
Esok harinya, Rendra terlihat lebih bahagia dan ceria tidak seperti Rendra yang biasanya. Hal itu membuat Ela merasa curiga dengan kembarannya.
"Ma, Rendra lagi kesurupan ya?" tanya Ela ke mamanya.
"Hus! Mana ada! Mungkin saja lagi bahagia. Jangan diganggu! Nanti malah mengaum," ucap Naya seolah sebuah peringatan untuk Ela.
Namun, ketika telah diganggu oleh Ela, Rendra menggapainya dengan biasa dan tidak mengaum. Rendra malah menceritakan bahwa dirinya sudah melamar Aura dan sudah diterima.
Ela dan Naya hanya terkejut sedetik kemudian mereka berdua tersenyum.
"Kapan acara resmi pertunangannya akan dilangsungkan?" tanya sang mama.
"Aku belum memikirkannya. Setidaknya sudah ada benda yang mengikat dulu di jari Aura. Nanti aku akan bicarakan lagi dengan Aura," jawab Rendra.
Naya pun mengangguk.
Tanpa sengaja, Elnan pun mendengar percakapan mama, dan kedua adiknya. Ia juga ikut bahagia jika Rendra akan meresmikan hubungannya dengan Aura. Namun, tiba-tiba saja bayangan seorang wanita terlintas di kepalanya.
Elnan langsung menggeleng dan mencoba menghilangkan bayangan itu.
Mantan istrinya yang masih ia cintai.
*
*
Sama hal nya dengan Aura, wanita itu pun terus tersenyum saking bahagianya. Alin bahkan sampai menggelengkan kepalanya karena tingkah sang kakak.
"Jangan terus dipandangi cincinnya kak. Tenang saja tidak akan hilang," ucap Alin.
"Hehe." dibalas cengiran oleh Aura.
"Aku berangkat ke kampus dulu ya kak."
"Iya. Hati-hati."
Alin mengangguk.
Setelah Alin pergi, Aura pun pergi juga ke toko bunganya. Disana sudah ada Sena yang duduk di depan tokonya.
"Sen," panggil Aura.
"Sudah lama?" Sena menggeleng.
"Tumben sekali kau datang tanpa mengabari. Ada apa?" tanya Aura lagi.
"Aku bosan di rumah. Aku ingin membantumu di toko hari ini," jawab Sena.
Dengan senang hati Aura menerima permintaan Sena itu. Ia bahkan juga ingin mengajak temannya itu untuk terus membantunya dan keluar dari dunia kelam itu. Buktinya, dirinya saja bisa terbebas dan menemukan jalan lain untuk mendapatkan uang.
Lalu keduanya membersihkan area toko dan membuang daun-daun yang sudah kering. Tiba-tiba mata Sena tertuju pada cincin yang tersemat di jari manis Aura. Dengan cepat ia langsung memegang tangan Aura.
__ADS_1
"Aura! Ini apa maksudnya? Kau sudah dilamar? Dan kau tidak mengundangku? Tega sekali!" Sena langsung menumpahkan isi hatinya kecewa karena dirinya merasa tidak dianggap sama sekali.
"Heh! B-bukan begitu. Ini hanya, Rendra baru melamar ku saat berdua dengannya. Belum ada acara pertunangan yang menghadirkan kedua keluarga," jawab Aura yang membuat Sena menjadi lega.
"Syukurlah, aku pikir kau tidak menganggap diriku!" ucap Sena.
"Bagaimana aku tidak menganggap mu? Sementara kau lah satu-satunya teman yang aku miliki."
Ucapan Aura itu membuat Sena sedikit bersedih hati. Baik ia dan Aura sama-sama hanya memiliki mereka masing-masing.
"Ah, Aura aku sayang sekali padamu." Sena memeluk Aura dengan sayang. Aura pun membalas pelukan itu.
*
*
Di sebuah restoran, Meira bekerja sebagai kasir. Dan di hari itu, Elnan datang sebagai pelanggan. Keduanya sama-sama terkejut. Bisa bertemu lagi di tempat yang tidak pernah direncanakan.
"Rupanya sekarang kau bekerja disini," ucap Elnan.
"Mau bagaimana lagi, aku kan harus tetap bekerja untuk membantu ibu."
