Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 72 - Foto dari nomor tidak dikenal


__ADS_3

Rendra telah sampai di luar kota. Ia pun menjatuhkan tubuhnya di ranjang lalu meraih ponsel yang ada di saku bajunya. Ia menghubungi Aura melalui panggilan video. Namun, tak mendapatkan jawaban dari Aura. Bahkan Rendra sampai berkali-kali menghubungi Aura.


"Hih! Kemana sih Aura? Kenapa tidak diangkat?"


Rendra kesal dan mulai rindu. Alhasil, ia pun memberikan pesan saja pada Aura.


*


*


Sementara di sisi Aura, wanita itu tengah tertidur dengan pulasnya di ruang tamu dengan televisi yang masih menyala. Ia benar-benar tidak tahu kalau Rendra menghubungi dirinya.


Ketika petang menjelang, Aura bangun dari tidurnya dan langsung mencari-cari ponselnya. Ia terkejut ketika mendapati banyak sekali panggilan video dan suara dari Rendra dan satu pesan disana.


Aku sudah sampai di hotel. Kau dimana sayang? Hm? Kenapa telepon dariku tidak diangkat?


"Astaga! Aku ketiduran sampai tidak mendengar suara dering telepon."


Aura pun segera menelpon balik Rendra dan langsung dijawab oleh Rendra.


Rendra memperlihatkan wajah kesalnya.


"Maaf sayang, aku tadi ketiduran ketika menonton sinetron di televisi. Aku bahkan tidak mendengar ada suara dering telepon darimu. Maaf ya?"


"Hm, baiklah, asalkan nanti ketika aku pulang, kau harus memberikan service terbaikmu. Aku ingin kau yang memulainya. Oke?"


Aura menelan ludahnya lalu mengiyakan keinginan Rendra.


Rendra tersenyum lalu merubah posisi tidurnya di atas ranjang.


"Sayang, aku rindu. Mau lihat boleh?"


"Lihat apa?"


"Itu yang di bagian depan tubuhmu yang kenyal-kenyal itu."


Aura sedikit terkejut.


"Eum?" Aura tampak berpikir keras.


"Ayolah sayang. Aku rindu mainanku."


Akhirnya Aura pun menyetujuinya. Ia memperlihatkan buah dadanya pada Rendra di panggilan video itu.

__ADS_1


"Ah, aku jadi tidak sabar ingin pulang. Aku ingin mer*masnya dan menggigitnya sayang."


"Makanya lakukan tugasmu disana dengan baik. Siapa tahu kan waktunya bisa dipercepat."


"Em, baiklah."


Rendra dan Aura pun terus melakukan panggilan video hingga kedua tertidur dengan panggilan video yang belum dimatikan.


Dasar pasangan bucin!


*


*


Keesokan harinya, Rendra menemui klien di perusahaan kliennya itu. Pembicaraan mereka terjadi dengan lancar. Bahkan si klien tampak senang dan bangga dengan kemampuan Rendra itu.


"Andai saja anda belum menikah. Mungkin saja saya akan merekomendasikan anak saya yang lulusan luar negeri pada anda. Sayang sekali, itu tidak bisa terjadi."


Rendra hanya tersenyum saja mendengarnya.


Baginya mau secantik apapun orangnya, mau setinggi apapun pendidikannya. Atau mau sekaya apapun wanita itu, jika tidak bisa menyentuh hatinya dan membuatnya nyaman. Tidak akan mampu memilikinya. Dan kini Aura lah yang mendapatkan hatinya dan mampu mencairkan dinginnya sikapnya dan kerasnya hatinya.


Karena pertemuan sudah selesai, Rendra pun pergi dari ruangan pemimpin perusahaan itu dan turun menaiki lift. Ketika keluar dari lift, ia tak sengaja ditabrak oleh seseorang hingga membuat orang itu menabrak tubuh Rendra dan ada bekas lipstik di kemeja putihnya itu.


"Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya."


Setelah mengatakan itu, Rendra pergi dari hadapan si wanita.


"Wah, baru kali ini aku ditolak seorang pria. Tapi wajahnya kenapa tidak asing? Apa aku pernah bertemu dengannya? Tapi wajahnya sangat tampan."


Wanita itu memuji Rendra. Ia berjalan dan memasuki ruangan ayahnya.


"Ayah!" panggil si wanita.


"Rona kenapa kau baru datang? Padahal tadi Rendra ada disini. Dia sangat tampan dan berkompeten. Kalau kau bisa mendapatkannya, perusahaan kita akan jadi perusahaan kedua terbesar setelah perusahaan Kavindra. Walau jadi yang kedua pun tak apa asal kau bisa masuk ke keluarga itu."


