Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 94 - Mulai membaik


__ADS_3

Setelah menutup pintu kamar, Rendra mulai berjalan mendekati Aura. Berdiri di hadapan wanita yang dicintainya.


"Kata Alin, kau ingin bicara denganku."


Aura mengangguk lalu menepuk tempat di sebelahnya. Seolah-olah ingin Rendra duduk di sampingnya jangan hanya berdiri di depannya saja. Rendra pun menurut.


Aura menghadapkan tubuhnya hingga bisa saling bertatapan mata dengan Rendra. Aura bisa melihat gurat kesedihan di dalam mata itu. Tangannya mulai menggenggam tangan Rendra.


"Maafkan aku, aku baru sadar kalau bukan hanya aku yang merasakan kehilangan. Tapi kau juga. Maafkan aku yang selalu minta pisah darimu," ucap Aura yang tidak kuasa untuk menahan tangisnya lagi. Yang awalnya ingin bicara sambil menatap, kini ia tidak mampu dan langsung menundukkan kepalanya.


Rendra langsung memeluk Aura. Mengisyaratkan semuanya bukan salah Aura. Ini semua cobaan yang harus mereka hadapi. Rendra juga tidak akan ambil hati perkataan Aura yang terus meminta berpisah dengannya. Apalagi kondisi Aura yang sedang terpuruk ketika meminta pisah dengannya. Membuat Rendra ingin terus mempertahankan wanita itu.


"Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku tidak memintamu untuk melupakan semuanya. Ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi. Aku berjanji akan memberikan apapun yang kau mau."


Aura mengangguk dalam pelukan Rendra. Lagi-lagi Aura menangis. Tanpa sadar Rendra pun menitikkan air matanya. Rasa sedih dan bahagia bercampur bersamaan.


*


*


Malam harinya, ketika makan malam, Aura sudah bisa merelakan semuanya. Ia sudah mau keluar dari kamar dan ikut makan malam bersama. Semuanya tersenyum melihatnya.


Aura meminta maaf pada mereka semua yang mengkhawatirkannya. Aura juga berterimakasih karena mereka selalu ada bersamanya.


"Itulah namanya keluarga sayang. Jadi untuk ke depannya. Jangan dipendam sendiri dan menyalahkan diri sendiri lagi. Semuanya adalah musibah. Mungkin tuhan punya rencana lain untukmu. Tidak apa-apa sekarang belum punya anak juga. Lagipula kau masih bisa punya anak lagi. Jadi, berusaha terus, pasti Tuhan akan memberikannya."


Aura mengangguk. Ia akan mengingat baik-baik ucapan mama mertuanya.


Acara makan malam pun selesai. Semua orang kembali pada aktivitasnya. Begitu juga pasangan Rendra dan Aura. Aura yang sudah lama tidak keluar kamar jadi ingin pergi ke taman malam-malam. Tentunya disana Aura ditemani oleh Rendra.


Keduanya duduk di kursi taman dan melihat bunga-bunga yang sudah mekar disana. Sangat indah dan banyak warna.


Hembusan angin malam tak membuat keduanya beranjak dari sana. Bahkan mereka jadi semakin intim dengan tangan Rendra yang berada di tubuh Aura agar tidak kedinginan.


Aura pun menyandarkan kepalanya di bahu Rendra. Melihat bintang-bintang di langit yang berkelap-kelip, ditemui oleh bulan yang sudah bulat sempurna.


"Apa aku bisa punya anak lagi?" tanya Aura tiba-tiba.


"Tentu saja," jawab Rendra.

__ADS_1


"Tapi aku takut, aku tidak bisa menjaganya lagi," ucap Aura yang tiba-tiba sedih kembali.


Satu tangan Rendra yang lain terulur untuk menggenggam tangan Aura.


"Ada aku yang akan membantumu menjaganya. Bukan hanya kau saja yang menjaganya."


Aura tersenyum senang menjaganya.


"Sudah berapa lama ya kita tidak begini?" ucap Aura lagi. Karena memang sejak kepergiannya dari rumah waktu itu, tak pernah ada obrolan dan waktu bersantai berdua seperti ini.


