Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 103 - Hamil


__ADS_3

9 bulan telah berlalu, Meira kini tengah hamil dengan usia 8 bulan. Sementara Aura kini hamil usia 7 bulan.


Kedua ibu hamil itu jadi sering bercerita seputar kehamilan mereka. Serta apa saja yang mereka lakukan untuk mengerjai suami mereka dengan pura-pura mengidam.


Mereka bercerita sambil ketawa-ketiwi di kediaman Kavindra. Setelah mengetahui menantunya hamil, Naya bersikeras untuk membuat anak dan menantunya tinggal lagi di rumah. Dengan alasan biar dia bisa ikut membantu menjaga menantunya. Tentu saja baik Elnan maupun Rendra tidak menolak. Ia malah senang, karena dengan begitu, istri mereka bisa belajar banyak hal dari sang mama yang sudah berpengalaman.


"Lagi ngobrolin apa? Sepertinya asik sekali?" tanya Naya yang tiba-tiba datang dan langsung nimbrung.


"Hehe, biasa ma, seputar kehamilan, ngidam, pola makan, tidur dan lain-lain," jawab Aura.


"Em begitu. Dulu pas mama hamil si kembar, yang ngalamin gejalanya papa Richard dan yang kebanyakan ngidam juga dia. Jadi, mama tidak terlalu banyak mengalami ngidam," ucap Naya.


"Kalau aku, aku malah sering ngidam ma. Malah kadang, aku sengaja pura-pura ngidam supaya Rendra mau beliin aku ini dan itu, hehe," balas Aura sambil diakhiri dengan tawa.


Naya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kalau kau gimana Mei?"


"Aku juga sama sih kaya Aura. Habisnya Elnan jadi sibuk banget ma sekarang. Padahal kan aku juga ingin diperhatikan."

__ADS_1


"Ya, namanya ibu hamil perasaannya jadi sangat sensitif," ucap Naya menanggapi lagi.


"Yang penting mah, kandungan kalian baik-baik saja. Dan janinnya juga sehat di dalam perut. Itu saja sudah sangat membahagiakan. Apalagi usia kehamilan kalian yang cuma berbeda 1 bulan. Uh, mama jadi tidak sabar untuk segera gendong cucu."


"Iya ma, untungnya bayinya sehat-sehat di dalam perut. Aku juga jadi tidak sabar ingin melihat wajah anakku. Kira-kira lebih mirip sama aku atau sama Rendra, hehe."


Kini Naya geleng-geleng kepala lagi.


*


*


"Sehat-sehat di dalam perut mama ya. Jangan nakal, jangan buat mamamu kecapean. Kau harus bisa jaga mama setelah nanti lahir ke dunia jagoan. Mama dan papa menantikan kehadiranmu,"


Aura tersenyum senang ketika Rendra mengajak janin yang ada di perutnya bicara. Perut Aura pun terasa bergerak, seperti sang janin yang ada di dalam mengerti ucapan Rendra.


"Wah, anak papa mulai mengerti ya."


"Iya papa," jawab Aura seolah mewakilkan sang anak di dalam perutnya.

__ADS_1


Keduanya jadi sama-sama terkekeh. Meski masih dalam kandungan, kehadiran si janin membuat kebahagiaan di dalam rumah tangga Aura dan Rendra jadi bertambah. Bahkan keduanya jadi semakin romantis dan jadi tak mau jauh satu sama lain. Entah karena efek ada sang bayi, atau memang sudah dari sananya bucin tidak tertolong.


Waktu sudah semakin malam, Rendra memeluk perut sang istri hati-hati. Kemudian memejamkan matanya. Begitu juga dengan Aura.


Aura sudah sangat terlelap dalam tidurnya. Sementara Rendra, masih belum. Ia tadi hanya pura-pura memejamkan matanya saja supaya Aura ikut tidur juga. Karena semakin usia kehamilan bertambah Aura jadi semakin sulit untuk tidur tanpa adanya Rendra di sisi wanita itu.


"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah menemaniku sampai saat ini. Bahkan kau merelakan tubuhmu untuk berubah jadi gemuk. Di saat wanita-wanita di luar sana tidak ingin memiliki anak dan selalu memerhatikan penampilan."


Rendra mengecup kening Aura lalu dilanjutkan dengan kecupan di bibir Aura.


Rasa sayangnya pada Aura sudah tak terhitung lagi sebanyak apa. Intinya ia benar-benar sangat-sangat tidak mau kehilangan Aura di dalam hidupnya.


Lalu Rendra mencoba memejamkan matanya kembali. Kali ini matanya benar-benar terpejam dan tertidur dengan puasnya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2