
Rendra membawa Aura menjauh dari pria hidung belang itu. Ia membawa Aura ke tempat yang jauh dari pandangan laki-laki yang matanya jelalatan. Langkah Rendra pun terhenti, ia melepaskan jas nya dan mengenakannya ke Aura.
"Gaunmu terlalu terbuka. Jadi, jangan salahkan pria-pria hidung belang itu, jika mereka berbuat tidak sopan padamu," ucap Rendra.
Aura hanya diam. Ia bersyukur sudah menjauh dari pria tadi. Ia hanya menghela napas terus karena merasa lega.
"Bagaimana kau bisa hadir di acara ini?" tanya Rendra penasaran.
"Aku datang bersama Evan. Tadi dia sedang mengambilkan minum untukku. Tapi, saat Evan pergi, pria itu datang dan membuatku merinding," jawab Aura.
"Oh, kau sedang jadi wanita bayaran rupanya."
Aura pun mengangguk.
"Lalu kau disini sedang apa? Diundang juga?" tanya Aura.
"Lebih tepatnya, ini adalah acara dari perusahaan yang aku pimpin. Malam ini adalah acara pengangkatan kakakku menjadi direktur di perusahaan," jawab Rendra.
"Oh, pantas saja kau ada disini. Ngomong-ngomong terima kasih ya jas nya. Kapan-kapan kalau kita bertemu lagi, aku akan kembalikan. Sekarang aku harus kembali ke tempat tadi. Evan pasti kebingungan karena aku tidak ada disana."
Setelah mengatakan itu Aura berjalan menjauh dari Rendra. Rendra hanya bisa memandangi Aura yang menjauh darinya.
Aura pun sudah berada di tempat tadi ia berdiri. Disana sudah ada Evan yang celingukan mencari-cari Aura.
"Au, kau darimana saja? Aku mencari-cari mu tahu," tanya Evan.
Belum juga Aura menjawab pertanyaan, Evan bertanya lagi.
"Jas siapa yang kau pakai?" tanya Evan penasaran.
"Ini, milik seseorang yang menolongku tadi ketika ada pria yang mau kurang ajar padaku," jawab Aura.
Evan menghela napas. Ia merasa bersalah ada Aura.
"Maaf, seharusnya aku memilihkan gaun yang lebih tertutup. Padahal tadi kau sudah mengatakan tidak nyaman, tapi aku tetap ingin kau mengenakan gaun itu," ucap Evan.
__ADS_1
"Semua sudah terjadi, lupakan saja."
Acara inti pun dimulai, pengangkatan Elnan sebagai direktur perusahaan pun berjalan dengan lancar. Satu per satu tamu undangan memberikan selamat pada Elnan. Termasuk juga Evan. Karena Evan adalah teman Elnan semasa sekolah.
"Selamat ya, kau sudah menjadi direktur di perusahaan keluargamu. Aku tidak menyangka kau akan mengingkari ucapanmu sendiri yang tidak ingin meneruskan perusahaan milik keluarga."
"Waktu sudah berlalu begitu lama. Pendirianku pun bisa berubah. Aku juga tidak mungkin membiarkan adikku sendirian mengurus perusahaan."
"Kau benar. Lalu bagaimana dengan perusahaan yang kau rintis dari bawah itu?" tanya Evan.
"Tetap aku jalankan. Aku malah berniat untuk menjadikannya sebagai bagian dari Kav Corp," jawab Elnan.
"Jika kau sudah berkata begitu. Pasti semuanya akan terjadi. Semangat! Aku selalu mendukung mu!" ucap Evan sambil menepuk bahu Elnan.
"Siapa wanita yang datang bersamamu itu? Pacar barumu?" tanya Elnan penasaran.
"Iya, namanya Aura," jawab Evan.
"Au, kenalkan dia Elnan, sahabatku," lanjut Evan lagi.
"Iya, terima kasih."
"Nikmatilah hidangan yang ada sebelum pulang, semua makanannya berasal dari restoran mamaku. Pasti kalian tidak akan kecewa ketika makanannya sudah masuk ke dalam mulut," ujar Elnan.
"Aku tahu, rasa makanan di restoran Tante Naya memang tidak ada duanya. Sekali lagi selamat ya El."
Elnan pun mengangguk.
Evan dan Aura pun pergi ke tempat dimana makanan berat tersaji. Sementara Elnan, ia merasa tidak asing dengan jas yang dikenakan oleh kekasih Evan itu. Tapi dimana ia melihatnya?
Tak lama kemudian, Rendra datang menghampiri Elnan tanpa mengenakan jasnya karena jasnya sudah ia pakaikan ke Aura.
Seketika Elnan pun tersadar, pantas saja jas itu terasa tidak asing. Ternyata adalah milik adiknya sendiri. Tapi Elnan merasa ada yang aneh, kenapa malah Rendra yang memberikan jasnya untuk dipakai Aura? Bukannya Aura itu adalah kekasihnya Evan?
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rendra yang merasa ditatap dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Setelah terus dicampakkan mantan-mantan kekasihmu. Otakmu tidak geser kan, Ren? Kau tidak mungkin menjadi pria perebut pacar orang kan?" tanya Elnan.
"Sembarangan! Aku sudah tahu bagaimana rasanya sakit hati. Mana berani aku menyakiti hati orang lain," bantah Rendra.
"Aku meragukan ucapanmu, Ren. Orang bisa saja khilaf," ucap Elnan yang belum percaya.
"Terserah lah." Rendra sudah bodo amat tentang pikiran kakaknya terhadapnya.
"His! Kau ini! Aku bertanya karena penasaran tahu. Jas mu ada di Aura, pacarnya Evan kan?" ucap Elnan memastikan.
"Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa?" tanya Rendra.
"Kalau iya, bicaralah pada Evan, takutnya dia salah paham dan berakibat putus dengan pacarnya. Kalau tidak, ya justru bagus. Jadinya aku tidak berpikiran negatif tentangmu," jawab Elnan.
"Oh," jawab Rendra.
"Astaga! Aku jawab panjang-panjang, kau malah jawab satu kata saja 'oh'. Benar-benar kau ya, Ren!"
Rendra tak menanggapi ucapan kakaknya lagi. Ia malah pergi menjauh dari kakaknya dan menghampiri Ansel yang sedang minum ditemani oleh Sena.
"Bagaimana semalam, apa terjadi sesuatu yang mencengangkan?" tanya Ansel diselingi dengan senyum penuh artinya.
"Sialan kau ya! Untung saja aku tidak berbuat sesuatu di luar batas. Jika itu terjadi, aku akan menyalahkan mu! Harusnya kau yang mengantarkan aku pulang! Karena kau juga yang mengajak dan menjemput ku!" ujar Rendra dengan kesal.
"Hahaha, aku kira kau sampai kiss kiss gitu!" ucap Ansel sambil memonyongkan bibirnya.
"Lagian kalau aku yang mengantarkan mu pulang, kita bukannya selamat sampai tujuan, tapi selamat datang di neraka," tambah Ansel lagi.
"Sialan!"
"Hahaha," tawa jahat Ansel.
*
*
__ADS_1
TBC