Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 87 - Jack ditemukan


__ADS_3

Paginya, Aura sudah terbangun dan menyiapkan sarapan untuk Rendra. Ia bahkan sudah mandi dan berganti baju bersiap untuk pergi.


Rendra keluar dari kamarnya dan sedikit terkejut melihat Aura yang sudah cantik itu.


"Makanlah, aku akan pergi ke rumah Sena kembali. Setelah ini kita harus benar-benar introspeksi diri masing-masing," ucap Aura.


Hal itu membuat Rendra bersedih. Ia pikir hari-harinya akan kembali seperti sebelumnya. Ternyata, tidak semudah itu.


"Aku tidak akan menghalangi mu. Pakailah kartu ini untuk memenuhi kebutuhanmu. Pakai juga ponselmu ini. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


Rendra menyerahkan satu black kard pada Aura serta ponsel Aura yang ditinggalkannya waktu itu. Aura tidak menolak, ia malah mengucapkan Rendra harus membayar hutang pada mantannya Aura.


"Tolong bayar hutangku pada Malvin. Ia sudah menolongku waktu itu yang pingsan di pinggir jalan dan membawaku ke rumah sakit. Dan di saat itu barulah aku mengetahui jika aku sedang hamil," ucapnya lalu pergi.


Rendra jadi merasa bersalah lagi. Ia benar-benar gagal menjaga Aura.


"Suami tidak berguna!" umpatnya pada diri sendiri.


Rendra pun keluar dari apartemen untuk mengikuti Aura hingga sampai ke rumah Sena. Ia tahu, kalau papanya masih menempatkan beberapa penjaga untuk melindungi istrinya. Namun, tetap saja ia ingin melihat sendiri istrinya baik-baik saja.


Setelah melihat Aura sudah masuk ke rumah Sena, Rendra melajukan mobilnya untuk pergi ke perusahaan. Ia ingin bicara dengan kakaknya.


Di ruangan Elnan, Kakak beradik itu saling berhadapan. Saling menatap dan menelisik isi pikiran masing-masing.


"Sudah baikan dengan Aura?"


"Apa kakak tidak ingin rujuk dengan Kak Meira?"


Keduanya malah bicara bersamaan.


Huh!


Lagi-lagi membuang napas pun bersamaan.


"Duluan saja bicaranya," pinta Elnan.


Rendra mengangguk.


"Aku akan menjawab pertanyaan kakak tadi. Hubunganku masih ngambang. Aura ingin kami berdua introspeksi diri masing-masing. Kakak gimana? Sekarang semuanya seperti telah menemukan titik terangnya kalau Kak Meira tidak melakukan perselingkuhan. Apa kakak tidak ingin rujuk juga?"


"Semoga secepatnya kalian akan berbaikan lagi. Mengenai pertanyaanmu itu, aku sudah mengajak Meira untuk kembali. Namun, sampai saat ini aku masih digantung. Meira belum menjawabnya. Dan aku pun tidak ingin memaksa Meira untuk menjawab. Aku ingin dia menjawab di saat dia benar-benar sudah yakin."


Seketika Rendra tersenyum kecut. Nasibnya dan sang kakak sama saja. Sama-sama masih digantung. Bedanya Rendra masih berstatus suami istri sementara kakaknya sudah jadi mantan suami dan istri.


Setelah saling menanyakan isi hati. Rendra mulai membicarakan hal serius dengan sang kakak.


"Apa kakak ingat wajah laki-laki itu?"

__ADS_1


"Tentu saja, mana mungkin aku bisa melupakan bajingan itu! Sampai sekarang pun aku masih ingin memukulnya lagi bahkan lebih daripada yang dulu," jawab Elnan dengan berapi-api.


"Itu lebih baik, daripada aku belum menumpahkan emosiku ada laki-laki itu," ucap Rendra sambil mengepalkan tangannya.


Tiba-tiba sebuah telepon masuk ke ponsel Rendra.


"Lapor Tuan, Kami sudah menemukan lokasi laki-laki yang anda cari. Kami juga sudah memberitahukan ini pada Tuan Richard, tapi dia berkata kalau urusan ini biar anda saja yang menanganinya. Saya sudah mengirimkan lokasinya lewat pesan. Saya sudah berada di lokasi, saya akan menunggu anda datang dan mengikuti perintah anda selanjutnya."


"Bagus, aku akan segera kesana. Jangan sampai dia meloloskan diri dari sana. Pantai terus pergerakannya."


"Baik tuan."


Sambungan telepon pun berakhir. Rendra tersenyum miring. Ia benar-benar tidak sabar untuk menumpahkan segala emosinya. Bahkan tangannya sudah mengepal begitu kuat.


