
Alin di kampusnya sibuk mengurus acara seminar yang diadakan oleh jurusannya. Ia bertugas sebagai divisi acara. Ia menjadi otak dari berjalannya seminar tersebut. Di belakang panggung, Alin mendengar orang-orang membicarakannya.
"Ck! Belagu sekali dia! Bisa kuliah karena kakaknya jadi p*l*cur saja banyak tingkah! Apa jangan-jangan dia juga sama seperti kakaknya yang jadi p*l*cur!? Wah, itu berarti dia sudah tidak p*rawan."
Alin marah dan kesal. Ia pun langsung menghampiri orang yang menghina dan menjelekkan kakaknya.
"Kalau tidak tahu apapun jangan asal bicara! Kata-katamu itu bisa menyakiti orang lain!" ucap Alin dengan kesal.
"Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? Memang benar kan kalau kakakmu adalah p*l*cur! Aku bahkan beberapa kali melihat kakakmu jalan bersama laki-laki yang berbeda," ucap wanita itu tak ingin digertak oleh Alin.
Alin langsung menarik kerah baju wanita itu dan hendak melayangkan sebuah tamparan. Namun, aksinya terhenti karena temannya datang untuk melerai.
"Tahan emosimu, Lin. Jangan buat keributan. Acara kita akan hancur jika itu terjadi," ucap teman Alin.
Alin pun melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju teman jahatnya.
"Kakaknya p*l*cur, adiknya preman! Benar-benar kombinasi kakak adik yang sempurna!"
Tangan Alin mengepal dan ingin menghajar wanita bermulut racun itu. Tapi temannya menggeleng.
"Haaah ... "
"Jangan pikirkan perkataannya. Kau tahu sendiri kan dia memang seperti itu. Daripada membalasnya secara fisik, lebih baik kau balas dengan prestasimu. Buat dia kalah, jika dia kalah darimu, pasti orang tuanya akan marah. Kau tahu sendiri kan? Orang tua Jenny itu selalu berbuat kasar pada anaknya jika tidak sesuai dengan harapan."
Alin pun mengangguk. Apa yang dikatakan Nara benar. Ia tak harus mengotori tangannya untuk membungkam mulut-mulut sampah untuk berhenti berkata buruk tentang kakaknya maupun dirinya.
"Terima kasih, Nar. Kalau bukan karena mu tadi, mungkin aku sudah ada di ruang kemahasiswaan dan merusak acara kita yang sudah kita siapkan dengan matang."
Nara pun mengangguk.
*
*
Rendra sudah kembali dari panti asuhan ke resort nya. Ia pun melepaskan kemeja yang ia kenakan dan menggantinya dengan kaos. Matanya tertuju ke luar jendela, disana ia melihat para pengunjung tertawa bahagia beserta keluarga mereka di kolam renang.
"Semua orang terlihat bahagia dengan pernikahan dan pasangannya. Tapi kenapa aku tidak? Sebenarnya apa yang salah dari diriku? Dari semua mantanku tak ada satu pun yang mencintaiku."
Sorot mata Rendra berubah menjadi sayu. Ia pun berjalan menjauh dari jendela kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Melihat langit-langit kamarnya yang polos dan berbicara sendirian.
"Apa aku bisa mendapatkan seseorang yang mencintaiku sebagai diriku sendiri? Bersikap baik dan penyayang seperti mama?"
__ADS_1
Hanya itu yang Rendra inginkan. Ia tidak perduli darimana wanita itu berasal. Ia hanya ingin wanita itu mampu menerima dirinya sebagai Rendra dan mencintai segala kekurangan yang dimilikinya.
"Sepertinya itu tidak akan mungkin."
Tiba-tiba Rendra tersenyum kecut mengingat ucapannya. Lalu ponselnya pun berdering. Tak lain dan tak bukan telepon tersebut adalah dari Ansel.
"Apa!" ucap Rendra yang kesal selalu diganggu Ansel ketika sedang beristirahat.
"Santai dong! Kenapa kau selalu ketus kalau aku yang telepon sih! Heran aku!"
"Bicara saja apa yang ingin kau katakan! jangan bertele-tele!" ucap Rendra.
"Huh! Aku tahu Rendra akan tetap menjadi Rendra. Tidak akan mungkin berubah jadi pangeran yang baik hati," ucap Ansel.
"Aku ingin mengajakmu pergi ke club. Mau ikut?" ajak Ansel.
