Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 102 - Pernikahan Elnan dan Meira


__ADS_3

Hari pernikahan Elnan untuk kedua kalinya pun tiba. Suasana bahagia terpancarkan dari wajah pasangan pengantin baru itu. Bahkan Elnan seperti tak mau jauh-jauh dari Meira. Di pelaminan saja, tangan Elnan tak pernah pergi dari pinggang Meira.


Richard dan Naya yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Satu per satu anggota keluarga, sahabat serta rekan bisnis mengucapkan selamat untuk pernikahan Elnan dan Meira. Lalu setelahnya dilanjutkan dengan foto bersama.


Meira merasa letih karena ia harus berdiri sejak tadi karena harus menyalami setiap tamu undangan.


"Cape?" tanya Elnan.


"Sedikit," jawab Meira.


"Ya sudah duduk saja, atau mau aku bawa ke kamar?" tawar Elnan.


"Tidak, aku disini saja, rasanya aneh saja kalau kau sendirian disini. Walau cape, tadi tidak apa-apa kok," ucapnya dengan sedikit senyum.


"Benar tidak apa-apa?"


"Iya."


"Baiklah, kalau cape bilang ya, aku tidak mau nanti malam kau malah kecapean dan tertidur. Aku kan jadi tidak bisa main-main denganmu."


Mendengar ucapan mesum itu, Meira mencubit pelan lengan Elnan.


"Sakit sayang."


"Makanya jangan bicara sembarangan di tempat umum. Apalagi di banyak orang begini."


"Memangnya kenapa? Lagian mereka juga paham kok."


"Hih!" kesal Meira.


Elnan terkekeh pelan lalu tidak mengatakan apapun lagi yang bisa membuat Meira kesal.


Di acara pernikahan itu juga, seperti ajang pertemuan banyak keluarga. Keluarga Elnan, keluarga Meira, keluarga Ele, keluarga Ansel dan keluarga yang lainnya. Sudah seperti acara reuni saja.


Hingga sore menjelang, acara pun telah selesai. Elnan dan Meira pergi dari sana mengendarai mobilnya sendiri. Mereka langsung menuju ke apartemen untuk menghilangkan lelahnya.


"Aku mandi lebih dulu ya, rasanya badanku lengket semua Mei."


"Iya, sana mandilah, aku juga mau menghapus make-up ku dulu."


Elnan pun pergi ke kamar mandi. Sementara Meira, ia menghapus make-up nya dengan micellar water.


Waktu berlalu, Elnan pun sudah selesai mandi. Laki-laki itu keluar dengan hanya mengenakan handuk pendek yang melingkar di pinggangnya. Meira pun telah selesai membersihkan wajahnya. Ketika, Elnan memanggil Meira, Meira terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Astaga!" Meira langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Elnan terkekeh pelan melihat tingkah Meira. Ia malah mendekat menghampiri Meira hingga berdiri di depan Meira.


"Hei, kenapa ditutup wajahnya? Lagian kau kan sudah pernah melihat seluruh tubuhku dulu? Kenapa jadi malu lagi? Hihi. Kenapa lucu sekali ya?" ucapnya sambil meraih tangan Meira agar terbuka.

__ADS_1


"Ih, tetap saja itu kan sudah lama sekali. Mana aku ingat!" jawabnya.


"Ah, masa tidak ingat? Kau bahkan selalu menyentuh dan mengagumi kotak-kotak di perutku saking terpesonanya."


"Ah, jangan katakan itu!" teriak Meira karena merasa malu.


Kini tangan Meira sudah tak menutupi wajahnya lagi. Tapi, mata Meira masih terpejam.


Cup.


Elnan malah mengecup mata itu. Hingga membuat Meira mengerjap.


"Kalau tidak buka mata, jangan salahkan aku, kalau aku akan melakukan lebih."


Karena merasa sedikit takut, Meira pun akhirnya membuka matanya.


Gluk!


Meira menelan ludahnya sendiri. Di depan matanya, ia melihat perut kotak-kotak milik Elnan yang sudah lama tak pernah ia lihat.


