Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 20 - Mengantar Aura pulang


__ADS_3

Sore harinya, Rendra pulang dengan suasana hati buruknya. Bahkan semua pekerja di kediaman Kavindra pun, tak ada yang mampu menatap wajah Rendra dengan seksama. Mereka semua sudah tahu, jika Rendra dalam suasana hati yang buruk, tuan mudanya itu tidak bisa diajak untuk beramah tamah.


"Kau kenapa sayang?" tanya Naya yang melihat anaknya terus-terusan mend*sah.


"Pusing ma, pekerjaan di kantor tidak ada yang beres," jawab Rendra.


"Sabar, semuanya pasti ada solusinya. Lebih baik sekarang kau mandi, baru setelah itu pikirkan lagi bagaimana caranya supaya bisa mengatasi masalah tersebut," saran Naya.


"Baiklah ma, kalau begitu aku ke atas ya," ucap Rendra.


Naya pun mengangguk.


*


*


Malam harinya, untuk menghilangkan suntuk dan suasana buruknya. Rendra pergi ke cafe yang ada di sekitar rumahnya. Rupanya disana ia melihat Aura bersama dengan Evan. Dengan tidak tahu dirinya, Rendra justru ikut bergabung disana.


"Aku duduk sini ya," ucap Rendra.


"Kenapa kau Ren?" tanya Evan penasaran.


"Jangan tanya kenapa? Aku tidak mau jawab," ucap Rendra.


"Baiklah," jawab Evan.


"Anggap saja aku tidak ada disini. Jadi kalian mengobrol lah lagi dengan nyaman," ucap Rendra lagi.


Evan pun mengangguk.


Benar saja sesuai apa yang dikatakan Rendra, Evan benar-benar tidak menganggap Rendra ada di antara ia dan Aura. Rendra bagaikan batu yang hidup disana.


"Au, kenapa sih kau tidak suka jika aku mengantarkan mu pulang ke rumah? Kenapa selalu saja kau minta diantarkan ke club saja?" tanya Evan.


"Aku tidak nyaman. Jadi bisakah kau tidak terus menanyakan itu lagi? Aku sudah menjawab pertanyaan itu beberapa kali," jawab Aura.


Rendra yang ada disana pun merasa heran karena ia pernah mengantar Aura pulang sampai ke depan rumah wanita itu. Lalu kenapa Evan tidak pernah?


Seketika mata Rendra menatap ke arah Aura yang tentunya wanita itu tidak tahu sedang ditatap oleh Rendra karena sedang meminum minumannya.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan itu lagi," jawab Evan dengan pasrah.


Aura pun mengangguk lalu menyedot minumnya lagi. Keduanya pun berbincang tentang hal lain lagi.


Di saat itu, pesanan Rendra pun datang.


"Makanlah, ini aku pesankan untuk kalian," ucap Rendra.


"Terima kasih," ucap Aura.


Rendra mengangguk dan mulai meminum pesanannya. Lagi-lagi ia menjadi batu disana.

__ADS_1


Sampai akhirnya, keduanya pun memutuskan untuk pulang.


"Ren, kita pamit ya, hati-hati sendirian. Nanti kau dibawa oleh tante-tante!" ucap Evan meledek.


"Aku tidak peduli," jawab Rendra.


Evan pun hanya bisa mengelus dadanya. Ia harus ekstra sabar menghadapi Rendra.


Di dalam mobil, Aura bertanya tentang Rendra.


"Rendra memang seperti itu ya?" tanya Aura.


"Kau tahu namanya?" Aura mengangguk.


"Pernah beberapa kali bertemu dan ia selalu menolongku. Jadi aku mengenalnya," jawab Aura.


"Oh. Dia memang seperti itu jadi jangan heran," ucap Evan.


Aura mengangguk.


Waktu terus berlalu, Aura dan Evan pun sudah sampai di club Century. Aura turun dari mobil tersebut dan meminta Evan untuk pulang.


"Terima kasih sudah mengantar. Pulanglah, hati-hati di jalan."


"Iya," jawab Evan dengan pasrah.


Setelah mobil Evan menghilang dari penglihatan Aura, wanita itu menunggu taksi lewat. Sudah beberapa menit menunggu, tak satu pun ia melihat taksi sampai Aura pun duduk di kursi yang ada di bawah pohon saking lelahnya ia berdiri.


Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depannya membuat cahaya lampu yang menyinarinya terhalangi oleh tubuh itu dan membuat Aura mendongak.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Aura lagi.


