
Esok harinya, Aura keluar dari apartemen dan pergi ke toko bunganya untuk melihat kinerja dari karyawannya. Setelah menikah dengan Rendra, Aura tidak diperbolehkan untuk mengurusi toko bunganya. Kalau untuk sesekali datang, Rendra mengizinkannya.
Toko bunganya kini menjadi sangat ramai oleh pelanggan. Bahkan selalu ada pesanan skala besar untuk acara pernikahan.
Sesekali Aura datang dan melihat tanaman bunganya yang kini sudah tumbuh dan berkembang jadi banyak.
"Apa setiap harinya pelanggan selalu ramai begini?" tanya Aura.
"Iya kak Aura," jawab si pegawai.
"Baguslah, aku sudah pesan makan siang untukmu dan yang lainnya. Nanti makanlah bersama-sama. Mungkin sebentar lagi akan sampai. Kalau begitu aku pergi dulu ya."
"Iya, terima kasih kak Aura untuk makan siangnya."
Aura mengangguk lalu pergi dari toko bunga ke pusat perbelanjaan. Ia ingin menyiapkan makanan yang lezat untuk suaminya karena katanya ia akan datang sore nanti.
Aura bahkan memilih-milih sayuran yang disukai oleh Rendra. Tak hanya itu, Aura juga sekalian belanja untuk mengisi persediaan kulkas yang sudah menipis. Ia membeli beberapa minuman kaleng, makan siap saji dan beberapa cemilan.
Setelah terbeli semuanya, Aura membayarnya di kasir lalu memasukannya ke dalam mobil. Kali ini Aura pergi mengendarai mobil yang difasilitasi oleh Rendra.
Sesampainya di apartemen, karena saking banyaknya belanjaan. Aura pun membawanya sedikit demi sedikit ke apartemennya. Walaupun harus dua atau tiga kali jalan, itu tak menjadi masalah baginya.
"Ah, akhirnya bagasinya sudah kosong."
Aura pun segera menaiki lift nya sendirian. Setelah sampai di lantai 4, ia melihat lalu lalang orang disana. Ada yang sedang berdiri sambil mengobrol di depan kamar, ada juga sedang mengangkat telepon. Aura berjalan disana sambil melihat kegiatan yang lainnya. Ada juga seorang cleaning servis yang sedang membersihkan lantai di luar apartemen.
Tak sengaja, alat pengepel itu mengenai kaki Aura dan membuat Aura kehilangan keseimbangan dan akan terjatuh. Namun lagi-lagi ada pria tak dikenal datang menolongnya.
Posisi keduanya sangatlah intim sekarang. Posisi yang begitu dekat. Mungkin saja bagi orang yang pintar memotret kedekatan Aura dan pria ini bisa dipotret menyerupai orang yang sedang berciuman karena saking dekatnya.
Aura segera menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu.
"Terima kasih sudah menolong saya. Apa anda laki-laki kemarin yang menolong saya juga?" ucap Aura sambil memastikan.
"Maaf, saya baru jadi penghuni apartemen hari ini," ucap laki-laki itu.
"Ah, begitu rupanya. Maaf, sepertinya saya salah orang."
Pria itu mengangguk. Aura pun langsung berjalan masuk ke dalam apartemennya. Ia duduk di ranjang sambil terus mengingat-ingat wajah pria tadi.
"Ah, tapi suara dan matanya mirip sekali dengan laki-laki kemarin."
Aura pun menepis lagi pikiran itu dan segera mempersiapkan masakan untuk menyambut kedatangan istrinya. Aura bahkan meletakan ponselnya di kamarnya.
__ADS_1
*
*
Di sisi Rendra, ia sudah siap-siap untuk pulang ke rumahnya. Pekerjaannya di luar kota, sudah selesai semuanya. Ia akan langsung pulang ke rumah dan bertemu istrinya.
Ketika sudah di perjalanan, ia mendapatkan beberapa pesan dari nomor tidak dikenal.
Apakah kau percaya istrimu adalah wanita baik-baik?
Ingat! Dia berasal dari dunia malam.
Tidak menutup kemungkinan bahwa istrimu sudah berhubungan badan dengan laki-laki lain juga.
Di jaman modern seperti sekarang sudah ada operasi agar bisa yang sudah tidak perawan jadi perawan kembali.
Kau jangan mudah ditipu dengan wajah cantiknya.
Lihat saja foto ini!
Dia bahkan berselingkuh dan bermesraan dengan laki-laki lain di saat kau tidak ada di rumah.
Foto yang dikirim oleh nomor tidak dikenal itu adalah foto ketika Aura ditolong tadi. Terlihat seperti Aura yang sedang berciuman.
