Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 75 - Aku pergi


__ADS_3

Rendra sudah sampai di area gedung apartemen. Ia sedang memarkirkan mobilnya di basemen. Lalu melangkahkan kakinya sambil berlari menuju lift. Ia menekan angkat 4, tempat dimana apartemennya berada.


Ketika sudah di depan pintu, Rendra menarik napas terlebih dahulu lalu menekan nomor pin apartemennya lalu membuka pintunya.


Ia berjalan mencari-cari keberadaan Aura. Terdengar suara dentingan alat-alat dapur disana. Rendra pun meletakan tas nya dan pergi menuju dapur.


Aura tersenyum bahagia ketika melihat kedatangan Rendra. Namun berbeda dengan Rendra yang malah jadi berapi-api.


Pakaian yang dikenakan Aura saat ini persis seperti pakaian yang ada di foto yang dikirimkan nomor tidak dikenal itu. Ia juga mengingat begitu jelas isi pesan itu. Rendra seolah terhasut oleh isi pesan itu dan langsung marah-marah di hadapan Aura.


"Katakan! Siapa laki-laki itu! Hah? Siapa dia? Kenapa kau bermesraan dengan laki-laki lain di saat suamimu tidak ada di rumah? Katakan Aura!" marah Rendra.


Aura yang tidak tahu akar permasalahannya jadi bingung sendiri.


"Laki-laki mana? Aku tidak tahu siapa yang kau maksud Rendra!" jawab Aura dengan nada sedikit tinggi namun tidak melebihi tinggi intonasi nada Rendra.


"Halah! Jangan berpura-pura! Pasti kau sengaja menyembunyikannya dariku kan? Katakan dimana dia?" teriak Rendra.


"Aku benar-benar tidak tahu Rendra. Kenapa kau datang tiba-tiba marah? Ada apa coba cerita padaku?"


Aura mencoba ingin membicarakan semuanya dengan keadaan yang dingin tidak berapi-api.


"Sudahlah, dasarnya dari dunia malam! Pasti sebenarnya kau berhubungan dengan banyak pria kan? Kau melakukan operasi selaput dara kan!?Dasar murahan! Pelacur!"


Aura terkejut bukan main. Ia merasakan sesak di dadanya. Suaminya sendiri menuduhnya dan menghinanya sebagai pelacur. Aura tak mampu lagi membendung air matanya.


"Aku tidak tahu, kenapa kau sampai bisa berpikir seperti itu padaku? Tapi hati isi sakit Rendra! Sakit sekali! Mendengarkan ucapan jahat itu dari mulutmu," ucap Aura sambil memukul-mukul dadanya.


"Harusnya dari awal aku sadar kalau aku tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Dan harusnya kau pun sadar wanita seperti aku tidak pantas dijadikan istri! Terima kasih untuk semuanya. Aku pergi!"


Aura benar-benar pergi dengan tangisan yang begitu menyakitkan didengar oleh Rendra. Aura pergi tidak membawa apapun, ia hanya pergi membawa tubuhnya sendiri. Bahkan ponselnya saja ada di kamar.


Rendra seketika terbengong-bengong. Lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menatap ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.


"Aura," ucapnya lirih.


"Arghhhh!" Rendra berteriak sekencang-kencangnya.


Rendra tak berniat untuk mengejar Aura, karena ia juga bingung dengan apa yang ia lakukan. Emosinya meledak begitu saja. Bahkan kini, tubuh Rendra melemas hingga terduduk di lantai.


Menangis, itulah yang Rendra lakukan.


*


*


Aura menangis sambil terus berlari menjauh dari apartemen. Saking sakitnya mendengar ucapan Rendra, Aura tidak membawa dompetnya. Tidak ada uang sepeserpun di kantung bajunya.

__ADS_1


"Ya Tuhan,"


Hujan pun turun, seolah mengerti rasa sakit yang Aura rasakan. Ia masih terus berjalan. Tujuannya saat ini adalah rumahnya. Namun jarak yang lumayan jauh membuat Aura jadi kelelahan dan berakhir pingsan di jalan.


Sebuah mobil pun berhenti karena hendak menolong orang yang jatuh pingsan itu.


"A-aura? Ya Tuhan kau kenapa Aura? Kenapa kau hujan-hujanan sampai pingsan segala?"


Penolong itu adalah Malvin, pria itu membawa Aura masuk ke dalam mobilnya dan membawa wanita itu ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung mengecek keadaan Aura, di mulai dari suhu tubuhnya dan lain-lain.


