
Sementara di kantor, Rendra tidak fokus pada pekerjaannya. Ia melimpahkan semua pekerjaannya pada sang kakak. Ia sibuk mengurusi tentang berita Aura.
Rendra berjalan kesana-kemari sambil menunggu kabar dari orang-orang yang disuruhnya.
Sejauh telepon masuk. Rendra langsung segera mengangkatnya.
"Lapor Tuan. Saya sudah menemukan siapa dalangnya."
"Siapa?" tanya Rendra dengan antusias.
"Kaila Tuan. Mantan anda."
Tangan Rendra tampak mengepal kuat-kuat. Andai saja Kaila adalah laki-laki sudah pasti Rendra akan menghajarnya sampai babak belur. Sayangnya, Kaila seorang perempuan jadi ia tidak bisa melakukannya.
"Lalu, mengenai wartawan yang ditemui Kaila juga sudah saya temukan. Dia berasal dari perusahaan xxx."
"Bagus. Aku akan membuat perusahaan mereka bangkrut hingga tak mampu lagi bangkit."
"Terus lanjutkan, take down semua berita yang ada di internet tentang Aura. Buat berita baru mengenai Kaila yang wanita matre dan berselingkuh dariku," pinta Rendra.
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan."
Selesai itu, Rendra menggebrak meja kerjanya. Ia benar-benar kes dengan Kaila.
"Maunya apa sih wanita itu! Dasar tidak tahu malu! Dia sendiri yang berkhianat! Kenapa Aura yang jadi korbannya? Sial!"
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya semua berita tentang Aura sudah hilang di pencarian internet digantikan dengan berita tentang Kaila.
Lalu perusahaan media yang menyebarkan berita itu pun kini sedang kalang kabut akibat dituduh menyebarkan berita berita bohong. Karena faktanya wanita bayaran adalah pekerjaan Aura di masa lalu. Kini Aura sudah memiliki usaha toko bunga. Saham perusahaan tersebut anjlok hingga tak tersisa.
*
*
Kaila berjalan-jalan di mall setelah mendapatkan bayaran awal dari memberikan informasi. Kekurangannya akan diberikan setelah berita booming.
Sayangnya, setelah berbelanja, semua orang malah menatapnya dengan tajam.
"Heh! Apa yang kau lihat hah!" kesal Kaila.
"Dasar tidak tahu malu!"
__ADS_1
"Wanita bodoh!"
"Kau wanita tidak tahu diri! Kurang bersyukur! Padahal tuan Rendra adalah laki-laki dengan spesifikasi yang sempurna tapi kau malah menyia-nyiakannya. Sekarang setelah dia memiliki wanita lain, kau mau menghancurkannya? Dan berharap kembali pada tuan Rendra? Tidak punya hati!"
"Apa sih yang kalian katakan!" kesal Kaila yang tidak tahu apapun.
Saking kesalnya orang-orang di mall, Kaila hampir saja terkena amukan massa. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari orang-orang.
Ketika ada taksi yang lewat, ia memberhentikannya dan menaiki taksi tersebut.
Dengan cepat Kaila meraih ponselnya dan melihat berita di internet.
"Sial! Pantas saja orang-orang seperti kesetanan melihatku! Argh! Aku harus bagaimana ini? Apa aku akan dipenjara? Argh!"
Kaila mengacak-acak rambutnya saking frustasinya. Si supir yang melihatnya dari kaca mobil sampai keheranan.
*
*
Sebuah konferensi pers pun diadakan di perusahaan Rendra. Disana ia sudah mendatangkan Andrew dan Evan. Satu per satu dari mereka menjelaskan tentang foto yang sebelumnya beredar di internet.
"Foto itu memang benar. Tapi Aura bukanlah pelakor seperti apa yang dibilang oleh mantan istri saya. Justru Aura memberikan nasehat pada saya untuk mencoba memperbaiki hubungan saya dengan mantan istri saya. Tapi, karena memang sudah tidak sejalan, akhirnya saya memutuskan untuk berpisah. Tapi, itu tidak ada hubungannya dengan Aura. Aura hanya menemani saya dan mendengarkan curhatan saya," jelas Andrew.
"Foto tersebut sepertinya diambil ketika saya sedang menghadiri acara pengangkatan Elnan jadi direktur. Saya hanya mengajak Aura untuk datang menemani saya. Jadi, tidak ada hal-hal negatif yang kalian semua pikirkan."