Rendra membanting ponselnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak lagi bisa berpikir jernih. Yang ada di pikirannya sekarang adalah Aura, Aura dan Aura. Ia ingin memastikan semuanya di rumah. Namun, mengingat foto tadi, dadanya terasa sesak. Benarkah Aura seperti itu?
Rendra mencoba menahan emosinya agar tetap waras hingga sampai di rumah.
*
*
.Sementara di tempat lain, seorang pria paruh baya sedang duduk sambil meminum kopinya. Ia sedang menunggu bom meledak begitu saja.
"Sebentar lagi, pasti akan ada pertengkaran besar. Rendra, Elnan dan Richard memiliki sifat yang sama. Sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi jika soal perasaan. Bahkan mereka akan tampak seperti orang bodoh! Hahah. Aku jadi tidak sabar untuk melihat itu semua."
Laki-laki itu tertawa dengan begitu senangnya.
*
*
Di sore itu, Meira berjalan sendirian di trotoar. Lalu sebuah mobil pun berhenti. Kali ini bukan Elnan tapi mamanya Elnan.
__ADS_1
"Mei, ayo masuk. Mama antar kau pulang," ajak Naya.
Hati Meira berdesir saat Naya masih menyebut dirinya mama di depan Meira. Padahal kini ia bukan lagi menantu Naya.
Meira pun masuk ke dalam mobil tanpa paksaan. Awalnya Meira merasa canggung, karena sudah lama sekali tidak bertemu sapa dengan Naya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Naya.
"Aku baik-baik saja Tante," jawab Meira.
"Panggil mama saja seperti biasa," pinta Naya.
"Ta-tapi ..."
"Ini perintah Mei."
"Baiklah ma."
Naya tersenyum mendengarnya. Mobil pun melaju hingga sampai di panti asuhan. Naya ikut turun dan masuk ke dalam panti asuhan. Ia juga sudah lama sekali tidak berjumpa dengan ibu panti.
Kini ibu panti dan Naya berada di ruang tamu. Keduanya sama-sama terdiam belum ingin memulai obrolan.
Sementara Meira, ia berada di belakang untuk membuat minuman dan beberapa makanan ringan untuk Naya.
"Maafkan anakku yang menyakiti anakmu," ucap ibu panti membuka suara.
"Tidak, aku tidak merasa Meira menyakiti anakku. Aku hanya merasa seperti ada kejanggalan. Meira yang aku tahu tidak sekejam itu sampai tega membunuh anaknya sendiri dan berselingkuh di belakang Elnan."
Ibu panti menghela napas sejenak kemudian menjelaskan semuanya pada Naya. Ia tak bisa lagi menyimpan semuanya sendirian. Ibu panti menceritakan jika itu semua bukan ulah Meira. Meira saja tidak tahu kalau minuman yang ia beli ada kandungan obat yang bisa menggugurkan kandungannya. Juga mengenai laki-laki itu, Meira bahkan tidak mengenalnya. Satu kemungkinan besar yang bisa ia simpulkan bahwa ada orang yang sengaja melakukan itu dengan motif tertentu.
"Aku merasa senang sekali mendengarkan ini semua. Aku yakin betul Meira adalah wanita yang baik dan calon ibu yang baik. Dengan tahu semua kebenaran ini, semoga saja keduanya bisa rujuk. Aku akan mencoba menjelaskan ini juga pada Elnan. Mungkin saja kejadiannya dulu terjadi ketika kedua-duanya masih dalam keadaan emosi hingga berakhir fatal. Setidaknya mereka berdua bisa belajar dari kesalahan itu."
"Iya, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya. Bahkan Elnan sudah beberapa kali kesini dan mengantar Meira pulang," ucap ibu panti.
Naya terkekeh pelan. Ia ingat betul ucapan anaknya dulu ketika pergi ke Paris setelah bercerai.
Ia mengatakan jika, "Ma, aku akan pergi ke Paris sampai waktu yang belum bisa aku pastikan. Aku ingin membuang jauh-jauh kenangan bersama Meira. Aku ingin melupakan wanita itu di dalam hidupku. Aku akan pulang dengan hati yang baru dan sudah melupakannya."
Nyatanya, ucapan Elnan kala itu tidak ada yang terwujud sama sekali.
Jika memang tidak berniat melupakan, sekeras apapun mencoba, memang tidak akan bisa. Berbeda dengan orang yang memang bertekad untuk melupakan, pasti seiring berjalannya waktu, masa lalu akan seperti angin lalu yang hanya lewat saja.
*
__ADS_1
*
TBC