
Aura telah sampai di kamar Rendra. Rendra menjatuhkan Aura di atas ranjangnya. Setelah itu, ia mencari-cari cara untuk menghilangkan obat perangsang yang telah diminum tanpa sengaja oleh Aura di internet. Ketika itu, Aura terbangun dan memeluk Rendra dari belakang. Tubuh Rendra sedikit menegang ketika merasakan sesuatu menyentuh punggungnya.
Ya Tuhan! Apa itu? Argh! Aura!
Ingin sekali Rendra melepaskan pelukan itu dan berlari keluar kamar. Namun, bagaimana dengan Aura? Ia harus membantu Aura untuk menghilangkan efek dari obat sialan itu.
Akhirnya ketemu juga.
Rendra akhirnya lega ketika sudah menemukan caranya. Ia kemudian melepaskan pelukan Aura. Namun, lagi-lagi Aura memeluk dirinya dari depan. Apalagi melihat gaun Aura yang resleting belakangnya terbuka.
Astaga! Aura!
Sambil menahan hasrat dalam dirinya. Rendra pun membantu Aura menarik resleting gaunnya agar tertutup kembali. Rendra takut Aura nekat lagi dan membuka gaunnya di depan matanya. Bisa-bisa Rendra tidak mampu menahan hasratnya.
"Ren, aku ingin," ucap Aura dengan tatapan menggodanya.
"Au, jangan katakan itu lagi. Jika hal buruk terjadi setelah ini. Kau yang akan rugi," ucap Rendra pada Aura.
"Tidak, aku tidak akan rugi," ujar Aura.
"Tidak, aku tidak ingin melakukan itu."
"Tapi, Ren ..."
Belum juga selesai bicara, Rendra sengaja mencium Aura agar mempermudah dirinya menggendong Aura masuk ke dalam kamar mandi. Lalu menaruh Aura di bawah shower. Rendra memutar keran air dan mengeluarkan air dingin dari sana. Sebenarnya Rendra tidak tega melakukannya. Tapi ini cara satu-satunya yang paling mudah dilakukan saat ini. Ia tidak mungkin keluar untuk membeli obat pereda nya. Ia takut, Aura akan diam-diam keluar dan malah berakibat buruk.
"Maaf, maafkan aku, Au."
"Dingin!" rintih Aura. Bagaimana tidak dingin? Malam-malam begitu Aura diguyur dengan air dingin oleh Rendra.
"Ren, hentikan!" pinta Aura sambil menarik-narik kemeja yang dikenakan Aura.
"Maaf." Lagi-lagi kata itu yang diucapkan oleh Rendra.
Ketika gaun yang dikenakan Aura sudah basah kuyup dan rambut Aura pun sudah basah. Tanpa sengaja bra berwarna merah Aura terlihat karena bajunya yang berwarna cerah ketika terkena air jadi menerawang.
__ADS_1
Astaga! Ya Tuhan! Aura!
Rendra masih terus mengguyur Aura dengan air dingin sampai efeknya menghilang. Ia bahkan sampai menutup matanya saking takutnya.
Aura yang merasa kedinginan pun, lalu menarik Rendra yang menutupi matanya untuk memberikan kehangatan untuknya. Akhirnya keduanya bermandikan air dingin dengan keadaan masih memakai pakaian utuh.
Dua jam pun berlalu. Akhirnya efeknya menghilang. Aura pun menggigil kedinginan. Rendra pun meminta tolong bawahannya untuk membelikan pakaian dalam wanita. Karena untuk pakaiannya, Rendra akan meminjamkan bajunya sendiri. Tak lama kemudian bawahannya pun datang dan membawakan apa yang diperintahkan bosnya.
"Ini pakai Au. Aku tidak ukuran apa yang cocok untukmu. Jadi aku meminta untuk membelikan satu satu dari setiap ukuran."
"Terima kasih," ucap Aura lalu mengganti pakaiannya di kamar mandi. Ketika Aura berganti di dalam, Rendra pun memanfaatkan waktunya untuk berganti juga. Setelahnya, ia memberikan bajunya untuk Aura.
Selesai berganti, Aura keluar dari kamar mandi dengan perasaan malu dan terus menunduk. Ia merasa tadi ia sudah keterlaluan dengan mencium Rendra tanpa meminta izin.
"Kemari lah!" pinta Rendra.
