
Rendra dan Aura sudah sampai di tempat kedua, yaitu di sebuah gedung yang sedang dibangun menjadi restoran. Rendra datang kesana untuk melihat sejauh mana pembangunan gedung tersebut berlangsung karena beberapa bulan lagi mamanya akan berulang tahun, dan Rendra menghadiahkan gedung yang sedang dibangun itu untuk cabang restoran mamanya yang baru.
"Bagaimana perkembangannya? Apa dalam beberapa bulan ke depan gedungnya sudah bisa dipakai?" tanya Rendra pada si mandor.
"Gedungnya sudah jadi Tuan, hanya saja masih ada beberapa bagian ruangan yang belum dicat dan dan dapurnya yang masih dikerjakan. Kemungkinan dalam hitungan 1 bulan pun, semuanya sudah selesai," jawab si mandor.
"Baguslah, kalau begitu aku akan masuk dan melihat-lihat nya ke dalam," ucap Rendra lagi.
"Mari, silahkan Tuan. Kalau ada tambahan desain lain lagi, bisa anda langsung sampaikan pada saya," ucap si mandor itu.
Rendra pun mengangguk. Ia masuk ke dalam gedung ikuti Aura bersamanya. Ia melihat desain interior untuk tempat para pengunjung duduk, dan kasir berada.
"Bagaimana menurutmu, Au?" tanya Rendra.
"Bagus," jawab Aura.
Rendra pun menolehkan badannya dan menatap Aura.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Aura keheranan.
"Hanya bagus saja komentarmu? Tidak ada tambahan kata-kata yang lainnya begitu?" ucap Rendra yang tidak terima Aura hanya memuji bagus saja.
"Eum," Aura tampak berpikir sambil menggeser bibirnya ke kanan dan ke kiri.
"Dari segi desain ruangan ini, aku suka karena terlihat kekinian dan estetik. Tapi, untuk pencahayaannya, sepertinya harus ditambah beberapa lampu hias gantung untuk menambah keterangannya. Lalu, di ujung dinding sana, mungkin bisa disediakan papan putih kosong atau berwarna untuk si pengunjung menuliskan kesan dan pesannya setelah berkunjung ke restoran ini. Jangan lupa juga untuk menyediakan beberapa spot foto yang bagus, karena kebanyakan anak muda jaman sekarang datang ke restoran bukan hanya untuk makan saja, tetapi menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh restoran tersebut," ucap Aura.
Mendengar ucapan Aura, Rendra jadi berpikir kembali, mungkin masukan yang Aura berikan akan ia gunakan nantinya untuk menyempurnakan tempat tersebut.
"Ngomong-ngomong restoran ini akan dipakai untuk jenis makanan apa? Jepang? Korea? Eropa?" tanya Aura.
"Masakan Nusantara," jawab Rendra.
"Wow, aku kira untuk jenis makanan luar. Soalnya dilihat dari wajahmu seperti orang-orang luar," ucap Aura dengan jujur.
"Ya memang, tapi restoran ini aku buat untuk mamaku sebagai hadiah untuk ulang tahunnya nanti," jawab Rendra lagi.
Seketika Aura jadi kagum pada Rendra. Orang yang terlihat kejam dan dingin dari luar ternyata memiliki hati yang lembut dan penyayang pada mamanya. Aura juga mengingat ucapan Rendra tadi di resort milik laki-laki itu tentang ia yang harus jadi dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Aura merasa diperlakukan seperti wanita istimewa oleh kliennya. Tidak dipaksa untuk mengenakan gaun ini dan itu. Tidak harus selalu menyentuh bagian tubuh kliennya ketika bersedih. Namun, Aura masih agak sedikit takut dan ragu jika nanti sudah dipertemukan dengan mamanya Rendra. Entah bagaimana tanggapannya nanti.
"Ternyata kau orangnya penyayang juga ya?" ucap Aura dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Rendra yang mendengar ucapan Aura itu pun sedikit tersipu malu karena sebelumnya ia tidak pernah dipuji oleh wanita diiringi dengan senyuman manis.
Jangan malu, jangan memerah, tolong tetap stay cool seperti biasanya, batin Rendra mengingatkan dirinya.
"Tentu saja," jawab Rendra dengan percaya dirinya lalu pergi ke ruangan lainnya untuk melihat-lihat.
"Mungkin sebaiknya untuk area dapur agak dilebarkan lagi jarak antar tempat memasak satu dengan yang lainnya supaya ketika ada banyak pesanan, tidak terjadi hal yang tidak memungkinkan terjadi," saran Rendra.