Elnan yang tidak mendengar apapun dari orang yang menelpon Rendra pun menanyakan hal itu pada Rendra. Rendra pun memberitahukan bahwa lokasi laki-laki itu sudah ditemukan. Elnan jadi ingin ikut untuk bertemu dengan laki-laki itu. Rendra pun memperbolehkannya.


Kini kedua kakak beradik itu sudah melajukan mobil mereka masing-masing menuju ke lokasi dengan kecepatan tinggi. Untung saja, jalanan tidak begitu ramai. Jadi aman bagi mereka.


Setelah sampai di lokasi, Rendra dan Elnan bertemu dengan mata-mata yang menelpon Rendra tadi.


"Laki-laki itu masih di dalam rumah dan belum keluar lagi. Ia hanya keluar untuk mengambil makanan dari seseorang."


Rendra mengangguk mengerti, ia akan mengetuk pintu itu seperti tukang paket.


Di dalam rumah, Jack sedang menonton televisi sambil memakan makanan yang diberikan oleh penjaganya. Ia bahkan sangat menikmati harinya itu. Rasanya seperti berada di surga. Tidak melakukan apapun tapi tetap bisa makan enak. Namun, dia tidak sadar harinya yang seperti di surga itu akan segera berakhir.


Ketika pintu terbuka, Jack membelalakkan matanya dan langsung menutup pintu rumahnya kembali dan mengunci pintunya. Ia benar-benar ketakutan jika orang-orang di depan rumah akan membawanya pergi. Ia ingat orang tadi adalah suami dari wanita kemarin.


"Astaga! Astaga! Kenapa aku ceroboh sekali sih! Lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini. Sementara pintunya saja hanya satu di bagian depan. Ayo berpikir Jack!"


Jack mondar-mandir sambil terus berpikir. Ia ingat di rumahnya ada satu jendela, meski kecil, mungkin tubuhnya bisa keluar lewat situ.


"Ah, iya, aku harus merusak jendela itu."


Suara dobrakan pintu terus terdengar hingga ke telinga Jack.


"Sial! Kenapa mereka bisa menemukan aku sih! Oh, aku tidak mau tertangkap!"


Brak!!!


Pintu berhasil terbuka, dan Jack pun berhasil merusak jendela dan akan keluar dari sana. Namun, sayangnya di luar jendela sudah ada anak buah Rendra juga.


Jack terkepung di rumahnya sendiri. Tangannya diikat oleh orang-orang Rendra. Ia mendudukkan Jack dengan posisi berlutut di depannya. Rendra memegang dagu Jack kemudian memukulnya dengan satu pukulan.


Bug!


Satu pukulan tapi sudah membuat ujung bibir Jack berdarah. Sebenarnya Rendra ingin menghabisi laki-laki ini juga. Tapi, ia sadar, Aura sedang mengandung, ia tidak ingin jadi pembunuh dan membuat anaknya menderita.

__ADS_1


Bukan hanya Rendra saja, Elnan pun memberikan satu pukulan untuk Jack.


Laki-laki itu merintih kesakitan.


"Sakit?" tanya Rendra.


"Sakit lah beg*!"


Plak!


Sebuah tamparan melayang ke pipi Jack. Bukan dari Rendra atau Elnan tapi dari bawahan Rendra.


"Yang sopan kalau bicara dengan tuan kami!"


"Cih!"


Plak!


Sebuah tamparan melayang lagi.


"Cepat katakan, apa alasanmu merusak rumah tangga tuan kami!" tanya si bawahan.


"Mana kutahu. Aku hanya menjalankan tugas saja."


"Siapa yang menyuruhmu, hah!"


Kali ini Rendra lah yang bertanya dengan menatap Jack dengan tatapan yang ketus dan mengerikan.


Jack sampai meneguk ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka akan berada di situasi sekarang. Tau begini, ia langsung pergi saja ke laue negeri setelah menjalankan tugasnya. Kali ini ia menyesal tidak mengikuti perintah Rico.


Jack masih terdiam dan enggan menjawab. Ia masih setiap pada Tuan Rico yang sudah menolongnya dari kesengsaraan.


"Dasar bodoh! Kau pikir tuanmu itu akan menolong mu? Tidak mungkin!" ucap Rendra lagi.


"Jawab!" teriak Elnan.


Jack terkesiap mendengar teriakan Elnan. Tapi, ia masih tidak mau menjawab.


"Baiklah, jika itu maumu."


Rendra langsung mengode anak buahnya untuk memukul Jack lagi. Ia menemukan ponsel Jack yang tergeletak di meja dekat televisi. Ia langsung membuka ponsel itu dengan sidik jari Jack dan mencari siapa yang terakhir dihubungi oleh Jack. Ia juga melihat semua pesan yang masuk ke ponsel tersebut.


Rendra tersenyum melihat sebuah nomor ponsel yang dinamai 'Bos' oleh Jack.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2