Aura pun berjalan pelan menuju ke Rendra.
"Duduk disini, di sampingku."
"Malam ini kau tidur disini. Tenang saja aku tidak akan tidur seranjang denganmu. Paling aku tidur di sofa," ucap Rendra agar Aura tidak merasa takut.
Lagi-lagi Aura hanya mengangguk. Rendra paham dan sadar betul. Aura pasti mengingat semuanya.
"Ya sudah, tidurlah!"
Aura pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Rendra membantu Aura dengan menyelimuti tubuh Aura. Setelah itu pria itu menuju sofa sambil membawa satu bantal.
Aura pura-pura memejamkan matanya agar Rendra pun tertidur. Ketika tak ada suara dari Rendra, Aura membuka matanya dan terus-menerus menggelengkan kepalanya.
Aaaa, apa yang terjadi padamu tadi Aura? Arg! Bodoh! Kenapa kau terlihat seperti wanita murahan! Argh! jerit Aura di dalam hatinya.
Ingatannya kembali pada beberapa jam lalu setelah meminum wine yang dipesan oleh Albert. Aura tidak bodoh. Ia sedikit tahu obat apa yang telah ia konsumsi tadi. Ia jadi menerka-nerka apakah Albert memang sengaja ingin menjebaknya? Jika benar, keputusan Aura untuk berhenti tidak akan bisa terbantahkan lagi. Lalu setelahnya, Aura tertidur karena saking dingin dan lelahnya.
*
__ADS_1
*
Berbeda dengan situasi Albert, laki-laki itu terus mengamuk di ruangan Mami Lena dengan keadaan wajah yang mengenaskan. Meski telah diobati, tentu saja lukanya tidak akan semudah itu untuk menghilang.
"Cepat kembalikan uangku! Kau sudah mengingkari janji! Aku bahkan tidak bisa bermalam dengan Aura! Aku malah mendapatkan semua ini! Hah!"
"Tuan Albert, mohon tenanglah! Kita bicarakan baik-baik."
"Tenang katamu? Heh! Wanita tua! Wajah tampanku sudah babak belur begini, wanita yang harusnya bermalam denganku pun pergi dan uangku malah sudah masuk dalam rekeningmu! Bagaimana aku bisa tenang? Hah!?"
Sebenarnya Mami Lena agak takut juga dengan kemarahan Albert.
"Aku akan ganti semuanya. Atau kita buatkan jadwal baru lagi Tuan Albert? Aku yakin, tidak akan terjadi hal seperti ini lagi."
Karena kemarahan sudah menyelimuti hati Albert. Kalimat apapun yang dikatakan Mami Lena, ia benar-benar tidak peduli. Ia hanya ingin uangnya kembali.
"Besok! Uangnya harus sudah kembali padaku. Harus full! Hari ini tidak terhitung aku bertemu Aura karena uangnya untuk ganti perawatanku."
"Baik Tuan Albert."
Albert pun keluar dengan sambil melepas barang yang menghalangi jalannya.
Mami Lena hanya bisa marah dan kesal pada Aura. Padahal hampir saja rencananya akan berhasil untuk menjerat Aura kembali.
"Sial! Argh! Bagiamana aku mengembalikan uang itu? Sementara aku sudah memakainya untuk dp mobil baruku!"
"Aura sialan! Kenapa dia malah merusak rencananya! Sial! Benar-benar sial!"
Tanpa diketahui, rupanya Karin mendengar perbincangan Mami Lena dengan Albert tadi. Ia sudah menduganya, tidak akan mungkin Mami Lena akan membiarkan Aura pergi semudah itu. Tapi, Karin juga senang, setidaknya Aura tidak sampai terperangkap jebakan Mami Lena. Walaupun, ia benci dan iri pada Aura, tapi ia menghormati prinsip yang Aura pegang meski suka mengolok-olok prinsip Aura itu.
Mami Lena terus menghubungi nomor Aura, tapi tak ada jawaban dari Aura. Jadi membuat Mami Lena semakin kesal saja. Mami Lena bahkan berusaha menghubungi pihak mobil yang tadi sudah ia DP. Tentu saja tidak akan diangkat, karena sudah bukan lagi jam kerja. Mami Lena frustasi dengan semuanya hingga ia pun mengacak-acak rambutnya kemudian membuang benda-benda yang ada di hadapannya ke lantai.
*
*
__ADS_1
TBC