"Baik Tuan, nanti akan saya laksanakan perintah anda."
Setelah hampir berjam-jam berkeliling, Rendra dan Aura pun pergi ke restoran Jepang yang ada di samping gedung yang masih dalam tahap pembangunan itu.
Makanan yang mereka pesan pun sudah ada di depan mata. Satu per satu dari menu itu disantap habis tanpa sisa.
"Oh, iya, selama aku menemanimu hari ini, aku belum tahu apapun tentang mu. Coba kau ceritakan dulu," ucap Aura lalu meneguk air minum ke dalam mulutnya.
"Aku suka wanita cantik, baik, penyayang, tidak matre dan mencintaiku apa adanya," jawab Rendra.
"Huh! Mana ada yang paket lengkap begitu! Di dunia dongeng baru ada," ucap Aura menanggapi.
Rendra terkekeh pelan lalu menjawab, "Benar kan? Di dunia nyata itu jarang sekali yang paket lengkap begitu. Makanya di depan mamaku nanti, jadilah wanita seperti apa yang aku sukai. Kau pasti bisa lah melakukan itu. Iya kan?" ucap Rendra lagi memastikan.
Belum juga selesai bicara, Rendra sudah memotong ucapan Aura.
"Tidak ada tapi-tapian. Kau sudah setuju di awal. Untuk makanan atau hal apapun, aku bukanlah orang yang banyak maunya, apapun yang ada di depan mata, pasti aku makan, jadi kau tidak perlu bersusah payah untuk menghapal semuanya," potong Rendra.
"Baiklah, aku akan mengamati juga sikap dan karaktermu selama bersamamu untuk meyakinkan mamamu nantinya," ujar Aura.
Rendra memberikan satu jempolnya sebagai balasan untuk ucapan Aura.
Selesai makan siang, keduanya berpindah tempat lagi ke perusahaan. Tanpa disangka-sangka Elnan melihat Aura dan Rendra yang berjalan beriringan, membuat pemikirannya tentang adiknya yang menjadi perebut pacar orang pun kembali mencuat.
"Tuh kan? Jangan-jangan Rendra benar-benar merebut kekasih sahabatku? Sebelum terjadi perpecahan di antara mereka, aku harus tahu dulu semuanya," ucap Elnan kemudian mengikuti Aura dan Rendra yang menuju ke ruangan Rendra.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Elnan masuk dengan suasana hati yang sedikit kesal, penasaran dicampur takut juga pada adiknya itu.
"Rendra!" teriak Elnan.
"Apa!" jawab Rendra.
__ADS_1
"Coba jelaskan ini padaku agar aku tidak salah paham dan berpikir yang aneh-aneh padamu!" pinta Elnan.
"Haish!" Rendra sedikit kesal pada kakaknya yang selalu saja penasaran.
"Aura sekarang adalah kekasihku," jelas Rendra.
"WHAT!?" Elnan berteriak tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Padahal beberapa hari lalu Rendra mengatakan tidak. Elnan jadi gelisah sendiri mengingat nasib sahabatnya Evan.
"Coba kau ucapkan sekali lagi? Takutnya aku salah mendengarnya," pinta Elnan.
"Aura adalah kekasihku," ucap Rendra lagi.
Dengan tanpa aba-aba, Elnan langsung mendekat dan menarik kerah kemeja adiknya.
"Rendra! Aku tidak habis pikir padamu! Dengan teganya kau merebut kekasih dari sahabatku!" marah Elnan.
Karena merasa situasi sekarang mulai tidak menyenangkan, Aura akhirnya mulai bicara.
"Anu, bisa lepaskan tangan Kak Elnan dari Rendra? Aku akan jelaskan semuanya," ucap Aura.
Elnan pun melepaskan cengkeraman tangannya dari kemeja adiknya.
"Iya, kau memang harus menjelaskannya sebelum pikiranku meledak," ucap Elnan.
"Aku dan Evan sudah putus sehari setelah menghadiri pertemuan di malam itu. Jadi Rendra tidak merebut aku dari Evan," jelas Aura.
"Kau tidak berbohong?" tanya Elnan memastikan.
"Tidak," jawab Aura. Ia memang tidak berbohong, karena esok harinya status kekasih bayaran dengan Evan otomatis menghilang karena Evan menyewanya di malam itu saja.
"Baiklah, aku percaya," ucap Elnan.
Aura dan Rendra pun bernapas lega.
Sebenarnya Rendra pun tidak berniat untuk membohongi kakaknya juga, akan tetapi ia berubah pikiran karena takut kakaknya keceplosan di hadapan sang mama.
*
*
__ADS_1
TBC