"Entahlah, aku tidak menghitung harinya. Lagipula mulai saat ini kita akan terus seperti ini. Selalu bersama dan tidak akan berpisah."


Rendra mengeratkan genggamannya. Aura tersenyum lagi.


Rupanya benar, masih ada cinta yang bisa mereka pertahankan. Bahkan masih bisa dipupuk kembali agar terus berkembang.


Biarlah yang lalu berlalu. Ia bertekad hanya ingin mengingat kebersamaan yang indah saja. Hidupnya sudah cukup pahit di masa lalu, Aura tidak ingin lagi begitu. Ia harus bahagia dan bahagia.


*


*


Sebulan telah berlalu, keadaan Aura benar-benar sudah membaik. Begitu juga hubungan Rendra dan Aura yang sudah harmonis seperti dulu. Mereka bahkan berencana untuk liburan berdua dan menikmati waktu bersama. Mereka bermaksud untuk mengganti kenangan buruk dengan kenangan bahagia.


"Semoga pulang dari liburan, akan ada kabar bahagia dari kalian. Jangan lama-lama disananya."


"Iya ma, sebulan kan cuma sebentar."


"Sebentar kepalamu! Aku yang harus disibukkan dengan semua pekerjaanmu tahu!" ucap Elnan yang mulai bersuara karena ia lah yang jadi korbannya .


"Tenang saja, nanti aku kasih kakak hadiah sepulang dari sana."


"Cih! Hadiah apa? Makanan? Aku tidak mau!" tolak Elnan.


"Ya adalah, pokoknya."


"Kalau begitu aku dan Aura pamit berangkat ya. Jangan hubungi aku dan Aura dulu selama sebulan. Biar kami saja yang menghubungi kalian. Dadah."


Rendra dan Aura pun pergi meninggalkan rumah. Keduanya berencana liburan di lautan dengan menaiki kapal pesiar mewah.

__ADS_1


*


*


Sudah hampir seminggu Aura dan Rendra berada di kapal pesiar. Aura begitu menikmati suasana yang ada. Deburan ombak selalu menjadi iringan musik ketika mereka ada di sana. Bahkan ketika bercinta pun suara itulah yang menjadi pelengkapnya.


Aura duduk di tepian kapal memakai dress santai selutut dengan dilengkapi aksesoris topi dan kacamata hitamnya. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin-angin menusuk ke dalam tulangnya.


Rendra datang dari dalam kapal dengan membawakan minuman dan sepiring buah yang sudah dipotong-potong. Ia menyuapi Aura dengan senang hati.


"Masih mau berada di kapal terus selama sebulan? Tidak ingin mengunjungi tempat lain?" tanya Rendra.


Aura menggeleng.


"Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi nanti malam jangan lupa jatahku," ucapnya lalu menyeringai.


"Ih! Kau ini, setiap malam sudah aku kasih pun. Kau tidak ingin memberikan waktu istirahat untukku gitu?"


"Mana boleh begitu! Kita harus bekerja keras supaya ada Rendra junior di dalam perutmu."


Mendengar hal itu, membuat Aura jadi tersipu malu.


Malam pun tiba, Aura masih saja berada di luar kamar. Membuat Rendra jadi kesal sendiri. Ia pun menggendong istrinya itu ala karung beras dan menjatuhkannya di atas ranjang.


"Kau ini nakal sekali sih! Sudah dibilang malam ini aku akan menerkam mu. Kalau kau terus-menerus berada di luar, nanti kena angin laut terus kau bisa sakit sayang. Kita kan kesini untuk liburan dan menghabiskan waktu bersama," ucap Rendra sambil menyingkirkan rambut Aura yang menghalangi wajah cantik istinya itu.


"Hehe, maaf sayang."


"Aku maafkan, tapi kau harus memuaskan aku."


"Hih! Dasar mesum! Mau nya itu itu terus," kesal Aura.


"Memangnya kenapa? Kau juga menyukainya sayang," ucap Rendra yang sudah berada di atas Aura.


"Iya juga sih," jawab Aura dengan polosnya.


Hal itu membuat Rendra tertawa gemas hingga terus menggigit bahu Aura. Hingga terjadilah malam panas itu lagi.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2