Sentuhan Cinta Aura

Sentuhan Cinta Aura
Bab 58 - Selamat malam my fiance


__ADS_3

Seminggu pun berlalu, acara pertunangan Aura dan Rendra pun tiba. Di malam yang penuh dengan pernak-pernik cahaya, orang-orang datang dengan mengenakan pakaian terbaiknya.


Sebuah acara yang diminta sederhana, ternyata adalah acara mewah bagi Aura. Sederhananya dirinya dan keluarga Rendra beda sekali versinya. Aura pikir paling yang datang hanya sekita 30 orang saja. Rupanya yang datang hampir ratusan. Bahkan ada beberapa wartawan yang datang untuk meliput pertunangan mereka. Entah itu direncanakan atau memang dasar wartawannya saja yang punya telinga yang tajam.


Setelah pertukaran cincin, Aura dan Rendra ikut berbaur dengan yang lainnya. Sementara kedua orang tua Rendra menyambut tamu yang datang dan mengobrol.


"Aura, kau apakan sahabatku ini hingga sampai tergila-gila padamu?" tanya Ansel.


"Tidak aku apa-apa kan," jawab Aura.


"Kalian sudah pernah melakukan yang anu-anu ya?"


Rendra yang sudah tahu kemana arah pembicaraan Ansel langsung menggeplak punggung laki-laki itu.


"Sembarangan! Aku bukan kau ya!" kesal Rendra yang tidak terima.


"Haha. Ya, siapa juga yang bilang kau itu aku? Aneh!"


"Pilih kuburan apa rumah sakit?" tawar Rendra.


"Slow boy, jangan ngegas mulu. Ngegas nya nanti pas udah di ranjang."


Lagi-lagi sebuah pukulan melayang ke punggung Ansel.


"Jangan bicara yang aneh-aneh di depan Aura!" bisik Rendra pada Ansel.


"Ya, ya, ya, ya. Ngomong-ngomong apa kalian akan langsung menikah? Berapa jangka waktunya dari pertunangan ini? Sebulan? Dua bulan? Atau jangan-jangan malah 3 hari lagi?"


"Masih dicari waktu yang pas nya. Tapi tidak akan lama dari pertunangan dan juga masih di tahun yang sama," jawab Aura.


"Jangan lupa kabarin. Aku siap jadi MC atau apapun itu di acara resepsinya. Asalkan ada biayanya, hehe."


"Lebih baik sewa yang lebih ahli sekalian daripada menggunakan mu malah akan merusak acara," sindir Rendra dengan tatapan tajamnya.


"Ish! Kau ini."


Dua sahabat itu memang kalau sudah bertemu seperti anjing dan kucing.


Beralih ke Alin, ia sedang menikmati hidangan yang ada di acara pertunangan kakaknya.


"Wah, makanan enak dan mahal semua ini mah. Keluarga kak Rendra kaya sekali. Kak Aura beruntung mendapatkannya," ucap Alin lalu memasukan makanan ke mulutnya.


Wanita itu terus mencicipi satu per satu makanan dari banyaknya menu yang tersedia. Bahkan ada berbagai jenis makanan penutup juga yang disuguhkan.

__ADS_1


"Amazing! Aku seperti datang ke restoran bintang 5."


Saking asiknya makan, Alin sampai tidak sadar jika ada Ela yang berjalan mendekat padanya.


"Enak makanannya?" tanya Ela yang tiba-tiba datang.


"Eh, Kak Ela. Hehe, iya ini mah enak semua. Makanan kelas atas."


Ela hanya meng*lum senyum.


"Nikmati saja semuanya Lin. Kata Aura kau ambil jurusan fashion design ya?" tanya Ela.


"Iya kak, soalnya aku suka menggambar pakaian sejak kecil."


"Sekarang sudah sampai mana tugas akhirnya?" tanya Ela lagi.


"Sudah di bab 3 kak, sampai sekarang aku masih agak kebingungan mencari-cari referensi untuk tugas akhirku."


"Kau boleh datang ke butik ku sebagai referensi tugas akhirmu. Aku juga punya beberapa buku dan jurnal bekas aku kuliah dulu. Aura sudah tahu dimana butikku."


