Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 80 - Aura tahu semuanya


__ADS_3

"Uweekkk, uwekkkk, uwekkk."


Rendra memuntahkan isi perutnya di pagi hari di wastafel. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Sudah sedikit asupan makanan yang masuk ke mulut, eh malah dikeluarkan. Seolah-olah perut pun menolak makanan tersebut untuk dicerna oleh saluran pencernaan.


"Maa, mama!" teriak Rendra dengan sisa tenaga yang ada.


Sudah menunggu lama, Naya tak muncul-muncul juga ke kamarnya. Rendra pun memanggil kembarannya yang kamarnya berada di sebelahnya.


"Elaaa!" panggil Rendra sambil memukul-mukul pelan tembok dinding yang menyatu dengan kamarnya.


Namun, ternyata sama saja, Ela pun tak kunjung datang ke kamarnya.


Rendra memuntahkan lagi isi perutnya. Rasanya ia seperti mau mati saja. Badannya melemas. Mau berjalan pun tak ada tenaganya.


"Aih! Kemana semua orang di rumah ini! Mama!" Rendra terus berteriak kencang.


Brak!


Pintu kamar terbuka.


Ela masuk ke dalam kamar kembarannya. Ia terkejut melihat keadaan Rendra yang mengenaskan. Ia langsung membantu Rendra untuk kembali berbaring di tempat tidur.


"Makanya kalau disuruh makan itu makan! Jangan sok-sokan. Jadi sakit begini kan?"


Bukannya memberi perhatian Ela malah memarah-marahi Rendra.


"Berisik! Pusing kepalaku tahu!"


"Huh! Keras kepala sih!"


Baru saja Ela akan pergi, Rendra kembali merasakan mual dan bertatih-tatih ke wastafel. Ela yang melihat itu langsung membantu Rendra dengan memijat tengkuk leher Rendra.


"Masuk angin ya? Makanya muntah-muntah gini?" tanya Ela.


"Mana kutahu! Panggil dokter cepat! Kau ini banyak tanya sekali!"


"Hiii! Kesal sekali aku padamu!"


Walaupun kesal-kesal begitu, Ela tetap memanggilkan dokter untuk Rendra. Ia juga merasa khawatir melihat Rendra yang sudah seperti mayat hidup.


Tak lama dokter pun sudah datang dan langsung memeriksa Rendra.


"Kembaran saya kenapa dok? Masuk angin ya? Atau kena maag? Atau jangan-jangan kena asam lambung ya dok?"


Ela terus bertanya hingga membuat si dokter yang mau menjawab jadi terdiam.


Tangan Rendra mencubit tangan kembarannya itu.


"Aw, sakit tahu! Kau ini sedang sakit saja masih menyebalkan!"


"Em, begini. Dari yang saya periksa, Tuan Rendra tidak kenapa-kenapa. Dia baik-baik saja."

__ADS_1


"Lah? Dok? Dokter tidak lihat kembaran saya sudah seperti mayat hidup? Kok bisa dia disebut baik-baik aja?" tanya Ela yang keheranan.


"Em, ini hanya perkiraan saya saja. Sepertinya istri Tuan Rendra sedang hamil dan yang mengalami gejalanya adalah Tuan Rendra. Tapi, untuk memastikan semuanya. Lebih baik istrinya Tuan Rendra langsung periksa saja ke dokter kandungan."


Mendengar itu semua, Rendra langsung terkejut.


"Kalau begitu saya permisi dulu."


Si dokter pun pergi dari kamar Rendra.


"El, kalau Aura benar hamil gimana?" tanya Rendra dengan polosnya.


"Gimana apanya? Kau kan suaminya, kalau Aura hamil ya dijaga lah. Aneh! Dasar suami tidak peka!"


"Bukan itu maksudku?"


"Terus?"


"Kalau semisal Aura tidak tahu dia hamil, terus dia stres karena masalah rumah tangga ini. Bukankah itu akan mengganggu kehamilannya? Yang aku takutkan itu, ya itu. Aku yakin kalau anak yang dikandungnya adalah anakku karena akulah yang mengalami gejalanya."


"Jadi, maksudmu kalau bukan kau yang mengalami gejalanya, kau tidak akan mengakuinya? Begitu? Dasar suami kejam!"


Haduh! Salah bicara deh! Kenapa sih anak papa Richard semuanya gampang emosi?!


