Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 8 - Pertanyaan yang sama


__ADS_3

Di kediaman Kavindra, Naya berkumpul dengan para ibu-ibu arisannya. Ada yang anaknya masih bayi, sudah berumur 7 tahun, ada juga yang anaknya sudah berumur menginjak 30 tahun seperti anaknya. Para ibu menikmati jamuan makan yang disiapkan oleh Naya.


Tiba-tiba saja salah satu wanita menyeletuk bicara tentang Rendra.


"Jeng, kau harus berhati-hati dalam memilih menantu nantinya. Jangan sampai punya menantu yang berasal dari kelas rendahan. Apalagi mengingat Rendra adalah laki-laki yang sukses dan kaya raya. Kemarin aku melihat Rendra malah membela seorang pelakor daripada membela seorang istri sah. Kau harus lebih sering mengawasi pergaulan anakmu dengan seorang wanita," ucap wanita yang bernama Stella, yang tak lain adalah istri dari Andrew.


Naya hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Soal urusan hati, Naya selalu menyerahkan semuanya pada anaknya masing-masing. Ia tidak berhak untuk ikut campur. Ia hanya bisa menasehati jika ia merasa ada sesuatu yang buruk dari pasangan yang dikenalkan oleh anaknya. Mengenai tentang status pasangan yang dicintai anaknya, ia tidak peduli mau berasal dari anak orang kaya atau anak orang miskin selagi pasangan yang dipilih anaknya baik. Karena ia pun sadar dulunya hanya seorang ibu susu yang naik tahta menjadi permaisuri di kerajaan Kavindra.


"Terima kasih atas sarannya," ucap Naya.


"Iya Jeng. Pokoknya sekarang itu kita harus berhati-hati sama pelakor. Kita harus bisa menjaga suami dari main di luar. Karena pelakor sekarang cantik-cantik dan masih muda," ucap Stella lagi.


"Jika kita bisa memberikan pelayanan terbaik pada suami kita masing-masing. Tidak akan mungkin terjadi pengkhianatan seperti itu. Jika hal tersebut terjadi berarti adalah yang salah. Entah itu yang salah kita atau suami kita yang memang tidak bisa hanya dengan satu wanita jangan langsung menyalahkan orang lain," ucap Naya yang menjawab dengan bijak. Secara tidak langsung Naya seperti sedang menyindir Stella.


Stella jadi kesal sendiri dan berhenti menanggapi ucapan Naya.


Acara arisan kembali berlangsung hingga akhirnya diumumkan pemenang dari arisan di hari itu.


"Selamat ya jeng atas kemenangannya di Minggu ini," ucap salah satu teman arisan ada Naya.


"Iya, terima kasih."


Satu per satu dari mereka memberikan ucapan selamat ada Naya. Setelah itu mereka pergi dari rumah Naya.


Naya menghela napas kasar. Ia merasa jadi tidak nyaman berada di perkumpulan ibu-ibu itu.


"Memang apa salahnya jadi wanita miskin? Kenapa orang-orang selalu beranggapan buruk jika orang kaya menikah dengan orang miskin? Tak ada yang salah tentang itu. Yang salah itu cuma pandangan orang tersebut yang terlalu dangkal."


Karena terus kepikiran, Naya pun akhirnya menelpon anak laki-lakinya.


"Ada apa ma?" tanya sang anak.

__ADS_1


"Ren, kau dimana? Kapan pulang ke rumah?" tanya Naya.


"Aku masih di resort ma, kalau tidak nanti malam, berarti besok aku baru pulang ma," jawab Rendra.


"Apa kemarin kau membela seorang pelakor?" tanya Naya tiba-tiba.


Rendra merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan sang mama. Ia pun menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya pada sang mama.


"Jangan bilang, mama mendengar hal tersebut dari Tante Stella? Cih! Dasar tante-tante tukang ngadu! Aku membela wanita itu karena Tante Stella menamparnya di depan umum. Lagipula dia bukan pelakor seperti apa yang diucapkan Tante Stella," jawab Rendra.


Naya akhirnya tahu, jika yang diceritakan oleh Stella adalah cerita wanita itu sendiri. Naya jadi merasa senang. Ia tahu, Rendra tidak akan mungkin turun tangan jika tidak ada hal mengetuk pintu hatinya.