"Apa boleh?"


Ela mengangguk.


"Terima kasih kak."


Setelah acara selesai, wartawan sudah berkerumun di luar gedung dengan menanyakan banyak hal tentang aura dan Rendra.


"Tuan Rendra, bagaimana pertemuan anda dengan tunangan anda?"


"Kapan rencana pernikahan akan dilangsungkan Tuan Rendra? Apa dalam waktu dekat?"


"Tolong jelaskan siapa nama tunangan anda Tuan Rendra? Apa pekerjaannya dan dari keluarga mana dia berasal?"


Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Rendra pusing dan enggan menjawab. Ia hanya berlalu dan tak menjawab satu pun pertanyaan para wartawan.


Para wartawan pun tak mendapatkan berita apapun di malam itu kecuali pertunangan Rendra dengan wanita cantik dan belum diketahui nama dan latar belakang keluarganya.


Di perjalanan, Rendra dan Aura berada di dalam satu mobil. Tentunya tidak hanya ada Aura dan Rendra saja, ada Alin dan juga Sena. Ketiga wanita itu akan diantarkan oleh Rendra ke rumah Aura.


Setelah sampai di rumah Aura, Alin dan Sena sudah masuk ke dalam rumah, sementara Aura masih di luar bersama Rendra.


"Setelah ini langsung bersih-bersih badan dan istirahat lah. Besok kita bertemu lagi. Selamat malam my fiance," ucap Rendra lalu mengecup kening Aura.

__ADS_1


Rendra berjalan masuk ke mobilnya dan tersenyum kepada Aura. Ia melajukan mobilnya ketika Aura sudah masuk ke dalam rumahnya.


*


*


Di kediaman Kavindra, hadiah yang diberikan dari teman-teman Rendra dan Aura sudah dibawa ke rumahnya. Rencananya besok baru akan dibuka bersama dengan Aura. Namun, salah satu pelayan di rumahnya tanpa sengaja menyenggol tumpukan hadiah itu, dan jatuhlah sebuah kotak hingga memperlihatkan isinya.


"Aaaa," teriak si pelayan itu.


Rendra yang baru saja datang langsung menghampiri suara teriakan itu dan terkejut ketika melihat kotak yang berisi sebuah ancaman, dan potongan jari. Entah itu jari asli atau palsu. Tapi, ada darah yang berceceran di dalam kotak itu.


Selamat atas pertunanganmu. Acaranya sungguh mewah sekali. Aku sampai terpana melihatnya. Tunggulah, masih ada kejutan lain dariku.


Itulah isi dari surat yang ada di dalam kotaknya. Tangan Rendra mengepal dan marah. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan kado ancaman ini. Ia hanya bersyukur, Aura tidak tahu soal ini. Kalau saja kotak ini dibuka esok hari, pasti Aura akan ketakutan.


"Tolong bersihkan lantainya dan buang saja kadonya!" perintah Rendra ada si pelayan.


"Baik tuan."


Di saat Rendra akan naik ke atas, Richard turun dari tangga dan menanyakan apa yang terjadi. Tadi ia tidak sempat turun karena sedang memakai pakaian.


"Ada apa Ren? Kenapa papa dengar teriakan wanita?"


Rendra menghela napas pelan kemudian menjelaskan semuanya pada papanya.


Richard terkejut dan mencoba menerka-nerka siapa orang yang mengirimkan hadiah itu.


"Apa kau punya banyak musuh Ren?"


"Kalau musuh pasti ada lah pa. Tapi kan aku tidak tahu siapa orangnya."


"Mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati Ren. Menurut papa orang ini bukanlah orang sembarangan. Jangan lupa, berikan penjagaan ketat pada Aura. Tugaskan beberapa penjaga untuk mengawasi Aura dari jarak dekat tapi jangan sampai ketahuan Aura."


"Iya pa. Aku juga sudah berpikiran begitu."


"Mandilah, papa akan ikut mencari tahu ini semua."


Rendra mengangguk dan menaiki tangga. Sementara Richard, laki-laki paruh baya itu terus memikirkan siapa orang yang sudah mengganggu anaknya.


"Siapa yang mengganggu anakku?"


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2