
Sepulang dari perusahaan, Aura diantar pulang ke rumahnya oleh Rendra. Laki-laki itu pun tidak jadi memberi hukuman pada Aura karena telah membantunya untuk membuat si pemilik ruko mau menjual rukonya.
"Hukuman hari ini aku hilangkan sebagai ucapan terima kasihku padamu," ujar Rendra.
"Hm, kalau ingin berterimakasih jangan hanya menghilangkan hukuman saja. Traktir aku juga harusnya," ucap Aura tanpa dosanya.
Rendra yang mendengar hal tersebut malah melajukan mobilnya begitu saja, seolah tak ingin menyanggupi permintaan Aura dan mengabaikannya saja.
"Huh! Dasar pria tak tahu terima kasih!" teriak Aura dengan kesalnya.
*
*
Kediaman Kavindra, 20.00
Selesai makan malam, Naya menghampiri Rendra yang sedang duduk sendirian di dekat kolam renang. Padahal udara malam di saat itu sangatlah dingin, apalagi putranya itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek saja.
"Kenapa sendirian disini? Udara sangat dingin lho!" tanya Naya yang tiba-tiba merangkul pundak Rendra.
"Eh, mama."
Rendra sedikit terkejut karena kedatangan mamanya. Ia pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mamanya.
"Hanya ingin menikmati udara malam saja ma," jawab Rendra.
"Tapi tidak saat udara dingin begini Ren. Kau bisa sakit nantinya," ucap Naya yang mengkhawatirkan kesehatan anaknya.
"Tenang saja ma. Daya tahan tubuhku kuat. Masa hanya karena udara dingin saja langsung tumbang?" ucap Rendra menanggapi.
"Iya deh iya, boleh mama tanya sesuatu?" tanya Naya.
Rendra sedikit heran dengan mamanya. Biasanya jika ingin bertanya tidak pernah minta izin seperti ini dahulu. Alhasil, ia pun menganggukkan kepalanya pertanda boleh.
"Alasanmu putus dengan Kaila apa? Apa benar karena sebuah kesalahpahaman?" tanya Naya dengan serius.
Rendra menghela napas. Jika mamanya sudah bertanya begitu, itu artinya Kaila pasti sudah bertemu mamanya dan sudah menceritakan kisah palsu pada mamanya.
__ADS_1
"Ma, kisah aku dan Kaila sudah berlalu satu tahun yang lalu. Jadi, tidak perlu dibahas lagi. Kalau mama bertemu Kaila lagi, tidak usah mama percaya apa yang dia katakan," jawab Rendra agar mamanya mengerti.
"Mama tuh bingung dengan anak-anak mama. Usianya sudah mau menginjak angka 3 malah masih sendiri dan tidak memiliki kekasih. Jika mama jodohkan apa kau mau?"
Rendra terkejut bukan main. Pasalnya, tidak biasanya mamanya akan mengajukan pertanyaan tersebut. Dijodohkan? Oh sungguh Rendra jelas tidak akan mau dan akan menolak dengan keras. Tidak dijodohkan saja Rendra selalu mendapatkan pasangan yang salah apalagi dijodohkan, yang Rendra sendiri tidak tahu bagaimana sifat dan karakter orang yang nantinya dijodohkan dengannya.
"Ma, sekarang sudah jaman modern. Sudah tidak tren lagi main jodoh-menjodohkan segala," bantah Rendra.
"Iya memang. Tapi apa buktinya? Sudah jaman modern saja kau masih menjomblo. Apa tidak pusing mama memikirkan nasib anak-anak mama?" ucap Naya dengan sedikit bersedih.
"Ma, sebenarnya aku punya kekasih," ucap Rendra yang akhirnya akan memulai skenario cintanya.
"Hah? Beneran? Kau tidak membohongi mama, kan?" tanya Naya yang tidak mau langsung percaya dengan ucapan putranya. Apalagi mengingat waktu itu Rendra menyangkal pertanyaan dirinya dan Ela.
"Iya ma, aku tidak berbohong. Lusa aku akan membawanya ke rumah," ucap Rendra lagi.
Mendengar hal tersebut, Naya jadi tersenyum mengembang. Betapa bahagianya ia akan mendapatkan calon mantu.
