masakan suaminya. Apa kau pun begitu? Apa sebenarnya kau ingin dimasakkan nasi goreng campur mie olehku?" tebak Rendra.
Aura terdiam. Rendra yakin ucapannya benar. Ia pun tersenyum dan meminta Aura untuk duduk saja dan melihat ia memasak.
Aura terus melihat Rendra yang berusaha memasak meski laki-laki itu tidak ahli dalam memasak. Tapi ia berjuang sambil melihat tutorial memasak di internet.
Senyuman tipis pun tergambar dari bibir Aura. Untungnya, Rendra tidak melihat itu karena terlalu fokus memasak.
Aura terus memperhatikan cara memasak Rendra yang amburadul. Sesekali ia tertawa kecil. Rasanya senang sekali melihat Rendra kewalahan berada di depan penggorengan.
Tak lama kemudian, nasi goreng pun sudah selesai dibuat. Tampilannya sungguh tidak menggugah selera untuk dimakan. Akan tetapi, Aura malah ingin memakannya.
"Em, Au. Sepertinya nasi goreng ini tidak bisa dimakan olehmu. Aku tadi sudah mencobanya sedikit. Rasanya seperti racun terlalu asin dan terlalu manis. Kalau aku beli saja di luar bagaimana?"
Aura menggeleng. Ia langsung menarik piring yang berisi nasi goreng dan mulai menyiapkannya ke dalam mulutnya.
Rendra meneguk ludahnya. Ia meringis membayangkan Aura yang akan langsung muntah saat nasi goreng itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
Namun, di luar dugaan. Aura justru menyukainya. Bahkan ia menghabiskan sepiring nasi goreng itu.
Rendra membelalakkan matanya tidak percaya.
"Terima kasih, nasi gorengnya enak."
Lalu Aura pergi ke kamarnya, meninggalkan Rendra yang masih tidak percaya.
"Apa semua ibu hamil seperti itu?"
*
__ADS_1
*
TBC