
Hari demi hari pun berlalu, Aura tetap menjadi wanita bayaran seperti biasanya. Terkadang ia merasa lelah dengan jalan hidupnya sendiri. Tapi apa mau dikata, jika ia berhenti, siapa yang akan bertanggungjawab untuk hidup adiknya? Sementara mereka hanya tinggal berdua.
Aura berjalan di trotoar, selagi menunggu taksi yang lewat. Ia bersenandung ria menyanyikan lagu kesukaannya. Kesendirian adalah hal biasa bagi Aura.
Taksi pun lewat, Aura menghentikan taksi itu dan meminta pada supir untuk mengantarkannya ke resort milik Rendra.
Ketika sudah sampai di resort, Aura menanyakan keberadaan Rendra ada resepsionis.
"Maaf sekali Nona, Tuan Rendra sedang tidak ada di resort," jawab si resepsionis.
"Begitu ya? Kalau begitu bolehkah aku titip sesuatu padamu?" tanya Aura meminta bantuan pada si resepsionis.
Si resepsionis mengangguk.
"Tolong berikan jas ini pada Rendra. Sampaikan rasa terima kasihku juga padanya. Jangan lupa bilang ini juga, 'Aku sudah mencucinya dengan bersih dan wangi. Jadi kau tidak usah takut dan berpikiran buruk tentangku.' Tolong katakan itu juga ya? Bisa, kan?" pinta Aura sambil menaruh jas yang dibungkus plastik di meja resepsionis.
"Sebentar Nona, tadi anda bicaranya terlalu cepat jadi aku lupa. Bicaralah dengan pelan. Saya akan menuliskan pesan itu."
Aura pun mengucapkan kalimat itu lagi dengan pelan supaya bisa ditulis oleh si resepsionis.
"Oh, iya. Nama anda, Nona?" tanya si resepsionis.
"Aura."
"Baik, nanti akan saya sampaikan jika Tuan Rendra berkunjung kesini."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah menitipkan jas itu, Aura keluar dari resort milik Rendra dan berjalan-jalan santai di sekitaran sana.
Tanpa sengaja di lampu merah, ia dipanggil oleh seseorang yang berada di dalam mobil. Rupanya wanita itu adalah Karin.
"Kasihan sekali dirimu, hari ini klienku lebih banyak darimu," ucap Karin dengan angkuhnya.
Aura hanya diam, malas menanggapi ucapan Karin yang pada akhirnya akan berujung perdebatan yang tak ada ujungnya.
__ADS_1
"Apa kau tidak lelah kita selalu saja berdebat tentang pembahasan yang tidak penting?" tanya Aura.
"Tidak penting?"
"Iya, kau selalu saja menghinaku dan berkata hal buruk tentangku. Baik di belakang maupun di depanku. Sampai sekarang aku tidak tahu apa salahku, kenapa kau begitu padaku?" ujar Aura mengutarakan isi hatinya.
Baru saja Karin ingin menjawab ucapan Aura itu, lampu sudah berubah menjadi hijau. Alhasil perbincangan itu pun terhenti karena mobil yang ditumpangi Karin sudah melaju.
"Haaah" Aura menghela napas dan duduk di kursi yang ada disana.
"Aku memang tidak bisa memaksa orang untuk suka padaku. Tapi kenapa rasanya selalu sakit jika orang selalu beranggapan buruk tentangku?"
"Andai saja di dunia ini hanya ada orang baik dan orang baik. Kemungkinan besar takkan ada namanya kantor polisi dan penjara. Tapi, apa yang aku katakan barusan tidaklah mungkin. Isi dunia itu saling berlawanan seperti yin dan yang. Namun, karena itulah akan timbul adanya keseimbangan dan kesempurnaan."
Di saat, Aura terus mengoceh sendirian, ada mobil lagi yang berhenti di hadapannya.
"Heh! Sedang apa kau disitu? Seperti orang hilang saja!" ucap Rendra.
"Aku punya nama! Bukan heh!" pekik Aura yang tidak terima. Ia kemudian melihat ke arah Rendra.
Namun, Aura masih tetap di tempat enggan berpindah ke mobil Rendra.
Karena Rendra mulai kesal. Ia pun keluar dari mobilnya dan menarik Aura untuk masuk ke mobilnya.
"Pemaksaan sekali!" gerutu Aura saat sudah duduk di samping kemudi.
Rendra tak membalas ucapan Aura. Ia malah melajukan mobilnya.
Di perjalanan, Aura mengajak Rendra untuk mengobrol.
"Kenapa kau menarik ku untuk masuk ke dalam mobilmu? Padahal kau sendiri tidak tahu aku mau kemana," tanya Aura.
"Aku kasihan melihatmu seperti orang hilang di jalanan," jawab Rendra.
Aura pun menatap Rendra dengan kesal.
"Aku kadang suka aneh padamu. Terkadang kau bersikap baik dan terkadang kau bersikap menjengkelkan juga. Seperti sekarang ini, sikapmu sungguh menjengkelkan! Berubah-ubah seperti bunglon."
__ADS_1
Rendra hanya menoleh dan menatap tajam Aura. Tatapannya begitu menyeramkan bagi Aura.
"Kan, kan, kan, ini nih mungkin yang membuatmu selalu dicampakkan wanita. Kau tidak bisa bersikap lembut sama sekali. Jadi laki-laki itu harus lembut dan penuh kasih sayang. Supaya wanita yang jadi kekasihmu itu betah bersamamu," ucap Aura yang tiba-tiba menjadi penasehat cinta.
"Sok tahu kau!" ucap Rendra tanpa menoleh sedikit pun.
"Bukan sok tahu, emang kebanyakan wanita berharap memiliki pasangan yang begitu. Kau sudah berapa kali menjalin hubungan sih?" tanya Aura tiba-tiba.
"Sepuluh, lima belas, eh tiga belas," jawab Rendra sambil mengingat-ingat jumlah ia menjalin hubungan dengan wanita.
"B*set! Banyak juga ya! Tapi kenapa kau terlihat bodoh tentang cinta ya? Padahal aku yang cuma sekali berpacaran saja, lebih pintar mengerti kondisi," balas Aura menanggapi.
"Jangan samakan aku denganmu!" ucap Rendra.
"Baiklah, baiklah."
Suasana seketika hening. Rendra yang memang tidak pandai membuka pembicaraan hanya mampu menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.
Tiba-tiba,
"Turunkan aku disitu!" pinta Aura.
"Di jalan lagi?" tanya Rendra.
Aura mengangguk.
Bukannya berhenti, Rendra malah terus melajukan mobilnya.
"Tunjukkan kemana jalannya. Aku anti menurunkan orang di jalanan!"
Dengan terpaksa Aura pun menunjukkan jalan ke arah rumahnya. Menolak jika pada Rendra akan berakhir dengan hasil yang sama. Tetap mengantar Aura sampai tujuan.
*
*
TBC
__ADS_1