"Bagus, mama akan siapkan makanan lezat untuk menyambutnya. Ah, bahagianya mama," balas Naya.
Rendra tersenyum tipis melihat kebahagiaan mamanya. Karena di relung hatinya yang terdalam ia merasa bersalah karena telah membohongi mamanya.
"Ya sudah kalau begitu, mama masuk ke dalam dulu. Jangan lama-lama di luarnya, malam sudah semakin larut."
Rendra mengangguk pertanda mengerti.
*
*
Esok harinya, Aura kembali lagi menemani kemanapun Rendra pergi. Bahkan saat bertemu dengan klien di sebuah restoran pun Aura terpaksa harus ikut padahal ia hanya bisa menunggu di tempat reservasi yang berbeda dengan Rendra. Rasa bosan pun menyelimuti hati Aura karena hanya berdiam menunggu Rendra selesai dengan pertemuannya. Baginya kini makanan yang ada di hadapannya sudah tak lagi terlihat menarik karena saking kenyangnya.
"Huh! Baru kali ini aku jadi wanita bayaran yang diabaikan begini. Tidak ngapa-ngapain tapi rasanya tetap saja cape," keluh Aura.
Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Aura pun berkeliling di luar restoran. Ia duduk di kursi yang ada di dekat pohon sambil menikmati semilir angin yang menembus ke rongga-rongga bajunya.
"Setidaknya disini lebih baik daripada di dalam."
__ADS_1
Mata Aura terus melihat ke sekeliling, ia sangat takjub dengan luasnya restoran yang ia kunjungi. Takjub juga dengan banyaknya pengunjung dan tak ada satu pun kursi kosong yang tersisa.
"Andai saja aku punya usaha di bidang makanan. Apa nantinya akan serame ini?" ucap Aura berandai-andai.
Saat sedang asik berandai-andai dan membayangkan dirinya memiliki sebuah restoran, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa dirinya.
"Aura," panggil orang itu.
"Eh, Evan. Sedang apa disini?" tanya Aura.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kau duduk sendirian di luar tidak di dalam? Aku disini karen habis bertemu dengan klien."
"Aku bosan di dalam, jadinya aku keluar.," jawab Aura.
"Kau sedang jadi wanita bayaran ya?" tanya Evan laku dibalas anggukan oleh Aura.
"Kalau boleh tahu, siapa yang menyewa mu, Au? Aku bahkan sudah membuat kesepakatan lebih dulu dengan Mami Lena, tapi ia batalkan karena katanya kau akan disewa selama seminggu. Aku agak kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi," ujar Evan mengutarakan rasa kecewanya.
Belum juga menjawab, Aura sudah dipanggil oleh Rendra.
"Au, ayo kita pergi!" ajak Rendra tanpa tahu siapa laki-laki yang mengobrol dengan Aura karena hanya terlihat punggungnya saja.
"Maaf Evan, aku harus pergi," ucap Aura lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke Rendra.
Setelah keduanya berjalan keluar dari restoran, Evan bisa melihat wajah laki-laki yang menyewa Aura dari samping.
"Rendra?"
"Ah, masa sih laki-laki tadi adalah Rendra? Rasanya tidak mungkin sekali? Dia bukan orang yang menghamburkan uangnya untuk menyewa wanita seperti itu? Pasti aku salah lihat tadi," ucap Evan yang tidak percaya dengan apa yang sudah ia lihat. Tapi, dari suara laki-laki tadi memang suaranya mirip sekali dengan Rendra.
Daripada terus memikirkan hal yang tidak pasti kebenarannya, Evan pun memilih untuk pergi dari restoran tersebut. Mengenai Aura, masih ada minggu depan untuknya bisa menyewa Aura.
Berbeda dengan halnya Rendra di perjalanan, ia terus memikirkan laki-laki yang tidak ia tahu siapa yang tadi mengobrol dengan Aura di luar restoran. Entah kenapa rasanya ia tidak suka hingga tanpa sadar ia langsung mengajak Aura untuk pergi, padahal sebenarnya Rendra masih harus menyelesaikan tahap akhir kerjasama itu. Untungnya, ada bawahan Rendra yang bisa menggantikan dirinya dan klien pun tidak mempermasalahkan itu karena hal pentingnya sudah disepakati sebelumnya.
*
*
__ADS_1
TBC