"Ayo!" jawab Rendra.
Bukannya senang. Ansel malah dibuat terkejut. Baru kali ini ia mengajak Rendra ke club dengan hanya satu kali bujukan saja dan Rendra langsung menerimanya. Biasanya ia selalu membujuk Rendra berkali-kali. Bahkan ia selalu mengancam Rendra dengan nama Ela.
"Beneran kau mau ikut? Semudah itukah menjawab?" tanya Ansel.
"Jadi kesana atau tidak? Sebelum aku berubah pikiran!"
Telepon pun berhenti. Rendra bersiap-siap dengan mengganti kaosnya menjadi kemeja.
Beberapa lama kemudian, Ansel sudah ada di resort. Mereka berdua pun naik mobil dan menuju ke club dimana tempat Aura dan Sena biasanya.
Sesampainya disana, Ansel dan Rendra duduk di tempat yang sama. Rendra memesan banyak sekali botol wine. Ansel sampai dibuat terkejut dan terus-menerus menelan ludahnya sakit tidak percayanya Rendra bisa menghabiskan minuman tersebut.
"Kau tidak salah memesan kan, Ren?" tanya Ansel. Rendra pun menggeleng.
"Jika kau mati nanti, jangan jadikan aku sebagai tersangkanya. Karena ini semua adalah keinginanmu sendiri," ucap Ansel.
Seketika tatapan tajam pun mengarah ke Ansel. Nyali Ansel menciut seketika. Ia hanya bisa pasrah jika pulang nanti membawa Rendra yang mabuk.
"Benar-benar menyusahkan," gumam Ansel.
Tanpa sadar, mata Rendra selalu tertuju pada wanita yang selalu silih berganti masuk ke dalam club. Ia seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Apa sih yang kau cari? Kau mencari Aura?" tanya Ansel.
__ADS_1
"Tidak," jawab Rendra.
"Cih! Bohong sekali!" Ansel tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
Tiba-tiba Sena datang dan langsung duduk di samping Ansel. Ansel pun menanyakan keberadaan Aura.
"Aura kemana? Aku seperti tidak melihatnya datang?" tanya Ansel pada Sena.
"Aura memang tidak akan datang. Dia meminta izin sampai bekas tamparannya memudar," jawab Sena.
"Wah, sayang sekali. Padahal sahabatku mencarinya sejak tadi," ucap Ansel menggoda Rendra.
Tatapan tajam pun melayang kembali pada Ansel. Ansel membalas dengan senyum bodohnya.
Waktu terus berjalan, hingga tengah malam pun menjelang. Rendra sudah mabuk dan tepar terbaring di sofa. Sementara Ansel, ia hanya setengah mabuk. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak mungkin bisa menyetir. Bisa jadi akan terjadi kecelakaan. Oleh karena itu, Ansel meminta Sena untuk menelpon Aura dan meminta bantuan pada wanita itu.
Tak lama kemudian, Aura pun datang.
"Ada hal genting apa Sen? Kau terlihat sangat membutuhkan bantuan tadi ketika di dalam telepon," tanya Aura.
"Tolong bantu aku." Bukan Sena yang menjawab melainkan Ansel.
"Aku yang meminta Sena untuk menelpon mu. Aku mohon tolong antarkan Rendra pulang ke resort nya," lanjut Ansel.
"Kenapa dia? Apa mabuk?" tanya Aura.
Sena dan Ansel pun mengangguk.
"Aku juga setengah mabuk. Maka dari itu aku memintamu untuk mengantarnya. Ini pakai mobilku. Kemungkinan malam ini aku akan menginap di hotel terdekat. Tolong antarkan Rendra sampai ia tertidur di ranjangnya," pinta Ansel.
Aura ingin sekali menolak. Apalagi pria yang kini tengah mabuk adalah pria keras kepala yang selalu berpikiran buruk tentangnya. Ia juga takut, karena kebanyakan pria mabuk akan melakukan hal-hal yang di luar dugaan, seperti memaksa untuk berhubungan badan.
Melihat Aura yang seperti ketakutan, Ansel pun meyakinkan Aura.
"Tenang saja, Rendra bukan pria seperti itu. Ketika mabuk, dia hanya akan tertidur. Dia tidak akan berbuat kurang ajar seperti yang kau pikirkan. Jadi, kumohon tolong bantu aku ya, Au."
Aura pun akhirnya mengangguk dan percaya pada ucapan Ansel.
*
*
__ADS_1
TBC