Elnan pun mengangguk-angguk setuju. Memang dari dulu, Meira sudah menjadi tulang punggung di panti asuhan itu sebelum mendapatkan bantuan dari perusahaan keluarga Elnan. Namun, meski telah mendapatkan bantuan, baik ibu panti maupun Meira, mereka masih terus bekerja untuk mendapatkan uang agar tidak terlalu bergantung pada bantuan orang lain.
"Mau pesan apa?" tanya Meira.
"Es cappucino 1, ayam bakar madu 1."
"Kalau bisa, aku ingin kau menemaniku makan disana," pinta Elnan.
Deg!
Apa? Kenapa aku jadi berdebar hanya karena diminta untuk menemani Elnan? Tidak! Tidak boleh! Kita sudah berpisah dan kemungkinan besar Elnan pun sudah melupakanku, kan? Dia juga pasti sudah memiliki orang yang baru di hatinya.
"Maaf, sepertinya tidak bisa. Aku harus ada disini terus," jawab Meira.
"Dimana manager nya? Aku ingin bertemu."
"Sebentar."
Meira memanggil managernya untuk menemui Rendra. Kedua orang itu berbicara tanpa Meira tahu apa yang mereka bicarakan.
Lalu managernya datang dan, "Mei kau temani lah Tuan Elnan makan siang, biar pekerjaanmu digantikan dulu oleh yang lain."
"Baik pak."
Walau ada sedikit kebingungan di sisi Meira, Meira tidak mungkin bisa menolak perintah dari atasannya.
Kini mereka berdua duduk saling berhadapan sambil menunggu pesanan Elnan datang.
"Kau bicara apa dengan atasanku?"
__ADS_1
"Tidak bicara apa-apa," jawab Elnan.
Meira menatap Elnan dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak mungkin!"
"Ya terserah sih. Kau mau percaya atau tidak!"
Meira menarik napas pelan. Ia masih merasa aneh dengan dirinya dan Elnan. Sudah berpisah tapi kenapa hati ingin berkata lain?
"Bagaimana kabarmu?"
Kali ini gantian Elnan yang menanyakan kabar Meira. Padahal ini sudah ketiga kalinya mereka bertemu setelah berpisah.
"Baik, seperti yang kau lihat sekarang," jawab Meira.
"Bagaimana hubunganmu dengan laki-laki itu? Apakah baik juga?" tanya Elnan lagi. Walaupun di hatinya ada sedikit rasa sesak yang menyelimutinya.
Sementara Meira hanya terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Perselingkuhan itu tidak ada. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menjawab pertanyaan Elnan.
"Sepertinya pertanyaan itu tidak harus aku jawab."
"Ah, baiklah."
"Sepertinya hidupmu terlihat lebih baik setelah berpisah dariku," ucap Elnan.
"Begitu kah? Kau juga terlihat lebih baik."
Elnan jadi terdiam.
Baik apanya? Niat hati ingin melupakan. Justru aku jadi semakin memikirkan mu Mei. Aku bahkan datang kesini bukan secara kebetulan. Tapi memang sengaja ingin bertemu.
"Semoga kau bisa menemukan pasangan yang lebih baik dariku. Maaf, aku sudah mengecewakanmu," ucap Meira dengan tulusnya. Dulu ia belum sempat mengucapkan kalimat itu karena Elnan langsung memutuskan pergi dan bercerai. Meski tidak semua kesalahannya. Ia tetap merasa bersalah karena sudah membaut hidup Elnan terpuruk.
Elnan tersenyum tipis.
Meski nantinya ada pasangan yang lebih baik darimu. Jika hatiku hanya tertuju padamu, aku harus apa? Memohon untuk kembali? Sementara dulu akulah yang memutuskan perceraian itu.
Yah, kini Elnan merasa menyesal. Padahal kalau dulu ia lebih bisa mengontrol emosinya dan memaafkan perselingkuhan itu, rumah tangganya agak baik-baik saja meski sudah ada goresan di dalamnya.
"Yah, kau juga. Semoga bisa awet dengan pasanganmu yang sekarang."
Meira pun membalasnya dengan tersenyum.
Dua orang yang sama-sama saling mendamba. Tapi masih memikirkan ego dan kekhawatiran masing-masing di dalam pikirannya.
Padahal jika mereka jujur dengan isi hatinya. Masalah akan bisa teratasi dan mungkin saja bisa kembali seperti dulu.
*
*
__ADS_1
TBC