"Nah, sudah jelas kan semuanya? Aura, tunangan saya memang pernah jadi wanita bayaran. Tapi tidak seperti wanita bayaran yang kalian pikirkan, yang memuaskan nafsu laki-laki hidung belang. Dan itu hanya masa lalu. Jadi, saya mohon pada kalian semua, tolong pahami apa itu masa lalu. Sekarang dia hanyalah seorang wanita pemilik toko bunga. Lagipula apa salahnya jadi wanita bayaran? Apa itu merugikan kalian semua? Hingga menghinanya di media sosial dan memberikan komentar-komentar jahat padanya. Bagi siapapun yang berani menyentuh atau bahkan menyakiti Aura, siap-siap. Aku tidak akan melepaskannya hingga orang itu memohon padaku. Aku juga sudah mempunyai daftar-daftar nama akun media sosial yang sudah menghina dan berkomentar jahat pada Aura. Tolong persiapkan diri kalian. Ingatlah! Di setiap perbuatan akan ada balasannya."
Klarifikasi selesai. Semua orang jadi ketakutan karena ancaman yang diberikan oleh Rendra. Mereka jadi menyesal sudah termakan dengan berita yang beredar.
"Haduh! Bagaimana ini? Aku tidak mau sampai dipenjara karena sudah berkomentar jahat pada Aura!"
Ada yang ngomel-ngomel sendiri, ada yang menggigit jarinya dan ada pula yang mer*mas jari-jarinya saking cemas dan takutnya.
Masalah pun akhirnya selesai sampai disitu.
Rendra pulang ke rumahnya, mencari keberadaan Aura. Ia berharap Aura menonton acara klarifikasinya tadi di televisi.
Rupanya Aura menunggu di tepian kolam. Aura sudah menonton klarifikasi itu. Ia sangat-sangat berterimakasih pada Rendra yang membelanya mati-matian seperti itu. Kini tak ada alasan lain lagi untuknya pergi meninggalkan Rendra.
Rendra sudah menjadi rumah baginya. Rumah ternyaman, teraman dan terdamai bagi hatinya.
__ADS_1
"Sini!" ucap Aura sambil menggerakkan tangannya meminta Rendra untuk duduk di sampingnya.
Rendra pun menurut saja.
Ketika Rendra sudah duduk di samping Aura. Aura menyandarkan kepalanya ke bahu Rendra.
"Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana berterima kasihnya. Kau selalu hadir disaat aku butuh. Kau selalu ada disaat aku sedih."
"Caranya mudah saja. Cukup cintai aku dengan tulus," ucap Rendra sambil mengelus pucuk kepala Aura.
Aura mendongak dan menatap wajah Rendra.
"Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu."
"Coba katakan lagi"
"Aku mencintaimu."
"Lagi."
"Aku mencin ... "
Belum juga selesai bicara, Rendra langsung mengecup bibir Aura. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya. Debaran di dadanya sudah meleleh kemana-mana mendengarnya pernyataan cinta dari Aura.
Aku sungguh-sungguh tidak akan pernah melepaskan mu Aura.
Ciuman pun terlepas. Rendra memegang pipi Aura dengan kedua tangannya.
"Kita percepat pernikahannya ya. Satu bulan lagi kita akan menikah."
Perkataan Rendra itu bukan seperti ajakan melainkan perintah. Aura pun mengangguk setuju. Lagipula, tak ada lagi yang perlu ia ragukan dari Rendra. Laki-laki itu selalu menjaganya, menyayanginya dan tak menghalangi apapun yang ia suka.
Ciuman yang kedua pun terjadi lagi. Seolah-olah disana tidak ada orang lain yang melihatnya. Padahal Naya dan Richard melihat adegan kedua sejoli itu.
"Sudah ma, tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Biarlah mereka menikmati waktunya," ajak Richard sambil merangkul bahu istrinya.
"Baiklah."
Naya dan Richard pun pergi dari sana dan membiarkan Aura dan Rendra melakukan apa yang mereka mau. Lagipula, ia percaya anaknya tidak akan mungkin melakukan hal yang belum boleh dilakukan sebelum menjadi pasangan suami istri.
*
__ADS_1
*
TBC