"Hih! Pergi keluar sana! Aku bisa mati muda kalau terus berbicara denganmu!"


"Bye! Aku juga bisa mati muda kalau terus melihatmu yang butek kaya gitu."


Brak!!


"Astaga! Mimpi apa aku punya kembaran bar-bar seperti itu?! Huh!"


Lalu pikiran Rendra kembali ke masalah rumah tangganya. Sampai saat ini Aura belum diketahui keberadaannya. Rendra jadi frustasi dan merengut.


"Kau dimana Au? Pulanglah! Aku janji setelah ini akan melakukan apapun yang kau mau? Aku janji akan berusaha mengontrol emosiku. Aku janji tidak akan membuatmu bersedih lagi."


Tes


Tes


Air mata mulai menetes dari matanya. Sambil menatap ke luar jendela, Rendra mengingat ketika Aura ada di sisinya.


Sekarang rasanya hampa. Aura menghilang dari hadapannya. Hidupnya jadi tak semangat. Bahkan makan pun rasanya tak enak.


*


*


Aura merasa bosan di dalam rumah Sena terus-menerus. Ia ingin pergi keluar dan berjalan-jalan walaupun sebentar. Tanpa ditemani oleh Sena, Aura pergi ke restoran tempat Meira bekerja.


Beruntungnya, Meira lah yang saat itu jadi kasirnya. Wanita itu tersenyum senang ketika melihat Aura datang.

__ADS_1


"Ayam bakar madunya satu ya," ucap Aura.


"Ada tambahan lagi?" tanya Meira.


"Eum, tidak ada."


"Baik, ditunggu pesanannya ya."


Aura mengangguk kemudian membayar pesanannya dan memilih tempat duduk.


Setelah menunggu lama, Meira datang untuk membawakan pesanan Aura.


"Boleh aku bicara?"


Aura mengangguk.


"Sebelumnya aku ingin kau tahu dulu, siapa aku."


"Lah, kira kan sudah saling kenal kak. Kak Meira kan?"


"Eum, maksud aku bukan yang itu Au. Aku adalah mantan istri Elnan, kakaknya Rendra."


Aura langsung terbengong mendengar fakta tersebut. Ingatannya langsung terputar pada cerita yang pernah mama mertuanya ceritakan.


"Ah, tapi rasanya tidak mungkin, kalau kak Meira berselingkuh," ucap Aura yang tanpa sadar bersuara.


Saat sadar, Aura langsung membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.


Meira tersenyum mendengarnya.


"Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Aku hanya tidak ingin kau memilih keputusan yang salah."


Meira pun menceritakan tentang kisah rumah tangganya dan Elnan pada Aura. Ia juga menceritakan tentang kedatangan Naya yang memintanya untuk menjelaskan ke Aura bahwa mungkin semua ini adalah jebakan dari orang yang iri dengan keluarga Richard.


"Jadi, aku harap kau jangan sampai berpisah dengan Rendra. Semua masalahmu sedang diusut tuntas oleh keluarga Rendra. Kata mama Naya, jika kau masih ingin menyendiri. Tak apa, asalkan kau memberikan kabar mu dan dimana kau tinggal selama beberapa hari ini."


Aura langsung menangis seketika. Ia tidak habis pikir dengan orang yang tega sekali menghancurkan rumah tangganya.


"Terima kasih sudah memberitahu aku informasi ini. Aku akan memberikan kabar ke mama Naya. Tapi memang aku masih belum ingin pulang. Kata-kata Rendra waktu itu sangat-sangat menyakitkan. Aku tahu, aku memang awalnya wanita bayaran. Tapi aku tidak serendah itu."


Meira mengusap pelan punggung Aura, mencoba memberikan dukungan. Kondisinya dan Aura adalah sama. Sama-sama masih menyimpan rasa sakit akibat ucapan kejam sang pasangan.


"Iya, pulanglah saat kau sudah merasa baik-baik saja. Kalau begitu aku kembali bekerja ya. Nikmati makananmu."


Aura mengangguk dan langsung menikmati makanannya. Ia jadi memiliki nafsu makan yang tinggi. Padahal, tadi ia sudah makan di rumah Sena, tapi menjelang siang, ia jadi lapar lagi dan ingin makan ayam bakar madu. Ah, mungkin karena ada makhluk hidup di dalam perutnya makanya nafsu makannya meningkat.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2