Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 17 - Bocah Tua Nakal


__ADS_3

Rendra menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Aura. Sebelum Aura benar-benar turun dari mobil, Rendra pun mengucapkan beberapa kata.


"Aku sudah terima jas dan pesan darimu," ucap Rendra.


"Baguslah kalau begitu. Terima kasih atas tumpangannya. Aku jadi hemat uang!"


Setelah itu, Aura keluar dari mobil Rendra dan masuk ke dalam rumahnya. Ketika Aura sudah tak terlihat lagi di wajahnya, barulah Rendra melajukan mobilnya untuk pergi menjauh dari area rumah Aura.


Di dalam rumah, Aura dikejutkan dengan adiknya yang sudah berdiri di dekat jendela sambil menatap ke arahnya curiga.


"Siapa laki-laki tadi kak? Apa dia pacar kakak? Seingat ku kakak tidak pernah diantarkan pulang oleh klien sekalipun kecuali Kak Gio dulu," tanya Alin yang penasaran.


"Astaga! Kau mengagetkan kakak saja Alin!" Aura terkejut.


"Laki-laki tadi teman kakak. Dia bukan klien apalagi pacar kakak," tambah Aura lagi.


"Iya kah?" tanya Alin lagi untuk memastikan.


Aura pun mengangguk dengan mantap.


"Kirain pacar, padahal kalau jadi pacar kakak, dia terlihat serasi dengan kakak. Ya, meski agak sedikit terasa, wajah dinginnya," ungkap Alin.


"Dia memang dingin dan suka muncul tiba-tiba," ucap Aura menjelaskan lebih detail.


"Hahaha. Itu berarti kalian berjodoh kak. Kata orang kalo kebetulan terjadi lebih dari tiga kali, itu artinya jodoh," jelas Alin.


"Jangan ngaco! Tidak mungkin lah! Kakak sadar dan paham akan itu. Dia itu berasal dari keluarga terpandang. Kakak tidak mau lagi menjalin hubungan dengan orang kaya, lebih baik dengan orang biasa saja," ucap Aura menjelaskan.


Alin terdiam. Ia paham betul dengan ucapan kakaknya itu. Memiliki pengalaman buruk dengan seseorang, membuat kakaknya jadi takut menjalin hubungan dengan orang kaya, apalagi dengan statusnya yang wanita bayaran. Ibu mana yang mau menjadikannya sebagai menantu? Yang ada dia akan merasa malu.


"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Kakak ingin mandi dan bersiap untuk pergi lagi. Kakak ada janjian dengan klien."


Alin pun mengangguk.


*


*


Rendra telah kembali ke resort nya. Rupanya, tadi ia keluar dengan sengaja hanya untuk bertemu Aura.


Flashback on


Rendra memarkirkan mobilnya di parkiran, kemudian memasuki resort nya. Setelah sampai di depan resepsionis, sang resepsionis mengatakan sesuatu.


"Selamat sore Tuan Rendra, ada titipan jas dan pesan untuk anda dari wanita bersama Aura. Katanya, 'Aku sudah mencucinya dengan bersih dan wangi. Jadi kau tidak usah takut dan berpikiran buruk tentangku.' begitu pesannya," ucap si resepsionis.


"Kapan dia datang?" tanya Rendra.

__ADS_1


"Beberapa menit yang lalu, mungkin sekitar 5 menit," jawab si resepsionis.


"Ke arah mana dia pergi?" tanya Rendra lagi.


"Sebelah kanan," jawab si resepsionis lagi.


Rendra langsung keluar dari resort nya dan melajukan mobilnya ke arah Aura pergi sampai akhirnya bertemu dan mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya.


Flashback off


Di dalam kamarnya, Rendra terus berpikir dan merasa aneh pada dirinya sendiri. Sejak kapan ia jadi begitu peduli pada Aura yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu? Padahal ia bukan tipe orang yang bisa peduli pada orang lain.


"Ada apa dengan diriku? Sangat tidak mungkin aku jatuh cinta padanya." Rendra bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Tidak, memang tidak boleh," ucap Rendra lagi.


Setelah itu, dia melakukan acara meeting online bersama kliennya yang berada di luar negeri. Dua jam pun akhirnya telah usai. Rendra mengambil handuk dan membersihkan tubuhnya. Selesai itu, ia keluar dari kamar resort nya dan kembali ke rumah. Karena jika ia sering tidur di resort, mamanya akan merajuk dan terus mencari-cari dirinya. Apalagi orang yang diperintahkan mamanya untuk mencarinya adalah Ela, orang yang paling mengesalkan di muka bumi bagi Rendra. Sedari kecil hingga sudah berumur 29 tahun, Rendra dan Ela memang tidak pernah akur. Sekalinya akur ya pasti hanya sesaat. Tapi, keduanya saling menyayangi.