"Kebetulan lewat. Lalu melihatmu duduk sendirian," ucap Rendra.


"Oh, ya sudah, lanjutkan saja perjalananmu," balas Aura.


Namun, Rendra tak kunjung pergi dari hadapannya. Ia malah terus berdiri disana.


"Kenapa tidak pergi?" tanya Aura.


"Lalu? Haruskah aku pergi? Ketika melihatmu terus duduk di bawah pohon seperti ini hingga menunggu taksi datang? Yang pada kenyataannya, taksi tak akan datang, karena hari sudah semakin larut. Lagian kau juga bodoh, kenapa tidak mengizinkan Evan untuk mengantar mu sampai rumah," ucap Rendra.


Alis Aura seketika langsung berkerut. Rupanya Rendra sedari tadi di cafe mendengarkan perbincangan antara dirinya dan Evan.


"Kau mendengarnya?" tanya Aura.


"Tentu saja," jawab Rendra.


"Kau mau menunggu taksi? Atau mau ikut bersamaku?" tanya Rendra menawarkan.


"Jawab sekarang, atau aku tinggal beneran," ucap Rendra lagi.

__ADS_1


"Kau ini memang ahlinya memaksa. Aku sampai tidak bisa menolak karena melihat tatapanku yang tajam itu," ujar Aura.


Senyum smirk muncul di lengkungan bibir Rendra ketika mendengar ucapan Aura dan melihat Aura berjalan masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo jalan! Jika kau memang ingin mengantarku pulang," ucap Aura yang sedang memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya.


Rendra pun langsung melajukan mobilnya. Di perjalanan, Rendra menanyakan tentang alasan Aura tidak ingin diantar oleh Evan.


Kali ini Aura menjawab dengan jujur.


"Aku tidak ingin kehidupan pribadiku diketahui oleh klienku," ucap Aura.


"Kenapa?" tanya Rendra lagi.


Aura tidak menjawab, ia malah melihat ke luar kaca mobil sambil melukis emot senyum disana. Bersama Rendra, mau menjawab ataupun tidak pertanyaan Rendra, responnya akan sama saja. Jadi, ia terkadang menjawab dan terkadang juga hanya diam, sesuai isi hatinya ingin atau tidak untuk bercerita. Lagipula, Rendra bukanlah orang terdekatnya, yang harus mengetahui semua kisah hidupnya.


Mobil pun berhenti, rupanya Rendra sudah mengantar Aura sampai di depan rumah. Sayangnya, Aura justru tertidur dengan sangat pulasnya. Rendra melihat itu, ia mantap wajah tenang dan damainya Aura ketika tidur. Ia sampai tidak tega untuk membangunkan Aura. Namun, ia tidak mungkin juga tetap membiarkan Aura berada di mobilnya terus. Alhasil, Rendra pun berinisiatif menggendong Aura sampai ke depan pintu rumah wanita itu.


Tok tok tok


Rendra mengetuk pintu rumah itu.


"Sebentar," sahut seseorang dari dalam rumah itu.


Ceklek!


Pintu terbuka.


"Kak Aura?" Alin terkejut ketika melihat Aura yang digendong ala bridal style oleh seorang laki-laki.


"Dimana kamarnya?" tanya Rendra menghilangkan keterkejutan Alin.


"Di sebelah sana, di dekat ruang tamu," tunjuk Alin.


Rendra pun langsung masuk dan mengantarkan Aura untuk dibaringkan di ranjang tidurnya. Tak lupa, ia juga melepas high heels yang melekat di kaki Aura. Perlakuan yang dilakukan Rendra itu, tak lepas dari mata Alin.


Sudah dua kali kak Aura di antar oleh laki-laki sampai ke rumah. Apa jangan-jangan laki-laki yang waktu itu dia juga? pikir Alin.


Setelah melepas sepatu Aura, Rendra keluar dari kamar dan Alin langsung mengucapkan terima kasih pada laki-laki yang mengantar kakaknya pulang.


"Terima kasih kak, sudah mengantar kak Aura pulang," ucap Alin.


Rendra hanya mengangguk lalu pergi dari rumah Aura.


Alin yang melihat itu, cukup kaget. Baru kali ini ia bertemu orang sedingin itu. Apalagi kebanyakan teman kakaknya itu cerewet, dan banyak omong. Lalu siapakah laki-laki itu?


*


*


TBC

__ADS_1


-


Selamat tahun baru 🎉🎉


__ADS_2