Saking paniknya Malvin, ia juga sampai lupa mengabari Alin ataupun Sena. Karena kalau Rendra, Malvin tidak punya nomor kontak laki-laki itu.


Dokter keluar dari dari ruangan IGD dan mengatakan kondisi Aura.


"Keadaan pasien baik-baik saja. Dia hanya kelelahan. Saya sarankan setelah ini jangan membiarkannya kelelahan lagi, karena janin yang ada di kandungannya masih sangat lemah."


Malvin terkejut mendengarnya penjelasan dokter.


Aura hamil? Anak Rendra?


"Baik dokter. Saya akan ingat ucapan dokter."


Dokter pun pergi. Malvin masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Aura yang sudah membuka matanya dengan tatapan yang kosong.


"Jadi kau yang sudah menolongku?" Malvin mengangguk.


"Terima kasih," ucap Aura.


"Tapi, kenapa kau bisa berada di luar dan hujan-hujanan, Au? Untung saja kandunganmu baik-baik saja."


"Kandungan? Aku hamil?" tanya Aura memastikan.


"Jadi kau tidak tahu?" Aura menggeleng.


"Karena sekarang kau sudah tahu, jaga kehamilan ini baik-baik. Jangan kelelahan. Jangan banyak gerak. Aku belum menghubungi siapapun sampai sekarang kalau kau ada di rumah sakit. Jadi, berikan nomor telepon suamimu. Aku akan menghubunginya."


"Jangan!" Aura melarang, "telpon Sena Saja," lanjut Aura lagi.


Sebenarnya Malvin agak sedikit heran tapi ia tetap menurut. Ia langsung menelpon Sena dan menjelaskan semuanya ke wanita itu.


Tak berselang lama, Sena pun datang. Ia langsung memeluk Aura dan menanyakan keadaannya.


"Apa yang sakit? Kau tidak sakit keras kan?"


Malvin tidak menceritakan yang sebenarnya, ia hanya mengatakan kalau Aura jatuh pingsan dan ia menolongnya.

__ADS_1


Aura menggeleng.


"Karena Sena sudah datang. Aku pamit ya. Biaya administrasi sudah aku bayar semua."


"Sekali lagi terima kasih Vin. Nanti aku akan bayar biaya rumah sakitnya."


Malvin mengangguk lalu menghilang dari hadapan kedua wanita itu.


"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa pingsan dan ditolong Malvin? Dimana Rendra?"


Aura hanya bisa menghela napas dicecar banyak pertanyaan oleh Sena. Aura hanya menjawab bahwa ia kelelahan dan berakhir pingsan lalu ditolong oleh Malvin dan ternyata ia juga sedang hamil.


"Wah, aku akan segera dapat keponakan."


Kali ini Sena jadi senang.


Apa Rendra juga akan senang? Kalau tahu aku hamil anaknya?


Seketika Aura tersenyum miris. Ia mengingat lagi perkataan Rendra yang mengatakan dirinya pelacur yang berhubungan dengan banyak pria.


Kenapa? Kenapa kau jadi aneh setelah pulang dari luar kota? Apa jangan-jangan foto yang aku terima itu benar? Kalau kau berselingkuh disana? Kau sengaja menuduhku berselingkuh agar tidak ketahuan kalau kau berselingkuh?


Lagi-lagi dada Aura terasa sesak. Ia menangis di hadapan Sena.


Sena yang mendengar Aura menangis pun jadi ikutan sedih dan langsung memeluk Aura. Sena mengira Aura menangis karena terlalu senang ia sedang hamil.


"Aku tahu kau sangat senang, tapi jangan menangis juga. Harusnya itu senyum bahagia. Cepat kabari Rendra! Dia juga pasti senang mendengarnya."


Aura menggeleng.


"Kenapa?"


Aura menggeleng lagi.


"Kalian bertengkar?"


Pertanyaan Sena itu membuat Aura terdiam.


Diamnya Aura, membuat Sena yakin bahwa hubungan Rendra dan Aura sedang tidak baik-baik saja.


"Pertengkaran dalam sebuah hubungan itu wajar Au. Yang penting kalian harus bisa mengatasinya sama-sama. Cari akar permasalahannya lalu cari solusinya."


Aura diam. Apa yang diucapkan oleh Sena benar. Harusnya, ia tidak ikut-ikutan emosi. Harusnya ia bisa menahan diri lebih lama dan menanyakan sebab muasalnya.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2