"Syukurlah jika begitu. Mama jadi lega mendengarnya. Mama hanya takut kau menolong orang yang salah. Tapi mendengar langsung darimu, mama tahu siapa yang salah dan benar disini. Terus bersikap baik pada orang ya. Kita tidak akan tahu di masa depan nanti siapa yang akan membantu kita. Bisa saja dari salah satu orang yang pernah kita tolong ataupun dari seseorang yang tidak terduga. Mama harap kau selalu ingat apa yang mama sampaikan," ujar Naya.


"Iya ma, Rendra akan selalu ingat pesan mama. Kalau begitu kita akhiri dulu obrolan ini ya ma. Aku akan pergi ke suatu tempat," ucap Rendra.


"Baiklah, hati-hati di jalan sayang. Jangan ngebut-ngebut!"


Sambungan telepon pun berhenti.


*


*


"Ck, tante-tante yang satu itu benar-benar tukang ngadu. Pantas saja suaminya tidak tahan. Aku jadi merasa iba dengan om Andrew," ucap Rendra.


Rendra berjalan menuju ke mobilnya yang ada di parkiran. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya ke suatu tempat.


Setelah sampai di tempat tujuan, Rendra menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan orang tersebut. Rendra datang disambut dengan anak-anak yang menghampirinya dengan menyentuh tangan Rendra. Ia tidak marah, ia justru tersenyum. Sisi lain dari Rendra itu adalah, ia selalu bersikap baik dan murah senyum ketika berhadapan dengan anak-anak. Berbeda jika ia bertemu dengan orang dewasa yang aura begitu sangat menyeramkan.


"Om, kenapa om sudah lama sekali tidak pernah datang kesini. Kita rindu main-main sama om," ucap salah satu anak laki-laki.

__ADS_1


Rendra mensejajarkan tingginya dengan anak laki-laki itu dengan berjongkok. Ia pun mengelus kepala anak laki-laki itu.


"Maafkan om ya. Kali ini om janji akan sering-sering datang," ujar Rendra.


"Benar ya om? Tapi kenapa om datang sendiri? Kemana om Elnan dan Tante Ela? Biasanya kan kalian datang bersamaan," ucap anak laki-laki itu.


"Om Elnan dan Tante Ela masih sibuk. Jadi tidak bisa ikut dengan Om. Apa ibu panti ada di dalam?"


Si anak kecil itu mengangguk lalu mengantar Rendra ke ruangan ibu panti.


Setelah sampai di ruangan ibu panti, Rendra disambut dengan sebuah senyuman dan pelukan.


"Ibu pikir kau tidak akan pernah datang kembali kesini setelah berpisahnya rumah tangga kakakmu dan Meira," ucap ibu panti.


"Awalnya memang seperti itu. Karena aku bisa merasakan sakit hati yang dialami oleh kakak. Tapi, yang salah kan Meira bukan ibu panti atau anak-anak disini. Jadi, untuk apa aku malah memutuskan hubungan dengan kalian. Tapi, sepertinya Kak Elnan lah yang tidak akan mungkin datang kembali kesini," ucap Rendra.


Ibu panti menghela napas. Ia merasa bersalah akan perpisahan antara Elnan dan Meira.


"Ibu mengerti. Ibu dengar katanya Elnan sudah pulang ke Indonesia, apa itu benar?" tanya ibu panti.


"Ya, Kak El memang sudah kembali ke rumah."


"Syukurlah, ibu lega rasanya. Ibu sangat takut kalau El akan terus terpuruk akan sakitnya," ucap ibu panti yang lega.


"Ngomong-ngomong kapan kau akan mengenalkan calon istrimu ke ibu, sudah lama sekali kau tidak membawa wanita lagi kesini," tambah ibu panti.


Rendra menghela napas. Ia merasa lelah mendengar ucapan itu. Tidak mamanya tidak ibu panti, keduanya sama-sama mengatakan hal yang sama. Lantas apa yang harus ia lakukan? Memang pada kenyataanya tidak ada wanita yang dekat dengannya.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2