*


*


Rendra berjalan masuk ke dalam rumah dengan santainya. Sang mama yang baru keluar dari dapur pun langsung menyapa.


"Baru pulang ya, Ren? Habis dari mana aja? Sudah makan?" tanya sang mama.


Naya tersenyum mendengar jawaban anaknya itu.


"Ya sudah, makan gih! Mama sudah pisahkan makanan untukmu karena kau tidak ada di saat makan malam tadi," ucap sang mama.


Rendra pun mengangguk. Ia pergi ke ruang makan diikuti oleh mamanya. Di meja makan, Naya sudah menyediakan beberapa menu untuk Rendra. Naya dengan senang hatinya melayani dan menemani anaknya untuk makan malam.


Tiba-tiba Richard muncul dan menatap sinis ke arah anaknya itu.


"Cari istri sana! Supaya kau tidak mengganggu istri papa lagi. Kau sudah berumur lho dan sebentar lagi akan kepala 3. Masa tidak ada satu pun wanita yang bisa menaklukan mu lagi?"


"Tidak mau! Aku mau menganggu istri papa saja. Lagian mama lebih menyayangi aku daripada papa. Iya kan, ma?" ucap Rendra menantikan jawaban iya dari mamanya.


Naya hanya mengangguk. Tapi itu sudah menjadi balasan dari mamanya. Rendra menang telak dari papanya sendiri. Melihat itu membuat Richard merengek dan menaruh kepalanya di ceruk leher Naya.


"Sayang," rengek Richard.


"Kau bercanda kan? Kau kan lebih menyayangi aku dibandingkan anak-anak kita, kan? Apalagi anak kurang ajar di hadapan kita ini! Iya kan sayang?" tanya Rendra diakhiri dengan sedikit kecupan di pipi Naya.


"Cih! Sudah tua! Masih saja cemburuan, heran! Herannya lagi cemburunya sama anak sendiri! Bocah tua nakal!"


"Aw, aw, aw, sakit sayang. Kenapa suka sekali mencubit pinggangku sih sayang? Lama-lama pinggangku bisa berlubang karena sering dicubit olehmu."

__ADS_1


"Mana ada begitu! Papa terlalu berlebihan!" Rendra menanggapi ucapan papanya yang selalu nyeletuk yang aneh-aneh. Sangat tidak mungkin orang dicubit kulitnya jadi berlubang. Pemikiran darimana coba?


Naya meng*lum senyum. Ia sangat suka sekali melihat anak dan suaminya adu mulut seperti itu. Terlihat seperti anak kembar dan seperti melihat Richard versi muda. Meski sifat keduanya agak berbeda, yang satu cemburuan, yang satunya lagi suka meledek dan mengganggu kesenangan papanya.


"Sayang! Lihat! Anakmu kurang ajar sekali padaku!" adu Rich pada Naya.


"Oh, jadi aku anak dari mama dan laki-laki lain ya pa?" tanya Rendra sambil memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.


Mendengar hal tersebut Richard langsung menatap tajam anaknya. Yang ditatap malah memperlihatkan tampang bodohnya, seolah tidak bersalah.


"Sembarang kalau bicara!" kesal Richard.


"Papa sendiri yang bilang lho! Harusnya tadi papa bilang 'anak kita'. Jadi, aku tidak salah paham," jawab Rendra yang masih santai membalas ucapan papanya.


"Hihi." Naya dibuat cekikikan oleh kedua laki-laki di hadapannya. Suaminya memang mudah sekali dibuat kesal. Apalagi oleh Rendra, bahkan asap mengepul pun kadang bisa keluar dari kedua telinga Richard.


"Sudah tua, ngalah sama anak!"


Kali ini Naya yang bersuara.


"Tuh dengerin, pa!" ucap Rendra yang ikut-ikutan.


"Apa?! Diam kamu!" kesal Richard pada Rendra.


Rendra pun terdiam dan menghabiskan suapan terakhirnya.


Naya memberikan segelas air putih untuk anaknya.


"Ih, sayang dia punya tangan lho! Bisa ambil sendiri! Jangan dimanjain terus! Dia sudah dewasa tahu!" kesal Richard lagi.


"Walaupun aku sudah dewasa di mata papa. Aku tetap masih anak kecil di mata mama," ucap Rendra lalu meneguk minumnya.


Setelah selesai, Rendra pamit pergi pada mamanya.


"Rendra ke atas dulu ya ma, makasih sudah temani Rendra makan," ucap Rendra.


"Kamu tidak pamit dan berterimakasih ke papa juga?"


"Anda siapa?" ledek Rendra kemudian berjalan menaiki tangga.


"Huh!" Richard kesal dan ditenangkan oleh Naya dengan mengelus dada suaminya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2