Ya Tuhan! Tubuhnya masih sama seperti dulu. Membuat mataku jadi silau.


Elnan bahkan meletakan tangan Meira untuk menyentuh kotak-kotak di perutnya.


"Setelah puas menyentuh itu, kau langsung mandi ya. Pasti tubuhmu terasa lengket. Apalagi gaun yang kau pakai sangat ribet," ucap Elnan kemudian membantu Meira menurunkan resleting belakang gaun itu tanpa melihatnya.


Meira mengangguk.


Bohong, kalau ia katakan tidak terbayang-bayang tentang Meira dan hubungan ranjangnya dengan Meira dahulu. Bahkan ketika hasratnya sedang naik, wajah Meira lah yang selalu terbayang di pikirannya. Kini ia bisa melakukannya dengan Meira lagi.


"Ah, hanya memikirkannya saja, selalu membuat aku bergairah."


Selagi menunggu Meira selesai mandi, Elnan memainkan ponselnya dan membaca semua pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ribuan ucapan selamat, Elnan dapatkan dari teman-temannya.


Ceklek!


Pintu pun terbuka, Meira keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono dengan rambutnya yang digelung oleh handuk kecil.


Pemandangan seperti itu saja sudah membuatnya terpesona.


Sabar sedikit El. Sebentar laki kita akan unboxing.


Elnan meminta Meira untuk duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu langsung membantu Meira untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kenapa tidak pakai baju?" tanya Meira disela kegiatan Elnan itu.


"Gerah," jawabnya.


"Aneh! Bukannya habis mandi ya?"


"Ya namanya juga gerah, mau gimana lagi coba. Apalagi ada sesuatu yang selalu membuatku gerah. Bahkan rasanya aku ingin melepas semua kain yang aku kenakan ini."

__ADS_1


Gluk!


Meira menelan ludahnya lagi. Ia tahu kemana arah pembicaraan Elnan kali ini. Tapi, ia pura-pura tidak tahu saja seperti orang bodoh.


"Ya sudah, nyalakan saja AC nya," ucap Meira.


Elnan tersenyum miring.


"Tidak mau," tolak Elnan.


Elnan menarik tubuh Meira agar terbaring di ranjang. Kemudian ia mencondongkan wajahnya ke wajah Meira.


"Jangan pura-pura bodoh dan tidak tahu. Aku yakin kau tahu apa yang aku katakan tadi."


Tangan Elnan mulai menyentuh rambut Meira dan menyelipkannya rambut yang menghalangi wajah Meira ke telinga wanita itu.


"Ternyata kau jadi semakin cantik ya? Untung saja aku berhasil membuatmu kembali lagi padaku. Jika tidak? Mungkin aku akan menyesal di sepanjang hidupku."


Cup!


Elnan mengecup bibir Meira kemudian menyentuh bibir itu dengan jari telunjuknya.


"Boleh aku mencobanya kan?"


Meira mengangguk pertanda ia membolehkan.


Tanpa pikir panjang, Elnan langsung melepas tali yang mengikat di handuk kimono yang dipakai Meira dan terlihatlah semua bagian tubuh Meira disana.


Elnan tersenyum senang, sementara Meira malu-malu.


"Masih indah seperti dulu. Bahkan sepertinya, dadamu terlihat lebih besar dari dulu. Tapi aku suka," ucapnya kemudian menyentuh dada itu dan memainkannya.


Tak hanya itu, Elnan pun mencium bibir Meira dengan lembut hingga membuat Meira terbuai olehnya.


Sentuhan-sentuhan dari Elnan, membuat tubuh Meira melayang-layang seperti dibawa ke surga. Elnan pun merasakan hal yang sama ketika tubuh keduanya sudah saling menyatu satu sama lainnya.


Hingga tiba di pelepasan, keduanya berteriak dengan peluh yang menyelimuti kening mereka.


"Aku mencintaimu Mei."


"Aku juga mencintaimu El."


"Ahhh ... "


Elnan memberikan kecupan di kening Meira, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Meira. Ia memeluk tubuh Meira dengan erat kemudian keduanya memejamkan matanya saking lelahnya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2