
Di hari yang cerah, Rendra dan Aura pergi ke gedung yang akan dibangun menjadi tempat perbelanjaan. Disana Aura terus berjalan di belakang Rendra, karena Rendra yang serius berbicara dengan kepala mandor.
Tanpa diduga, ada sebuah papan kayu yang jatuh dari atas gedung tersebut bertepatan dengan keberadaan Aura di bawahnya. Rendra yang menyadari hal tersebut langsung menarik Aura ke dalam pelukannya.
Brak!
Suaran dentuman papan kayu yang jatuh.
"Apa ada yang terluka? Apa serpihan papan kayu tadi mengenai mu?" tanya Rendra dengan penuh kekhawatiran sambil memegang tangan dan wajah Aura untuk memastikannya. Lalu setelahnya,
"Kau ini bagaimana sih Au?! Makanya kalau jalan itu liat kanan kiri, atas bawah!" marah Rendra tiba-tiba.
Aura hanya terdiam dengan wajah terkejutnya. Ia terkejut dengan kejadian jatuhnya papan kayu tersebut juga dengan sikap Rendra yang terkesan berlebihan padanya.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku," ucapnya dengan tulus.
"Ya, kau memang harus selalu berterimakasih padaku. Ayo kita tinggalkan tempat ini!" ajak Rendra sambil menarik tangan Aura.
Rendra mengantarkan Aura ke dalam mobilnya sambil memberi Aura sebotol air mineral. Sementara dirinya, kembali lagi ke pembangunan gedung dan memarahi karyawannya.
"Bagaimana bisa papan kayu jatuh begitu saja!? Kalau tadi saya tidak sempat menolongnya, mungkin situasinya akan berbeda! Tolong kerja itu yang benar!" marah Rendra ada bawahannya yang tadi tanpa sengaja menjatuhkan kayu tersebut.
"M-maafkan saya T-tuan. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap pegawai itu dengan gugup dan terbata-bata.
"Kepala mandor! Tolong disiplinkan pekerja mu yang ini! Aku yakin kau bisa mengatasinya," perintah Rendra.
"Baik Tuan."
Rendra pun pergi dari sana dengan perasaan kesalnya. Bagaimana bisa pekerjanya seceroboh itu. Bagaimana jika yang jatuh tadi adalah besi? Bagaimana jika ia tidak melihat papan yang jatuh itu? Mungkin saja Aura sudah berada di rumah sakit sekarang. Memikirkan itu membuat Rendra menggelengkan kepalanya tidak ingin berpikiran yang buruk.
__ADS_1
*
*
Elnan sedang berbicara berdua dengan Andrew di sebuah restoran dekat jalan. Mereka berdua membicarakan tentang sebuah hubungan antara pria dan wanita. Keduanya benar-benar lelah atas hubungan itu.
"Apa kau menyesal sudah memutuskan bercerai waktu itu?" tanya Andrew.
Elnan terdiam. Sejujurnya jika ditanya seperti itu ia pun menyesal. Tapi jika mengikuti kemauan hati, ia tidak ingin terus disakiti dengan adanya perselingkuhan di rumah tangganya. Namun, jika dilihat lagi ke dalam lubuk hatinya yang terdalam, Elnan tidak bisa mengelak bahwa ia masih sangat mencintai mantan istrinya itu.
"Menyesal si pasti. Bagaimana tidak? Aku mengenalnya sudah sangat lama sekali. Tapi dia dengan teganya berkhianat di belakangku, om," jawab Elnan.
"Lalu om sendiri gimana? Benar om mau cerai dengan Tante Stella? Setahu aku meski Tante Stella sikapnya kurang baik dia tidak berkhianat dengan pria lain."
Andrew menarik napas kasar. Memang benar apa yang diucapkan oleh Elnan. Tapi hatinya seperti sudah lelah menghadapi sikap Stella yang seolah merendahkannya, semaunya sendiri dan tidak mau mengikuti kemauan dirinya. Bahkan hampir tidak ada hari tanpa ia dan Stella bertengkar di rumah karena hal yang sebenarnya sepele. Ia tidak ingin batinnya terus terluka. Apalagi jika sampai anaknya melihat terus pertengkaran ia dan Stella. Sungguh Andrew tidak ingin mental anaknya menjadi down.
"Aku turut prihatin ya om, karena sebentar lagi ada yang jadi duda sepertiku," ucap Elnan seperti sebuah ledekan bukan rasa simpati.
"Ishh! Kau ini!" ucap Andrew kemudian mengalihkan penglihatannya ke jalan dan tanpa sengaja ia melihat Aura dan Rendra berada di dalam mobil yang sama dengan kaca mobil yang terbuka.
Tak lama mobil tersebut pun melaju dan membuat Andrew sedikit penasaran dibuatnya.
"El," panggil Andrew.
"Iya om," jawab Elnan.
"Apa Rendra sekarang punya pacar?"
Elnan sedikit mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Untuk apa om menanyakan hal itu padaku? Kenapa tidak tanya langsung saja pada orangnya?"
"Em, om tidak sengaja melihat dia di mobil bersama Aura."
"Om kenal Aura?"
Elnan jadi antusias bertanya karena sepertinya Andrew ini mengetahui sesuatu tentang Aura.
"Sedikit," jawab Andrew.
"Coba ceritakan sedikit. Dia orangnya seperti apa? Karena aku tidak ingin Rendra lagi-lagi salah dalam memilih wanita. Aku saja yang baru sekali dikhianati sampai seperti ini, aku tidak mau Rendra terus menerus disakiti."
"Sebenarnya Aura itu seorang wanita bayaran. Aku pernah menyewanya beberapa kali waktu itu," jawab Andrew.
Hal tersebut membuat Elnan melongo tidak percaya. Ia seakan tertimpa kenyataan yang berat.
"Om jangan becanda dong!" tukas Elnan yang masih belum bisa mempercayainya.
"Om tidak berbohong El. Memang Aura itu wanita bayaran. Kemungkinan Rendra juga adalah kliennya," jawab Andrew lagi membuat Elnan sedikit pusing pada kepalanya.
"Hah! Sepertinya aku harus pulang om. Aku mau menjernihkan pikiranku dulu. Bye om."
Elnan berjalan keluar dengan kepala pusingnya. Mendengar kata wanita bayaran saja sudah membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi Andrew sudah pernah menyewa Aura. Bertambah lah sudah pikiran buruk Elnan tentang Aura. Ditambah lagi, Aura yang baru putus beberapa hari dengan Evan bisa dengan mudah menjadi pacar Rendra. Pikiran Elnan benar-benar pusing dibuatnya.
*
*
TBC
__ADS_1