Rona mendengus sebal. Mau setampan apapun orangnya, jika ia hanya dijadikan orang kedua. Rona tidak mau. Ia ingin jadi satu-satunya.


"Ih, ayah apaan sih! Masa anaknya disuruh jadi pelakor! Maaf ayah aku masih bisa mendapatkan laki-laki lajang dan tidak mau jadi benalu di rumah tangga orang."


Sebenarnya si ayah sudah tahu jawaban anaknya. Hanya saja ia ingin tahu jawaban anaknya. Kalau anaknya mau jadi yang kedua. Ia akan benar-benar melakukan segala cara untuk membuat anaknya jadi bagian dari keluarga itu. Namun, karena anaknya menolak. Si ayah pun tak melakukan apapun.


*

__ADS_1


*


Aura di hari itu sedang bersama dengan Naya pergi ke panti asuhan untuk menjadi panitia lomba memasak untuk anak-anak panti.


Aura sangat senang melihat anak-anak panti yang memasak dengan sungguh-sungguh.


Hingga waktu memasak pun berakhir dan diumumkan siapa pemenangnya. Setelah itu, Aura mengobrol dengan Naya di sebuah bangku kosong di halaman di bawah pohon besar.


"Ma, terima kasih sudah mengajak aku kesini. Kegiatannya seru sekali. Aku bahkan tertawa dan bersedih bersamaan dengan melihat raut wajah anak-anak panti tadi. Pengalaman ini sangat istimewa bagiku," ucap Aura dengan jujur.


Naya tersenyum.


"Kebahagiaan memang tidak bisa diukur dengan kekayaan. Hanya melihat mereka tertawa bahagia saja sudah membuat rasa bahagia itu menular pada kita. Mama senang jika kau bisa merasakan itu semua."


"Iya ma. Ngomong-ngomong aku ingin tahu sesuatu ma. Apa kak Elnan belum menikah? Aku melihatnya selalu sendirian. Maaf, kalau aku tiba-tiba bertanya," yang Aura langsung merasa tidak enak.


Naya menarik napasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan menantunya itu.


"Kakak iparmu sudah pernah menikah dengan orang yang dicintainya. Namun, pernikahan itu harus kandas dan berkahir dengan perceraian. Istrinya dulu menggugurkan janin yang dikandungnya dan berselingkuh dengan pria lain. Itu yang mama dengar dari Elnan. Tapi, entah kenapa mama tidak bisa mempercayai itu. Karena mama tahu, kalau mantan istri Elnan tidaklah bukan orang sekejam itu yang bisa membunuh anaknya sendiri dan berkhianat dari pasangannya. Ia adalah wanita yang baik. Entah bagaimana kejadian sebenarnya. Tapi mama hanya bisa berdoa saja semoga Elnan bisa mendapatkan jodoh terbaik nantinya."


"Begitu ya ma. Aku pikir kak Elnan belum menikah. Ternyata susah bercerai. Semoga saja Kak Elnan segera dipertemukan dengan orang yang bisa setia dan mencintainya."


"Aamiin. Mama juga berharap demikian. Maka dari itu, mama minta tolong jika suatu saat nanti ada masalah di antaramu dan Rendra, tolong jangan memutuskannya dalam keadaan emosi. Pikirkan baik-baik semuanya dengan kepala yang sama-sama tenang. Mama harap pernikahanmu bisa berjalan dengan lancar dan bahagia hingga akhir."


"Iya ma, aku akan ingat saran dari mama."


Setelah lama berbincang, Naya dan Aura masuk ke panti asuhan untuk berpamitan pulang karena hari sudah mulai petang.


Ketika di dalam mobil, saat mama mertuanya tertidur, Aura mendapatkan satu pesan dari orang tidak dikenal.


Suamimu sedang bermesraan dengan wanita lain.


Lalu pesannya bertambah dengan sebuah foto yang dikirimkan oleh orang itu.


Foto dimana Rendra bertabrakan dengan seorang wanita. Fotonya terlihat sensual sekali seperti Rendra yang sedang memeluk wanita itu, padahal nyatanya tidak.


Jantung Aura berdetak begitu cepat. Ia takut pesan yang didapatkannya dari orang tidak dikenal benar adanya. Namun, ia tidak ingin langsung menanyakannya pada Rendra, ia tidak ingin membuat fokus Rendra terganggu. Jadinya, Aura memutuskan untuk menanyakan itu nanti setelah Rendra pulang dari luar kota.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2