
Setelah kejadian malam itu di club Century, Rendra memerintahkan seseorang untuk mencari semua informasi tentang laki-laki yang menjadi klien terakhir Aura. Sekarang, infomasinya sudah ada di tangan Rendra dengan orang yang mencari tahunya.
"Albert J, seorang CEO dari RJ Group yang saat ini usaha dalam bidang propertinya sedang melambung."
Rendra membaca berkas yang berisi informasi tentang Albert juga melihat foto-foto bangunan yang berhasil dibuat.
"Wah, kukira dia anak kaya baru. Rupanya, sudah mulai terkenal ya?" tanya Rendra yang sedikit tidak percaya.
"Tapi, ada sesuatu yang janggal Tuan. Katanya Albert ini hanya CEO yang digunakan sebagai pion. Sementara pimpinan asli dari RJ Group sampai saat ini masih menyembunyikan identitasnya. Saya sudah berusaha mencari tahu semuanya, tetapi sepertinya tidak mudah mengetahuinya. Juga masih ada fakta lain yang tidak saya tuliskan disitu karena masih ngambang. Katanya RJ Group itu sebenarnya adalah perusahaan yang bisnisnya menjual, dan menyelundupkan obat-obatan terlarang. Usaha properti hanya untuk menyembunyikan usaha aslinya."
"Begitu kah?"
Si pemberi informasi pun mengangguk.
"Tolong cari tahu lebih lanjut tentang pemilik RJ Group yang sebenarnya. Lalu untuk Albert untuk saat ini aku akan membiarkannya begitu saja akan tetapi awasi setiap pergerakan dia dan laporkan semuanya padaku. Tempatkan beberapa mata-mata untuk selalu mengikuti kemana pun dia pergi."
"Baik Tuan."
"Kau boleh pergi dan lanjutkan misi mu."
Setelah si pemberi informasi pergi, Rendra jadi penasaran siapa pemimpin Albert sebenarnya. Tampaknya misterius sekali.
"Kalau sampai Albert menyentuh Aura lagi. Kupastikan usahanya akan hancur sekalian dengan usaha ilegalnya itu!" ucap Rendra sambil mengepalkan tangannya.
*
*
Albert kini menemui seseorang yang dipanggilnya Tuan. Ia menghadap dengan perasaan takut dan gelisah nya. Rupanya selain karena Albert memang tertarik dengan Aura, ternyata hal itu juga diperintahkan oleh tuannya.
"Albert! Kenapa kau bisa gagal hah?! Padahal hanya untuk meniduri wanita saja! Sial! Harusnya ini akan berhasil dan membuat Rendra jadi tidak percaya cinta lagi! Argh!!!"
"M-maaf Tuan. Ini di luar kendali saya. Saya kurang berhati-hati," ucap Albert sambil menunduk.
Brak!!
__ADS_1
Si Tuan menggebrak mejanya hingga membuat Albert terkejut sambil memegangi dadanya.
"Bodoh! Kau memang bodoh! Harusnya kau menyiapkan penjagaan untuk mengantisipasi kegagalan itu! Haish! Harusnya tidak aku berikan tugas ini padamu!"
Prang! Prang!
Guci dan gelas yang ada di meja di lempar ke sembarang tempat saking kesalnya. Albert jadi ketakutan sendiri.
"S-sekali l-lagi m-maafkan saya Tuan. Saya janji setelah ini akan melaksanakan tugas dengan baik."
"Sana pergi! Kau urus saja baik-baik perusahaan properti ku. Jangan sampai perusahaannya juga ikutan bangkrut karena ulahmu. Aku yakin setelah kejadian ini, Rendra pasti akan mencari tahu semua tentangmu. Jadi, perankan tugasmu dengan baik dan jangan sampai ada yang curiga sedikit pun."
"B-baik Tuan."
Albert pun keluar dari ruangan meninggalkan si Tuan yang kesal dan dilanda kemarahan yang berapi-api.
"Sial! Aku harus memikirkan cara lain untuk menghancurkan mereka."
*
*
"Huh! Kalau begini terus uangku akan semakin menipis. Aku harus cari ide untuk mempergunakan sisa uang yang ada dengan baik. Tapi apa? Apa aku buka usaha saja seperti yang dibilang Alin? Tapi usaha apa?"
Saking fokusnya berpikir, Aura sampai tidak sadar ponselnya bergetar.
"Astaga! Tante Naya telepon!"
Aura pun langsung menelpon balik Naya ketika melihat satu panggilan tidak terjawab dari mamanya Rendra.
"Halo Tante, maaf ya aku tidak mengangkat telepon tante barusan."
"Iya tidak apa-apa. Lagi sibuk?"
"Sibuk apanya tante. Aku kan sekarang hanya pengangguran," jawab Aura dengan jujurnya. Aura sudah menceritakan semuanya pada mamanya Rendra tentang ia dan Rendra yang sudah menjadi sepasang kekasih sungguhan. Naya pun senang sekali mendengarnya.
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu bisa bantu tante berkebun di rumah kan?" tawar Naya.
"Bisa tante. Aku akan siap-siap dan segera meluncur kesana. Bye tante."
Sambungan telepon pun berhenti. Setidaknya ia tidak hanya duduk diam saja di rumah. Jadi, setiap diajak orang mau kemana dan ngapain, ia pun antusias ikut.
Beberapa waktu telah berlalu, Aura dan Naya sudah mempersiapkan alat-alat untuk berkebun. Dua wanita itu juga sudah memakai sarung tangan dan topi berkebun.
Keduanya asik memasukan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kompos.
"Sepertinya tante suka sekali berkebun."
"Iya, awalnya sih tidak suka. Cuma karena omanya Rendra suka mengajak tante berkebun akhirnya jadi suka dan keterusan sampai sekarang."
"Tapi emang berkebun itu seru juga ya tante. Ada kepuasan sendiri ketika melihat bunga atau tanaman yang kita tanam tumbuh dengan indah dan subur."
"Iya mungkin karena itu tante jadi suka. Berkebun itu seperti Tante merawat anak tante sendiri. Tante memberi mereka air, pupuk juga membiarkan mereka terkena sinar matahari. Kalau ada daun yang layu, Tante suka membersihkannya. Dan pada akhirnya, tante bisa melihat mereka yang tumbuh jadi cantik dan indah."
Mendengar ucapan Naya itu, entah kenapa Aura juga semakin tertarik dengan berkebun.
Apa aku buka toko bunga saja? Setidaknya aku bisa banyak belajar dari tante Naya. Untuk awalan aku bisa membuat kerjasama dengan tukang kebun lain sambil aku menunggu bunga-bunga yang aku tanam tumbuh. Iya kan?
Aura berpikir dan bertanya pada hatinya sendiri. Sepertinya ia benar-benar akan melakukan ide itunya.
"Terima kasih ya tante," ucap Aura sambil memeluk Naya. Aura yang dipeluk jadi keanehan sendiri.
"Kenapa berterimakasih?"
"Ya pokoknya makasih aja. Karena tante baik sekali sama aku."
"Kau ini. Tante pasti akan baik pada orang yang baik juga sama Tante."
Aura pun tersenyum senang. Semenjak ia bertemu Rendra, hidupnya seakan bertambah warna. Ya, meskipun agak menjengkelkan di awal.
*
__ADS_1
*
TBC